
PEMERINTAH mendorong penguatan ekosistem plasma di Indonesia untuk menjaga ketersediaan Produk Obat Derivat Plasma (PODP) yang dibutuhkan pasien dengan sejumlah kondisi medis. Upaya ini dinilai semakin penting karena pemahaman masyarakat mengenai donor plasma masih jauh lebih rendah dibandingkan donor darah.
Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, Lucia Rizka Andalusia, mengatakan penguatan ekosistem plasma membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, institusi kesehatan, layanan darah dan plasma, komunitas pasien, donor, hingga industri.
“Penguatan ekosistem plasma Indonesia dapat terwujud melalui kolaborasi antara pemerintah, institusi kesehatan, layanan darah dan plasma, komunitas pasien, donor, dan industri,” kata Lucia dalam rangkaian International Plasma Awareness Week (IPAW) 2026, di Jakarta, Rabu (7/10).
IPAW tahun ini mengusung tema global Plasma Powers Possibility dan menjadi momentum untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai plasma serta perannya dalam pengobatan.
Berbeda dengan obat yang dapat diproduksi melalui proses sintetis, bahan baku PODP berasal dari plasma manusia. Karena itu, ketersediaannya bergantung pada donor, sistem pengambilan plasma yang aman, proses pengolahan yang memenuhi standar, hingga distribusi terapi kepada pasien.
Ketua Umum Perhimpunan Hematologi dan Transfusi Darah Indonesia (PHTDI) sekaligus Perhimpunan Hematologi-Onkologi Medik Penyakit Dalam Indonesia (PERHOMPEDIN), Tubagus Djumhana Atmakusuma, mengatakan PODP berperan penting dalam pengobatan pasien dengan kelainan darah dan sejumlah kondisi medis lainnya.
Menurut dia, sebagian pasien memerlukan terapi dalam jangka panjang sehingga keberlanjutan pasokan menjadi faktor penting dalam pengobatan.
“Penguatan ekosistem plasma diperlukan untuk mendukung ketersediaan PODP yang memenuhi persyaratan mutu dan keamanan, serta didukung dengan bukti klinis yang memadai,” ujarnya.
Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi, mengatakan PODP antara lain dibutuhkan dalam perawatan pasien hemofilia dan imunodefisiensi primer.
Ia menilai peningkatan kesadaran masyarakat perlu berjalan beriringan dengan penguatan sistem pelayanan agar kontribusi donor dapat terhubung langsung dengan kebutuhan pasien.
Plasma Mencakup 55 Persen Volume Darah
Pakar Bank Darah dan Kedokteran Transfusi Teguh Triyono, menjelaskan plasma merupakan komponen terbesar dalam darah dan mencakup sekitar 55% dari keseluruhan volume darah.
“Plasma mengandung berbagai protein penting, antara lain albumin, antibodi, dan faktor pembekuan yang dapat diproses menjadi obat derivat plasma,” kata dia.
Menurut dia, pengambilan plasma berbeda dengan donor darah utuh. Dalam proses yang disebut apheresis, plasma dipisahkan menggunakan alat khusus, sedangkan komponen darah lainnya dikembalikan ke tubuh donor.
Plasma yang diperoleh selanjutnya dapat diolah menjadi berbagai produk terapi yang digunakan antara lain untuk pasien dengan hipoalbuminemia, gangguan perdarahan, dan imunodefisiensi.
Ketua Bidang Pengembangan Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat, Linda Lukitari Waseso, menilai keberadaan donor, praktik pengambilan plasma yang aman, serta kesiapan layanan darah dan plasma menjadi mata rantai penting dalam menjaga pasokan.
“Kolaborasi antara layanan darah dan plasma dengan pemangku kepentingan lain juga dibutuhkan agar plasma yang dikumpulkan dapat mendukung penanganan pasien yang membutuhkan PODP,” jelas dia.
Pasien Bergantung pada Keberlanjutan Terapi
Bagi komunitas pasien, persoalan ketersediaan plasma berdampak langsung terhadap kontinuitas pengobatan.
Plt. Bidang Layanan dan Wakil Ketua Bidang Finance Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI) Yusnidar Patah, yang juga hidup dengan Hemofilia B berat, menyoroti pentingnya akses pengobatan yang tepat waktu dan berkelanjutan. Termasuk bagi pasien di berbagai wilayah Indonesia.
Kebutuhan serupa disampaikan Ketua Yayasan Pasien Imunodefisiensi Primer Indonesia (YPIPI) Dimas Adhi Sugiharto. Pasien imunodefisiensi primer, kata dia, membutuhkan imunoglobulin secara rutin untuk mengurangi risiko infeksi berat berulang.
“Imunoglobulin dibuat dari plasma, sehingga ketersediaannya sangat bergantung pada donor plasma. Tantangan kami bukan hanya soal apakah terapi ini tersedia, tetapi juga apakah terjangkau dan bisa kami akses tanpa terputus,” kata Dimas.
Menurut dia, kesinambungan pasokan plasma berpengaruh langsung terhadap kemampuan pasien menjalani terapi dan mempertahankan kualitas hidup.
Sementara itu, Kepala Komunikasi dan Informasi Yayasan Laskar Aferesis Berbagi (YLAB), Mila Rahmania, mengatakan peningkatan jumlah donor tidak cukup dilakukan melalui ajakan berdonor semata.
“Masyarakat juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai fungsi plasma, proses donasi, serta dampak kontribusi mereka terhadap pasien,” kata dia
Komunitas donor, menurut Mila, dapat berperan dalam meluruskan kesalahpahaman mengenai donor plasma sekaligus membangun komunikasi dengan komunitas pasien dan tenaga kesehatan.
Pengembangan Infrastruktur Plasma
Dalam upaya memperkuat ekosistem plasma nasional, PT Takeda Life Sciences menyatakan akan mendukung pengembangan jaringan pengambilan plasma di Indonesia dengan mengacu pada standar mutu, keamanan, dan ketentuan regulasi yang berlaku.
Presiden Direktur PT Takeda Life Sciences Andreas Gutknecht mengatakan pengembangan ekosistem plasma menjadi salah satu unsur penting dalam memperkuat sistem kesehatan, terutama bagi pasien dengan penyakit kompleks dan mengancam jiwa.
“Kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan berbagai pemangku kepentingan dalam mendukung prioritas kesehatan jangka panjang Indonesia,” katanya.
Penguatan ekosistem plasma kini menjadi tantangan yang melibatkan seluruh rantai layanan, mulai dari edukasi dan partisipasi donor, pengambilan serta pengolahan plasma, hingga ketersediaan PODP di fasilitas kesehatan.
Di tengah kebutuhan pasien yang memerlukan terapi secara terus-menerus, keberlanjutan sistem tersebut menjadi krusial agar akses terhadap obat berbasis plasma tidak terputus. (Z-10)
