Mahasiswa Kontrak di Persimpangan Kuliah dan Kerja
Dwi Maulida, Mahasiswa Prodi Manajemen Program Sarjana Universitas Pamulang.(dok.istimewa)

PERSAINGAN global yang kian ketat menempatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sebagai salah satu penentu utama keberhasilan organisasi. Di tengah tuntutan tersebut, muncul fenomena yang semakin lazim di dunia kerja: mahasiswa aktif yang menjalani pekerjaan sebagai karyawan kontrak. Alasannya beragam. Sebagian ingin mandiri secara finansial, sementara sebagian lainnya ingin mengumpulkan pengalaman profesional sebelum lulus.

Namun, menjalankan dua peran sekaligus bukan perkara ringan. Mahasiswa pekerja dituntut tetap cakap sebagai pelajar sekaligus andal sebagai pegawai. Pada akhirnya, kinerja mereka di tempat kerja sangat dipengaruhi oleh dua hal: kemampuan mengelola stres dan sejauh mana lingkungan kerja memahami kondisi mereka.

Pemandangan semacam ini mudah ditemui, mulai dari mahasiswa yang menjadi kasir kafe, melayani pelanggan di gerai ritel, hingga bekerja sebagai staf administrasi paruh waktu. Status sebagai karyawan kontrak membuat posisi mereka relatif tidak sekuat pegawai tetap, sehingga tuntutan untuk selalu menunjukkan kinerja terbaik dapat terasa semakin besar.

Beban ganda yang menekan

Istilah beban ganda (double burden) cukup tepat untuk menggambarkan kondisi tersebut. Pagi hingga siang, mereka bergulat dengan jadwal kuliah, tugas, dan ujian. Sore hingga malam, mereka berhadapan dengan target, tenggat waktu, dan aturan perusahaan. Tidak selalu tersedia waktu yang cukup untuk benar-benar beristirahat dan memulihkan tenaga.

Bayangkan seorang mahasiswa semester akhir yang harus menyelesaikan skripsi sambil menjalani shift malam. Ketika pekan ujian bertepatan dengan akhir bulan yang padat pekerjaan, tubuh dan pikirannya seolah dipaksa berlari di dua lintasan sekaligus.

Stres sebenarnya tidak selalu buruk. Tekanan dalam kadar yang wajar (eustress) dapat memacu semangat dan mendorong seseorang bekerja lebih baik. Persoalan muncul ketika tekanan berubah menjadi distress dan dibiarkan menumpuk. Konsentrasi menurun, tubuh dan pikiran mengalami kelelahan, bahkan dapat berujung pada burnout. Kesalahan kerja (human error) pun semakin mungkin terjadi. Pada kondisi tersebut, produktivitas harian dapat merosot tajam.

Lingkungan kerja: penopang atau penekan?

Di sinilah lingkungan kerja memainkan peran penting. Lingkungan kerja dapat menjadi penopang (enabler) yang membantu meringankan beban, tetapi juga dapat menjadi penekan (stressor) yang justru memperberat tekanan. Setidaknya ada dua dimensi yang perlu dicermati.

Dimensi pertama adalah lingkungan fisik, mulai dari pencahayaan, tingkat kebisingan, kebersihan, hingga kenyamanan meja dan kursi dari sisi ergonomi. Bagi mahasiswa yang sudah lelah setelah menjalani aktivitas perkuliahan, fasilitas kerja yang buruk dapat mempercepat kelelahan fisik. Ruang yang terang, tenang, dan nyaman bukan sekadar kemewahan, melainkan bagian dari upaya menjaga stamina dan produktivitas karyawan.

Dimensi kedua adalah lingkungan nonfisik atau sosial, yang mencakup iklim komunikasi, budaya organisasi, hubungan antarrekan kerja, dan sikap atasan. Atasan yang memahami dinamika akademik, misalnya dengan menyesuaikan jadwal shift pada pekan ujian, dapat membantu mengurangi kecemasan karyawan. Rekan kerja yang kooperatif juga dapat menciptakan rasa aman secara psikologis (psychological safety). Ketika mahasiswa merasa dihargai dan dipahami, mereka akan lebih terdorong untuk memberikan kinerja terbaik.

Saling memengaruhi

Stres dan lingkungan kerja tidak berdiri sendiri. Keduanya saling berkaitan dalam menentukan kinerja. Ketika beban kerja dan tuntutan akademik memicu tingkat stres yang tinggi, lingkungan yang kondusif, fleksibel, dan suportif dapat berfungsi sebagai peredam tekanan. Kecemasan berkurang, konsentrasi terjaga, dan target kerja tetap dapat dicapai.

Atasan yang bersedia menyesuaikan jadwal shift ketika karyawan menghadapi ujian, misalnya, dapat membangun rasa percaya dan loyalitas. Dukungan semacam itu juga berpotensi mendorong mahasiswa bekerja dengan lebih teliti dan bertanggung jawab.

Sebaliknya, lingkungan yang kaku, sarat konflik, dan minim fasilitas justru dapat memperbesar tekanan akademik yang sudah ada. Stres meningkat, burnout semakin parah, dan ketidakhadiran (absenteeism) berpotensi meningkat. Mahasiswa yang merasa tidak didengar cenderung memendam masalah hingga akhirnya mengalami kelelahan dan memilih meninggalkan pekerjaan. Perusahaan pun harus menanggung kerugian yang sebenarnya dapat dicegah.

Yang perlu dilakukan perusahaan

Dengan demikian, tingkat stres dan kondisi lingkungan kerja menjadi faktor penting yang memengaruhi kinerja mahasiswa yang bekerja sebagai karyawan kontrak. Perusahaan tidak dapat memperlakukan mereka sepenuhnya sama dengan pegawai reguler tanpa mempertimbangkan tuntutan akademik yang juga mereka pikul. Setidaknya ada tiga langkah yang dapat ditempuh.

Pertama, menerapkan jam kerja yang adaptif. Skema shift yang dapat disesuaikan dengan jadwal kuliah dan ujian memberi ruang bagi mahasiswa untuk menjalankan kedua tanggung jawab secara lebih seimbang.

Kedua, membangun komunikasi dan sistem mentoring. Hubungan yang terbuka antara atasan dan mahasiswa memungkinkan berbagai kendala dibicarakan sebelum berkembang menjadi persoalan yang lebih besar. Komunikasi yang baik juga membantu perusahaan memahami kebutuhan karyawan tanpa mengabaikan target organisasi.

Ketiga, menyediakan fasilitas kerja yang ergonomis. Ruang dan peralatan kerja yang mendukung kenyamanan dapat membantu mengurangi kelelahan fisik dan menjaga produktivitas selama jam kerja.

Pengelolaan stres yang baik dan lingkungan kerja yang positif pada akhirnya menguntungkan semua pihak. Mahasiswa dapat bekerja dan belajar dengan lebih tenang, sementara perusahaan memperoleh tenaga kerja muda yang produktif, loyal, dan memiliki daya saing.

Perusahaan yang cermat semestinya tidak melihat mahasiswa pekerja sekadar sebagai tenaga kerja murah yang mudah digantikan, melainkan sebagai calon talenta yang berpotensi menjadi bagian penting dari organisasi di masa depan. Dalam jangka panjang, investasi pada kesejahteraan mahasiswa pekerja bukan hanya investasi bagi perusahaan, tetapi juga bagi peningkatan kualitas SDM bangsa. (P-3)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *