DI tengah dunia yang terus dibayangi perang, konflik identitas, polarisasi politik, dan ketegangan antarnegara, kebutuhan terhadap dialog dan diplomasi perdamaian semakin mendesak. Dunia Islam pun berada di tengah situasi tersebut. Konflik geopolitik, perbedaan kepentingan politik, serta ketegangan sektarian menunjukkan perdamaian tidak cukup dibangun hanya melalui kekuatan negara. Dibutuhkan pula ruang perjumpaan antarmasyarakat yang memungkinkan manusia dengan latar belakang berbeda untuk saling mengenal, berdialog, dan membangun kepercayaan.

Dalam konteks itu, Qatar memberikan pengalaman yang menarik. Negara kecil di kawasan Teluk tersebut memiliki posisi yang cukup penting dalam diplomasi internasional. Mediasi, dialog, dan penyelesaian konflik secara damai ditempatkan sebagai bagian penting dari kebijakan luar negerinya. Doha dalam beberapa tahun terakhir menjadi ruang komunikasi dan perundingan bagi berbagai konflik internasional.

Namun, Qatar juga menarik karena alasan lain. Negara itu merupakan tempat bertemunya masyarakat dari berbagai bangsa. Warga Arab, Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, Eropa, dan berbagai komunitas lainnya hidup berdampingan dalam satu ruang sosial. Bagi muslim Indonesia yang tinggal di Qatar, kehidupan diaspora dengan demikian bukan sekadar pengalaman bekerja di luar negeri. Ia merupakan perjumpaan langsung dengan wajah Islam global.

Di tengah ruang seperti itulah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama atau PCINU memperoleh relevansi yang lebih luas. PCINU tidak cukup dipandang sebagai perpanjangan organisasi NU di luar negeri. Ia berpotensi menjadi salah satu jalan global bagi Islam Indonesia, khususnya dalam memperkenalkan corak keberagamaan yang berakar pada tradisi ahlussunnah wal jamaah, ramah terhadap perbedaan, dan terbuka terhadap perjumpaan lintas budaya.

 

Prof Abdurrahman Mas’ud, Guru Besar UIN Walisongo Semarang, kerap memperkenalkan karakter Islam Indonesia sebagai ‘Islam yang ramah’. Ungkapan sederhana itu sebenarnya mengandung pesan yang penting. Keramahan bukan berarti kehilangan keteguhan dalam beragama. Justru dari keyakinan yang kukuh dapat lahir kemampuan untuk berjumpa dengan orang lain tanpa merasa terancam oleh perbedaan.

 

ISLAM INDONESIA DI TENGAH PERJUMPAAN GLOBAL

Selama hidup di Indonesia, perbedaan mazhab, budaya, dan tradisi Islam terkadang lebih banyak kita kenal melalui buku, ceramah, atau diskusi. Di Qatar, keragaman tersebut hadir setiap hari. Kita salat di masjid yang sama dengan muslim dari Mesir, Sudan, Pakistan, India, Banglades, Suriah, Yaman, Turki, Afrika, dan berbagai negara lainnya. Kita bekerja bersama mereka, bertetangga, berbelanja di tempat yang sama, bahkan anak-anak kita bersekolah bersama anak-anak dari bangsa lain. Di sinilah diaspora menjadi semacam laboratorium sosial Islam global.

Seorang muslim Indonesia akhirnya menyadari bahwa ekspresi keberagamaan umat Islam sangat beragam. Cara berpakaian berbeda, praktik keagamaan berbeda, tradisi keilmuan berbeda, bahkan dalam masalah fikih ditemukan praktik yang tidak selalu sama dengan kebiasaan masyarakat muslim Indonesia.

Pengalaman semacam itu penting karena mengajarkan bahwa identitas keislaman yang kukuh tidak harus melahirkan sikap tertutup. Seseorang dapat tetap berpegang teguh pada tradisi keagamaannya sekaligus menghormati tradisi muslim yang lain. Pada titik itulah konsep moderasi menemukan bentuknya yang konkret.

Moderasi tidak seharusnya berhenti sebagai slogan, jargon seminar, atau program birokrasi. Moderasi harus hadir dalam perilaku. Dalam tradisi Nahdlatul Ulama kita mengenal tawassuth

 atau sikap mengambil jalan tengah, tasamuh atau toleransi, tawazun atau keseimbangan, serta i‘tidal atau sikap tegak dan proporsional. Nilai-nilai tersebut bukan sekadar kosakata organisasi. Di tengah masyarakat global, ia dapat menjadi etika pergaulan.

Gagasan itu sejalan dengan pemikiran KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, yang sepanjang hidupnya menempatkan kemanusiaan, kebudayaan, dan penghormatan terhadap kemajemukan sebagai bagian penting dari keberislaman. Salah satu ungkapan yang sangat lekat dengan Gus Dur ialah bahwa ‘yang lebih penting dari politik adalah kemanusiaan’. Pesan tersebut menemukan relevansinya ketika muslim hidup sebagai diaspora. Di negeri orang, identitas keagamaan tidak hanya dibaca dari apa yang kita katakan tentang Islam, tetapi terutama dari bagaimana kita memperlakukan manusia lain.

Muslim Indonesia, karena itu, tidak perlu kehilangan identitasnya agar dapat diterima masyarakat dunia. Sebaliknya, identitas yang matang justru membuat seseorang tidak mudah merasa terancam oleh perbedaan. Kita dapat mempertahankan tradisi pesantren, penghormatan kepada ulama, amaliah ahlussunnah wal jamaah, kecintaan kepada Tanah Air, dan kekayaan budaya Nusantara tanpa harus merendahkan ekspresi Islam masyarakat lain. Itulah salah satu kekuatan Islam Indonesia.

Indonesia mempunyai pengalaman panjang dalam mempertemukan agama dengan kebudayaan. Pesantren, tarekat, organisasi sosial keagamaan, tradisi intelektual ulama Nusantara, serta kehidupan masyarakat muslim di tengah negara yang majemuk merupakan modal sosial yang sangat besar. Persoalannya ialah bagaimana kekayaan tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa global.

 

DARI DIPLOMASI QATAR MENUJU DIPLOMASI SOSIAL PCINU

Qatar memberikan pelajaran menarik tentang kekuatan dialog. Sebagai negara yang secara geografis kecil, Qatar menunjukkan bahwa pengaruh internasional tidak selalu ditentukan luas wilayah. Kemampuan membangun komunikasi, menjaga hubungan dengan berbagai pihak, dan menyediakan ruang dialog juga dapat menjadi sumber pengaruh.

Tentu saja posisi Qatar sebagai negara tidak dapat disamakan dengan PCINU sebagai organisasi masyarakat sipil. Keduanya bekerja pada level berbeda. Qatar menjalankan diplomasi negara, sementara PCINU bergerak dalam wilayah sosial, keagamaan, dan kebudayaan. Namun, terdapat titik temu yang menarik, yakni kepercayaan terhadap dialog.

Jika diplomasi negara berlangsung melalui meja perundingan, diplomasi masyarakat sipil berlangsung melalui perjumpaan antarmanusia. Dalam kajian hubungan internasional, praktik semacam itu dapat diletakkan dalam wilayah people-to-people diplomacy atau diplomasi antarmasyarakat. PCINU memiliki peluang besar di wilayah tersebut.

Bayangkan jika majelis ilmu PCINU tidak hanya menjadi tempat berkumpul warga nahdiyin, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan intelektual dengan ulama dan akademisi setempat. Bayangkan jika tradisi keilmuan pesantren diperkenalkan melalui diskusi dengan komunitas muslim dari negara lain. Bayangkan pula jika mahasiswa, pekerja profesional, akademisi, ulama, dan komunitas diaspora Indonesia dipertemukan dalam satu ekosistem pengetahuan.

Pada titik itu, PCINU tidak lagi hanya menjalankan fungsi organisasi. Ia sedang menjalankan diplomasi sosial Islam Indonesia. Diplomasi semacam itu tidak membutuhkan propaganda. Bahkan, Islam Indonesia sebaiknya tidak diperkenalkan melalui klaim bahwa tradisi kita lebih baik daripada tradisi Islam di negara lain. Sikap seperti itu justru bertentangan dengan semangat moderasi yang hendak diperkenalkan.

Di sini pandangan Syekh Yusuf al-Qaradawi, ulama yang menghabiskan sebagian besar perjalanan intelektualnya di Qatar, juga relevan. Dalam gagasan wasathiyyah, ia menempatkan keseimbangan sebagai salah satu karakter penting Islam, yakni tidak terjebak dalam sikap berlebihan pada salah satu kutub. Wasathiyyah bukan keberagamaan yang kehilangan prinsip, melainkan kemampuan menjaga prinsip sekaligus memahami kompleksitas kehidupan manusia.

Perspektif itu menarik jika dipertemukan dengan tradisi NU. Tawassuth, tawazun, tasamuh, dan i’tidal mempunyai ruang dialog dengan diskursus wasathiyyah yang berkembang lebih luas di dunia Islam. PCINU dapat menjadi salah satu ruang perjumpaan intelektual tersebut. Yang jauh lebih kuat daripada propaganda ialah keteladanan sosial.

Kemampuan menghormati perbedaan mazhab, keramahan dalam pergaulan, tradisi musyawarah, penghormatan kepada ulama, kecintaan kepada ilmu, serta kemampuan mempertemukan identitas keislaman dan kebangsaan dapat berbicara lebih kuat daripada slogan apa pun. Islam Indonesia dengan demikian hadir bukan untuk menggurui dunia Islam, melainkan untuk ikut menyumbangkan pengalaman.

Demikian pula diaspora Indonesia perlu datang dengan kesiapan belajar. Dunia Islam memiliki pusat-pusat keilmuan, tradisi intelektual, dan pengalaman sejarah yang sangat kaya. Berada di Timur Tengah seharusnya membuat diaspora semakin terbuka untuk menyerap pengetahuan tersebut dan membawanya kembali ke Indonesia. Hubungan itu harus berlangsung dua arah: memperkenalkan Indonesia kepada dunia sekaligus membawa pengetahuan dunia kembali kepada Indonesia.

 

PCINU SEBAGAI JALAN GLOBAL ISLAM INDONESIA

Karena itu, ukuran keberhasilan PCINU pada masa depan tidak cukup hanya dihitung dari banyaknya pengajian, peringatan hari besar Islam, atau kegiatan seremonial. Semua itu penting karena menjadi ruang menjaga tradisi dan mempererat jemaah. Namun, PCINU juga perlu bergerak menuju agenda yang lebih luas.

Riset, publikasi, kaderisasi intelektual, penerjemahan karya, dialog lintas mazhab, pertukaran pengetahuan, dan pembangunan jejaring dengan lembaga keagamaan serta perguruan tinggi setempat perlu menjadi bagian dari agenda PCINU di berbagai negara. Setiap PCINU sebenarnya memiliki kekayaan pengetahuan yang berbeda.

PCINU di Timur Tengah berhadapan langsung dengan pusat-pusat tradisi keilmuan Islam. PCINU di Eropa hidup dalam masyarakat dengan pengalaman sekularisasi, migrasi, dan multikulturalisme. PCINU di Asia Timur berhadapan dengan kebudayaan dan sistem sosial yang berbeda lagi. Jika pengalaman tersebut didokumentasikan dan dipertemukan, PCINU sedunia dapat menjadi jaringan pengetahuan Islam Indonesia yang sangat berharga. Di sinilah diaspora tidak boleh berhenti sebagai pengalaman individual.

Seorang mahasiswa yang belajar di luar negeri membawa pulang pengetahuan. Seorang profesional yang bekerja bertahun-tahun di lingkungan multinasional membawa pengalaman sosial. Seorang ulama yang berinteraksi dengan ulama berbagai negara membawa jejaring keilmuan. Bahkan seorang pekerja migran pun membawa pengalaman langsung mengenai kehidupan lintas budaya. Semua pengalaman tersebut merupakan modal pengetahuan.

PCINU dapat menjadi simpul yang menghubungkannya. Kita bahkan dapat membayangkan lahirnya forum intelektual PCINU sedunia, jurnal diaspora Islam Indonesia, pusat kajian Islam Nusantara global, program pertukaran ulama, hingga jaringan penelitian mengenai perkembangan masyarakat muslim kontemporer. Dengan demikian, PCINU tidak sekadar menjaga NU tetap hidup di luar negeri. Ia dapat membantu membawa khazanah NU masuk percakapan dunia.

Jalan global Islam moderat Indonesia memang tidak harus selalu bermula dari Jakarta dan tidak harus selalu berlangsung melalui diplomasi formal negara. Jalan itu dapat bermula dari masjid kecil tempat diaspora berkumpul, majelis ilmu, ruang kampus, forum akademik, tempat kerja, komunitas profesional, bahkan percakapan sederhana antara seorang muslim Indonesia dan sahabatnya dari bangsa lain.

Qatar memberikan satu pelajaran penting: ukuran geografis tidak selalu menentukan besarnya pengaruh. Kepercayaan, komunikasi, jaringan, dan kemampuan menyediakan ruang dialog dapat membuat sebuah negara kecil memainkan peran yang jauh lebih besar daripada ukuran wilayahnya. Pelajaran yang sama relevan bagi PCINU.

PCINU memang bukan negara dan tidak mempunyai perangkat diplomasi formal. Namun, ia mempunyai sesuatu yang tidak kalah penting: manusia. Ada ulama, akademisi, mahasiswa, profesional, pekerja, pengusaha, dan keluarga diaspora yang setiap hari berinteraksi langsung dengan masyarakat dunia. Jika modal sosial, intelektual, dan keagamaan tersebut dikelola secara serius, PCINU dapat menjadi salah satu jalan global Islam Indonesia.

Bukan untuk mengatakan bahwa Islam Indonesia ialah satu-satunya model bagi dunia Islam. Bukan pula untuk mengekspor bentuk keberagamaan Indonesia kepada masyarakat lain. Yang dapat kita tawarkan ialah sebuah pengalaman: bahwa seseorang dapat berpegang teguh pada tradisi sekaligus terbuka terhadap perbedaan; mencintai agamanya tanpa membenci identitas orang lain; serta menjaga keyakinannya sambil tetap membangun dialog dan perdamaian. Di tengah dunia yang semakin mudah terbelah oleh identitas, mungkin kontribusi terbesar diaspora muslim Indonesia justru terletak di sana. Membawa Islam Indonesia ke dunia bukan terutama dengan banyak berbicara tentang moderasi, melainkan dengan menghadirkannya dalam kehidupan. PCINU dapat menjadi salah satu jalannya.

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *