Taruhan Besar Donald Trump pada AI, Ganti Istilah Jadi SI
Ilustrasi.(Magnific)

PRESIDEN Amerika Serikat Donald Trump mengadakan pertemuan penting di Gedung Putih pada Selasa (29/9) dikelilingi oleh para taipan teknologi yang memegang kendali atas masa depan planet ini. Di tengah meningkatnya peringatan dari perusahaan AI mengenai risiko bencana bagi kemanusiaan, Trump justru mengambil langkah yang mengejutkan yaitu rebranding.

Dalam pertemuan tersebut, Trump secara resmi mengumumkan perubahan istilah artificial intelligence (AI) menjadi SI yang merupakan singkatan dari Super Intelligence. “Kami telah mengubah namanya secara resmi hari ini menjadi SI. Anda tahu apa artinya? ‘Super’. Itu pengumuman yang cukup besar,” ujar Trump.

Trump menegaskan tidak akan ada perlambatan dalam penelitian AI. Ia menyatakan bahwa para pemimpin industri menandatangani janji untuk mengatur diri sendiri (self-police) yang bersifat mengikat secara moral.

Taruhan Geopolitik dan Ekonomi

Keputusan Trump untuk menolak regulasi ketat didasari oleh keyakinan bahwa AI adalah arena perlombaan dominasi melawan Tiongkok. Jika ia benar, langkah ini bisa memberikan kemenangan geopolitik bagi Amerika Serikat. Trump berargumen bahwa regulasi yang berlebihan justru akan mencekik industri yang sangat krusial bagi stabilitas ekonomi dan kemakmuran masa depan AS.

Namun, sikap ini memicu kekhawatiran publik. Berdasarkan jajak pendapat CNN/SSRS pekan lalu, sekitar 75% warga Amerika memandang pertumbuhan AI dengan rasa takut dan 71% menginginkan pemerintah federal berbuat lebih banyak untuk meregulasi teknologi ini. Selain masalah pekerjaan, masyarakat juga mulai merasakan dampak nyata seperti kenaikan tagihan listrik akibat konsumsi energi pusat data yang masif.

Catatan Kritis: Trump menyamakan kekhawatiran risiko AI sebagai hoaks Partai Demokrat. Sikap ini mengingatkan pada pendekatannya di awal pandemi covid-19 saat ia cenderung meremehkan ancaman nyata demi menjaga narasi stabilitas.

Oligarki Teknologi dan Kendali Mandiri

Pertanyaan mendasar yang muncul adalah apakah industri AI benar-benar bisa dipercaya untuk mengatur diri mereka sendiri. Sejarah menunjukkan bahwa raksasa teknologi jarang merasa bertanggung jawab secara penuh kepada warga atau pemimpin demokratis. Tokoh-tokoh seperti Elon Musk, yang kini menjadi pendukung finansial utama Trump, memiliki kekuatan luar biasa yang bahkan mampu memengaruhi opini publik dan pemilu.

Kristian Hammond, profesor ilmu komputer di Northwestern University, menekankan pentingnya kontrol eksplisit. “Anda hanya memasang pagar pembatas pada hal-hal yang rusak dan tidak berada di bawah kendali Anda. Saat ini, kita tidak memiliki kontrol eksplisit yang diperlukan untuk membuat AI menjadi efektif dan aman,” jelasnya.

Dominasi di Gedung Putih

Dalam jamuan makan siang tersebut, Trump menunjukkan dominasinya dengan duduk di antara Elon Musk (orang terkaya di dunia) dan Jensen Huang (CEO Nvidia). Ketika ditanya apakah para pemimpin teknologi setuju dengan penolakan regulasi, Trump langsung memotong dan menjawab, “Jawabannya adalah ya.”

Jensen Huang sendiri menepis ketakutan akan AI sebagai narasi kiamat dan menyatakan tidak ada konflik antara inovasi dan keamanan. Namun, dengan ekonomi dan masa depan dunia yang dipertaruhkan, taruhan besar Trump pada SI ini akan menjadi ujian sejarah apakah ia seorang visioner atau justru membawa risiko yang tak terbayangkan bagi kemanusiaan. (CNN/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *