Dilema Mahasiswa Pekerja: Burnout Mengalah pada Ekonomi
Siti Hawa
Mahasiswa Program Studi Manajemen, Universitas Pamulang.(dok.istimewa)

“Aku capek, tapi aku belum boleh berhenti.” Kalimat itu mungkin terdengar akrab bagi mahasiswa yang kuliah pada pagi hari dan bekerja pada malam hari. Bukan karena mereka malas beristirahat. Bukan pula karena mereka tidak menyadari bahwa tubuhnya telah kelelahan. Hanya saja, tagihan tidak mau menunggu.

Bekerja sambil kuliah kini bukan lagi sebuah pengecualian. Biaya pendidikan, kebutuhan hidup, dan tanggungan keluarga mendorong banyak mahasiswa mencari penghasilan sejak dini. Di sisi lain, kuliah dan pekerjaan sama-sama menuntut waktu, tenaga, dan konsentrasi. Akibatnya, cadangan energi mereka cepat terkuras.

Yang jarang dibicarakan adalah bahwa istirahat bagi mahasiswa pekerja sering kali bukan pilihan yang sepenuhnya bebas. Tulisan ini membahas mengapa burnout kerap kalah oleh kebutuhan ekonomi sekaligus menimbang apa yang semestinya dilakukan perguruan tinggi untuk membantu mahasiswa menghadapi kondisi tersebut.

Lelah yang Bukan Sekadar Lelah

Burnout ditandai oleh tiga hal utama: kelelahan emosional, sikap sinis atau menjauh dari aktivitas yang dijalani, serta menurunnya rasa mampu. Pada mahasiswa, tanda-tanda tersebut dapat terlihat dalam bentuk kelelahan akibat tugas, kejenuhan terhadap perkuliahan, hingga perasaan tidak kompeten dalam menjalankan tuntutan akademik.

Selama ini, persoalan tersebut sering dibingkai semata-mata sebagai masalah manajemen stres. Seolah-olah solusinya cukup dengan mengatur diri secara lebih baik. Cara pandang seperti ini mengabaikan satu hal penting: tidak semua orang memiliki ruang dan kendali yang sama untuk mengatur dirinya.

Ketika Waktu Tidak Bisa Ditawar

Model tuntutan–sumber daya menjelaskan bahwa burnout dapat muncul ketika tuntutan yang tinggi tidak diimbangi dengan sumber daya yang memadai. Kondisi ketika tuntutan tinggi disertai kontrol yang rendah menjadi semakin berisiko terhadap kesehatan mental.

Mahasiswa pekerja hidup dalam situasi tersebut. Jadwal kerja, terutama sistem shift, sering sulit ditawar. Pada saat yang sama, presensi, jadwal perkuliahan, dan tenggat tugas tetap berjalan. Akhirnya, yang dikorbankan adalah satu-satunya bagian yang dianggap paling lentur: jam tidur dan waktu pribadi.

Ironisnya, justru kedua hal tersebut merupakan bekal penting untuk pemulihan. Ketika waktu pemulihan terus dikurangi, kelelahan tidak lagi menjadi kondisi sementara, tetapi dapat berkembang menjadi masalah yang berulang.

Mengapa Tetap Bertahan?

Lalu, mengapa mahasiswa tetap melangkah meskipun sadar bahwa dirinya lelah?

Manusia cenderung berusaha mempertahankan sesuatu yang dianggap berharga. Kehilangan sering kali terasa lebih mengancam daripada manfaat yang baru akan diperoleh di kemudian hari.

Bagi mahasiswa pekerja, penghasilan merupakan sumber daya vital. Melepaskannya demi memulihkan diri berarti mempertaruhkan kelangsungan studi, kebutuhan sehari-hari, bahkan kondisi ekonomi keluarga. Wajar jika ancaman yang terasa nyata hari ini lebih kuat daripada manfaat pemulihan yang baru dirasakan nanti.

Akibatnya, burnout dapat diperlakukan sebagai gangguan yang harus ditahan, bukan sebagai peringatan yang perlu didengar.

Kondisi ini kemudian mudah berubah menjadi sebuah spiral. Kelelahan menurunkan performa dalam kuliah maupun pekerjaan. Performa yang menurun menambah tekanan, mulai dari risiko mengulang mata kuliah hingga kemungkinan kehilangan pekerjaan. Tekanan tersebut kemudian memperbesar kelelahan. Tidak mengherankan jika burnout pada mahasiswa pekerja dapat menjadi kondisi yang menetap.

Lelah yang Dinormalisasi

Ada lapisan persoalan lain yang patut dicermati. Kelelahan kerap dianggap sebagai bukti kerja keras. Ungkapan seperti “namanya juga mahasiswa” membuat berbagai gejala kelelahan dipandang sebagai sesuatu yang wajar.

Padahal, kelelahan yang terus ditunda hanya memindahkan tagihannya ke masa depan. Bentuknya dapat berupa penurunan nilai, memburuknya kesehatan, hingga terhentinya studi.

Normalisasi tersebut juga berpotensi menyembunyikan ketimpangan. Sebagian mahasiswa dapat memusatkan tenaga untuk belajar karena biaya hidup mereka masih ditanggung keluarga. Sebagian lainnya harus membiayai kebutuhan pendidikan dan hidupnya sendiri. Bagi kelompok kedua, mereka seolah membayar pendidikan dua kali: dengan uang sekaligus dengan tenaga.

Dalam kondisi seperti ini, kelelahan menjadi biaya tak kasatmata dari pendidikan.

Nasihat yang Tidak Selalu Menolong

Kita kerap mendengar berbagai anjuran seperti mengatur waktu, berolahraga, atau berlatih mindfulness. Anjuran tersebut tentu memiliki manfaat. Namun, semuanya mengandaikan adanya waktu luang dan keleluasaan finansial.

Bagi mahasiswa pekerja, nasihat semacam itu dapat terdengar kosong, bahkan berisiko membuat mereka merasa seolah-olah menjadi pihak yang bertanggung jawab sepenuhnya atas masalah yang sebenarnya juga dipengaruhi oleh kondisi struktural.

Masalah yang berakar pada tekanan ekonomi tidak dapat diselesaikan hanya melalui perubahan kebiasaan pribadi. Kebiasaan hidup sehat tetap penting, tetapi tidak dapat menggantikan kebijakan yang mampu meringankan beban mahasiswa.

Tidak Semua Mahasiswa Pekerja Sama

Meski demikian, mahasiswa pekerja tidak dapat dipukul rata. Intensitas pekerjaan merupakan salah satu faktor penting. Jam kerja yang panjang cenderung mengganggu kehadiran, waktu belajar, dan capaian akademik.

Sebaliknya, pekerjaan yang selaras dengan bidang studi dapat memberikan pengalaman sekaligus penghasilan. Pekerjaan yang jamnya lebih fleksibel juga memungkinkan mahasiswa mempertahankan keseimbangan antara kuliah dan pekerjaan. Sementara itu, pekerjaan dengan jam panjang dan tuntutan tinggi yang tidak berkaitan dengan studi berpotensi lebih cepat menguras tenaga.

Karena itu, kondisi mahasiswa pekerja perlu dipahami secara lebih spesifik. Instrumen seperti School Burnout Inventory dapat membantu kampus memetakan tingkat kelelahan akademik mahasiswa. Namun, kajian yang secara khusus menghubungkan motif ekonomi dengan keputusan mahasiswa untuk tetap bertahan dalam kondisi burnout masih perlu diperluas, terutama dalam konteks Indonesia.

Dengan demikian, berbagai pandangan dalam tulisan ini tetap perlu diuji dan diperkaya melalui data lapangan.

Yang Bisa Dilakukan Kampus

Dukungan kepada mahasiswa pekerja perlu diwujudkan dalam kebijakan yang konkret.

Pertama, kampus dapat menyediakan kelas dengan pilihan jadwal yang lebih bervariasi sehingga mahasiswa memiliki kesempatan untuk menyesuaikan perkuliahan dengan jam kerja.

Kedua, dosen dapat memberikan kelonggaran tenggat waktu bagi mahasiswa yang memiliki alasan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan. Fleksibilitas semacam ini bukan berarti menurunkan standar akademik, melainkan memberi ruang bagi mahasiswa untuk memenuhi tuntutan akademik secara lebih realistis.

Ketiga, kampus dapat membuka kesempatan kerja internal, misalnya sebagai asisten laboratorium, asisten administrasi, atau tenaga perpustakaan, dengan jam kerja yang menyesuaikan jadwal kuliah. Pekerjaan semacam ini dapat membantu mahasiswa mempertahankan penghasilan tanpa harus mengorbankan waktu belajar secara berlebihan.

Langkah-langkah tersebut memang tidak akan menghapus beban ekonomi. Namun, setidaknya kampus dapat memberi mahasiswa sesuatu yang paling langka dalam situasi ini: kendali atas waktu.

Jemput Bola

Burnout pada mahasiswa pekerja bukan sekadar kegagalan dalam mengelola stres. Kondisi tersebut lahir dari tuntutan ganda, keterbatasan kontrol terhadap waktu, serta tekanan ekonomi yang membuat pemulihan terasa mahal.

Memilih untuk tetap bertahan bukan selalu tanda bahwa mahasiswa mengabaikan kesehatan dirinya. Dalam banyak kasus, keputusan tersebut merupakan respons rasional terhadap keterbatasan yang mereka hadapi, meskipun pilihan itu tetap membawa risiko bagi kesehatan dan keberlangsungan studi.

Karena itu, kampus perlu bergerak lebih jauh daripada sekadar memberikan imbauan untuk “mengatur waktu” atau “menjaga kesehatan mental”. Beasiswa dan bantuan biaya pendidikan yang tepat sasaran dapat memberikan dampak yang lebih nyata. Layanan konseling juga perlu dibuat mudah dijangkau oleh mahasiswa yang memiliki jadwal kerja padat.

Mahasiswa tidak semestinya dipaksa memilih antara kesehatan dan penghidupan. Mereka yang sedang lelah di antara tuntutan kuliah dan pekerjaan pantas mendapatkan satu hal: dukungan, bukan sekadar semangat. (P-3)

 



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *