Tujuh Hobi untuk Menjaga Daya Ingat Lansia Menurut Neurosains
Ilustrasi.(Magnific)

BANYAK orang berusia di atas 60 tahun mengalami momen lupa yang serupa. mereka ingat nomor telepon rumah masa kecil, tetapi lupa alasan mengapa mereka baru saja berjalan ke dapur. Meski sering dianggap sebagai tanda penurunan permanen, neurosains menunjukkan bahwa otak di usia 60-an masih mampu menumbuhkan koneksi baru, bahkan sel-sel baru di wilayah tertentu.

Kunci dari ketajaman otak bukan terletak pada aplikasi brain training yang mahal, melainkan pada hobi biasa yang memiliki satu kesamaan: sulit dilakukan. Berikut tujuh aktivitas yang didukung oleh bukti penelitian untuk menjaga daya ingat tetap bekerja.

1. Mempelajari Fotografi Digital dari Nol

Studi oleh Denise Park di University of Texas, Dallas, terhadap 221 orang dewasa (usia 60-90 tahun) menemukan bahwa mempelajari keterampilan menantang seperti fotografi digital secara signifikan meningkatkan memori episodik. Rasa frustrasi saat mencoba memahami pengaturan kamera yang rumit justru menjadi poin pentingnya. Kelompok yang hanya bersosialisasi atau mengerjakan teka-teki mudah tidak menunjukkan peningkatan memori yang sama.

2. Belajar Instrumen Musik

Mengambil les piano di usia 60-an melatih fungsi eksekutif otak–sistem manajemen mental yang memutuskan informasi apa yang harus disimpan atau dilepaskan. Penelitian Jennifer Bugos di University of South Florida menunjukkan bahwa belajar instrumen lebih efektif meningkatkan kelancaran verbal dan fungsi eksekutif dibandingkan perangkat lunak pelatihan otak komputer.

3. Menari dengan Koreografi Baru

Menari lebih efektif daripada sekadar berjalan di atas treadmill karena melibatkan beban kerja mental untuk mengingat langkah dan menjaga ritme. Tim peneliti di Magdeburg, Jerman, menemukan bahwa lansia yang mengikuti program tari dengan rutinitas yang terus berubah mengalami peningkatan volume pada hipokampus, wilayah otak yang bertanggung jawab atas memori baru.

4. Teka-Teki Silang (TTS)

Bagi mereka yang mulai mengalami penurunan memori ringan, teka-teki silang ternyata mengungguli aplikasi pelatihan otak digital. Peneliti dari Columbia dan Duke menemukan bahwa kelompok yang mengerjakan TTS berbasis web memiliki skor fungsi kognitif yang lebih baik dan penyusutan otak yang lebih sedikit pada hasil MRI dibandingkan pengguna gim kognitif komputer.

5. Kebiasaan Jalan Kaki Rutin

Jalan cepat selama 40 menit, tiga kali seminggu, terbukti dapat membalikkan penyusutan hipokampus akibat usia sebanyak satu hingga dua tahun. Kirk Erickson dari University of Pittsburgh mencatat peningkatan volume hipokampus sebesar 2% pada kelompok pejalan kaki, sementara kelompok yang hanya melakukan peregangan justru mengalami penyusutan sebesar 1,4%.

6. Menjadi Tutor bagi Anak-Anak

Uji coba Baltimore Experience Corps menunjukkan bahwa menjadi sukarelawan untuk mengajar anak-anak sekolah dasar selama 15 jam seminggu dapat mencegah penyusutan pusat memori. Aktivitas ini melibatkan jadwal, logistik, dan interaksi sosial yang kompleks, yang secara kolektif menjaga volume otak, terutama pada pria.

7. Membaca dan Menulis secara Teratur

Robert Wilson dari Rush University Medical Center menemukan bahwa aktivitas mental seperti membaca dan menulis di usia tua memperlambat penurunan memori sebesar 32% dibandingkan aktivitas rata-rata. Menariknya, efek ini tetap bertahan bahkan ketika otak menunjukkan tanda-tanda fisik penyakit (seperti plak), menunjukkan bahwa kebiasaan ini membantu otak berfungsi lebih baik meskipun ada kerusakan fisik.

Kesimpulan: Pola yang muncul dari ketujuh hobi ini bukanlah jenis aktivitasnya, melainkan upayanya. Hobi yang sudah dikuasai akan berhenti menantang otak. Untuk tetap tajam, seseorang membutuhkan sesuatu yang sulit mereka lakukan dan kemauan untuk terus belajar meskipun merasa kesulitan. (Style Girlfriend/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *