Pangersa Sasar 1.832 Keluarga Rentan di Bandung
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyerahkan bantuan kepada warga melalui Program Pangersa.(Dok.Diskominfo Kota Bandung)

PEMERINTAH Kota Bandung, Jawa Barat, memperkuat intervensi pangan untuk menekan kerawanan pangan dan risiko stunting melalui Program Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (Pangersa). Tahun ini, program tersebut menyasar 1.832 keluarga rentan di sejumlah wilayah Kota Bandung.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung Gin Gin Ginanjar mengatakan Pangersa tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat berpendapatan rendah, tetapi juga mendorong penerima menerapkan pola konsumsi beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA).

“Pangersa ditujukan untuk mengurangi beban pengeluaran masyarakat berpendapatan rendah. Bantuan ini juga disertai edukasi agar keluarga memahami pentingnya konsumsi pangan yang beragam dan bergizi,” kata Gin Gin.

Dari total sasaran, sebanyak 1.232 keluarga masuk kategori Keluarga Rentan Rawan Pangan (KRP) yang tersebar di delapan kelurahan pada enam kecamatan. Sementara 600 keluarga lainnya merupakan Keluarga Risiko Stunting (KRS) yang tersebar di delapan kelurahan pada tujuh kecamatan.

Hingga 25 September 2026, Pemkot Bandung telah menyalurkan bantuan kepada seluruh 600 KRS atau sekitar 32,75% dari total penerima Pangersa tahun ini. Penyaluran bagi KRS dilakukan dalam dua tahap, yakni pada 8-9 September serta 18 dan 24 September 2026.

Selanjutnya, bantuan akan disalurkan kepada 1.232 KRP. Penyaluran tahap pertama bagi kelompok tersebut direncanakan berlangsung pada awal Oktober 2026.

Gin Gin mengatakan penetapan wilayah penerima Pangersa dilakukan berdasarkan data kerawanan pangan. Pemkot Bandung menggunakan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan atau Food Security and Vulnerability Atlas (FSVA) sebagai salah satu dasar penentuan lokasi intervensi.

Prioritas diberikan kepada wilayah dengan tingkat kerentanan pangan prioritas 1 atau sangat rentan, prioritas 2 atau rentan, serta prioritas 3 atau agak rentan. Penerima bantuan merupakan masyarakat miskin dan keluarga yang mengalami kerawanan pangan.

Kriteria penerima antara lain tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) desil 1-4. Penerima juga diprioritaskan bagi keluarga yang belum mendapatkan Program Keluarga Harapan (PKH) maupun bantuan pangan nontunai atau sembako.

“Untuk penanganan dan pencegahan stunting, sasaran diarahkan kepada KRS di wilayah lokasi stunting berdasarkan data dari DPPKB Kota Bandung. Penetapan penerima dilakukan berbasis data, selanjutnya diverifikasi serta divalidasi oleh unsur kewilayahan untuk memastikan bantuan tepat sasaran,” ujarnya.

Bantuan Pangersa terdiri atas sejumlah komoditas sumber karbohidrat dan protein hewani. Setiap paket mencakup beras lima kilogram, ikan lele satu kilogram atau sekitar 6-8 ekor, satu ekor daging ayam dengan berat sekitar 0,9-1 kilogram, serta 15 butir telur ayam.

Khusus keluarga berisiko stunting, paket bantuan juga dilengkapi sayuran. Beras yang disalurkan bersumber dari Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) Kota Bandung dan pengadaan pangan sesuai ketentuan program.

Pemkot Bandung menempatkan Pangersa sebagai bantuan stimulan dan edukatif. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam jangka pendek, tetapi juga meningkatkan pemahaman keluarga mengenai pola konsumsi sehat.

Pada 2026, penyaluran Pangersa dilakukan dua kali dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran daerah. Keamanan pangan juga menjadi bagian dari pelaksanaan program. Sebelum disalurkan, komoditas bantuan diperiksa oleh bidang terkait di DKPP Kota Bandung.

“Aspek keamanan pangan juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Sebelum disalurkan, pangan yang akan diberikan kepada masyarakat diperiksa oleh bidang terkait di DKPP Kota Bandung,” kata Gin Gin.

Pelaksanaan Pangersa melibatkan DKPP, Dinas Sosial, DPPKB, dan unsur kewilayahan. Kolaborasi dilakukan untuk memastikan akurasi data penerima, ketepatan penyaluran, serta keterkaitan intervensi pangan dengan program pengentasan kemiskinan dan penurunan stunting.

“Program ini sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun ketahanan keluarga melalui pemenuhan kebutuhan pangan yang cukup, bergizi, aman, dan terjangkau,” ujar Gin Gin. (E-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *