
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperluas pemanfaatan biomassa dari bahan bakar pendamping pembangkit listrik menjadi bahan baku pengembangan compressed biomethane gas (bio-CNG) dan hidrogen hijau. Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan pengembangan tersebut menjadi bagian dari strategi PLN Group untuk meningkatkan pemanfaatan energi terbarukan sekaligus memperluas rantai nilai biomassa.
“Pada dasarnya, konsepnya adalah cofiring pembangkit. Bahan-bahan hayati kita kumpulkan, kita ambil, kemudian kita deploy ke pembangkit milik kita,” katanya dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Menurut Hokkop, pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) menjadi salah satu fasilitas yang relatif siap memanfaatkan biomassa karena karakteristik bahan bakarnya memungkinkan sebagian penggunaan batu bara digantikan dengan biomassa. Namun, pemanfaatan biomassa kini diarahkan lebih jauh, termasuk untuk menghasilkan produk energi lain.
“Perjuangannya masih panjang sampai 2030. Kita sudah agendakan pemanfaatan biomassa di PLN,” ujar Hokkop.
Salah satu pengembangan tersebut dilakukan melalui kerja sama PLN EPI dengan PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) dan PT Kis Biofuels Indonesia untuk mengembangkan bio-CNG dan/atau gas berbasis biomassa. Kerja sama tersebut memanfaatkan limbah organik, termasuk palm oil mill effluent (POME) dan limbah peternakan, sebagai bahan baku untuk menghasilkan biometana. Gas tersebut selanjutnya dapat diolah menjadi bio-CNG.
Dalam skema tersebut, PGN Gagas berperan sebagai off-taker atau pihak yang menyerap produk bio-CNG. Penandatanganan nota kesepahaman dilakukan oleh Hokkop Situngkir, Direktur Biomassa PLN EPI; Santiaji Gunawan, Direktur Utama PGN Gagas; dan KR Ragunath Kandikeri, Direktur PT Kis Biofuels Indonesia. Hokkop mengatakan proses pengembangan mencakup pengolahan metana hingga pembangunan reaktor dengan dukungan teknologi.
“Metananya kita ambil, kemudian kita ciptakan reaktor dan segalanya. Tentunya, dengan kerja sama dengan pihak teknologi, baru nanti kita bisa bertransaksi dengan PT Gagas,” kata Hokkop.
Biomassa Juga Diarahkan untuk Hidrogen
Selain bio-CNG, PLN EPI mengembangkan pemanfaatan biomassa untuk mendukung ekosistem hidrogen hijau. Kerja sama tersebut dituangkan dalam Nota Kesepahaman tentang Pengembangan Ekosistem Hidrogen Hijau Berbasis Biomassa di Indonesia bersama CISRI HY&POR Technology Co Ltd dan PT Pupuk Kujang Cikampek.
Nota kesepahaman itu ditandatangani Hokkop Situngkir selaku Direktur Biomassa PLN EPI, Gu Hu selaku General Manager CISRI HY&POR Technology, dan Panji Winanteya Ruky selaku Direktur Utama Pupuk Kujang Cikampek.
Hokkop menjelaskan, biomassa terlebih dahulu diproses melalui gasifikasi untuk menghasilkan gas. Dalam proses tersebut terdapat kandungan hidrogen yang kemudian dapat dipisahkan dan dimanfaatkan.
“Kita tahu kalau biomassa sudah digasifikasi, tentu ada hidrogen yang lepas di situ. Itu ditangkap dan akan dipakai oleh Pupuk Kujang sebagai off-taker,” ujarnya.
Menurut Hokkop, keberadaan off-taker menjadi salah satu unsur penting dalam pengembangan produk bioenergi karena memastikan terdapat pihak yang menyerap produk yang dihasilkan.
Dari Cofiring ke Produk Energi Bernilai Tambah
PLN EPI saat ini mengembangkan pemanfaatan biomassa dari berbagai sumber, mulai dari residu pertanian dan perkebunan hingga limbah organik. Pemanfaatannya tidak hanya diarahkan untuk program cofiring di pembangkit PLN, tetapi juga untuk menghasilkan produk energi lain seperti bio-CNG dan hidrogen.
Perluasan pemanfaatan tersebut membuat biomassa tidak hanya diposisikan sebagai substitusi sebagian bahan bakar batu bara di pembangkit, tetapi juga sebagai bahan baku dalam rantai produksi energi lainnya.
“Harapan kita, dua kerja sama ini bisa memperbesar bioenergi dan mempercepat cita-cita yang sudah dicanangkan dalam Permen ESDM dan juga secara internal di PLN Group,” kata dia.
Hokkop mengatakan pengembangan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatan biomassa sekaligus membuka peluang pengolahan residu menjadi produk energi dengan nilai tambah.
“Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah biomassa nasional, memperkuat ketahanan energi, sekaligus mempercepat transisi menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan,” jelas Hokkop. (Ant/E-3)
