Kemenkes Perluas Cek Kesehatan Gratis, Sasar 130 Juta Penduduk
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono (kanan)(MI/M. Ilham Ramadhan Avisena)

KEMENTERIAN Kesehatan terus memperluas cakupan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai salah satu program prioritas kesehatan nasional. Hingga September 2026, program tersebut telah menjangkau sekitar 99,1 juta penduduk dari target 130 juta orang.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono dalam paparannya mengenai pembaruan program prioritas dan capaian transformasi kesehatan nasional menyebut CKG sebagai program kesehatan dengan jangkauan terbesar ke masyarakat.

“Hingga September 2026, CKG telah menjangkau 99,1 juta dari target CKG 130 juta penduduk,” kata dia dalam konferensi pers di Kantor Badan Komunikasi Pemerintah, Jakarta, Rabu (30/9).

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, sekitar 78,5 juta orang telah menjalani skrining tahunan di puskesmas dan komunitas, sementara sekitar 20,6 juta orang lainnya telah menjalani skrining tahunan di sekolah.

Dante menyampaikan, perluasan cakupan CKG akan diikuti dengan tindak lanjut terhadap hasil pemeriksaan. Strategi 2026 mencakup tata laksana hasil CKG sekaligus memperluas cakupan pemeriksaan kepada sekitar 130 juta penduduk.

Tiga tindak lanjut berdasarkan hasil pemeriksaan, yakni pengobatan gratis melalui Jaminan Kesehatan Nasional, edukasi pola hidup sehat, serta pengelompokan kondisi kesehatan berdasarkan hasil pemeriksaan, mulai dari normal, prapenyakit, hingga penyakit. 

Salah satu perhatian utama dari pelaksanaan CKG adalah penyakit tidak menular. Data per 6 September 2026 menunjukkan hipertensi, diabetes, dan kolesterol menjadi masalah kesehatan yang banyak ditemukan pada seluruh siklus hidup dan saat ini menjadi prioritas tata laksana. 

Kementerian Kesehatan juga menyebut CKG berpotensi memberikan dampak terhadap pencegahan penyakit kardiovaskular. “CKG berpotensi mencegah 1 dari 4 kasus stroke dan kardiovaskular pada 2035 dengan deteksi dini dan pengendalian hipertensi, gula darah, dan faktor risiko lainnya,” jelas Dante. 

Hasil tindak lanjut terhadap peserta CKG juga menunjukkan adanya pengendalian faktor risiko pada sebagian pasien. Dari 35,4% pasien hipertensi CKG 2025 yang kembali mengikuti CKG pada 2026, sebanyak 46,9% tercatat memiliki tekanan darah yang terkendali. 

Sementara itu, dari 33,1% pasien diabetes melitus CKG 2025 yang kembali mengikuti CKG 2026, sebanyak 69,4% tercatat memiliki gula darah yang terkendali. 

Selain CKG, pengentasan tuberkulosis (TB) menjadi program prioritas Kementerian Kesehatan. Data Kemenkes menunjukkan capaian nasional penemuan kasus TB pada 2026 berada di angka 55% dari target estimasi beban kasus tahun tersebut. 

Kemenkes juga mencatat capaian penemuan kasus TB terus meningkat sepanjang 2026. Target penemuan kasus ditetapkan secara bertahap dari 7,5% pada Januari hingga 90 persen pada Desember, sementara capaian hingga September tercatat 56%. 

“Untuk mempercepat penemuan kasus, Kemenkes mengintegrasikan skrining TB dengan program CKG di puskesmas, sekolah, pesantren, dan komunitas lainnya. Pada 2025, sebanyak 20.618.799 orang telah menjalani skrining TB, dengan 360.713 orang memiliki tanda dan gejala TBC dan 26.802 orang dinyatakan positif TB baru,” tutur Dante. 

Upaya lainnya dilakukan melalui Active Case Finding (ACF) dan CKG dengan X-Ray serta artificial intelligence (AI) di 530 lapas/rutan, pesantren, dan komunitas di 38 provinsi. Dari 992.321 orang yang diskrining, ditemukan 222.208 orang dengan tanda dan gejala TBC dan 14.546 kasus positif TBC baru. 

Kemenkes juga mengembangkan layanan One Stop Service (OSS), yakni layanan skrining dan testing satu atap yang mengintegrasikan X-Ray, nPOCT, dan TCM. Pada 2026, layanan tersebut telah tersedia di 105 puskesmas dan secara bertahap akan diperluas hingga 5.000 puskesmas di 11 provinsi prioritas. 

Di sisi pengobatan, Indonesia sejak 2024 telah menerapkan regimen BPaL/M untuk TB resistan obat yang mempersingkat durasi pengobatan menjadi enam bulan dari sebelumnya sekitar sembilan hingga 20 bulan. Kemenkes bersama TB Alliance juga mengembangkan regimen baru yang berpotensi mempersingkat durasi pengobatan menjadi satu bulan. 

66 RSUD Naik Kelas

Program prioritas lainnya adalah peningkatan kelas rumah sakit daerah, khususnya dari kelas D atau D Pratama menjadi kelas C.

Kementerian Kesehatan menargetkan peningkatan 66 RSUD dari kelas D/D Pratama menjadi kelas C dalam tiga tahap. Sebanyak 22 RSUD masuk program 2025, 20 RSUD pada 2026, dan 24 RSUD pada 2027. 

Untuk kelompok rumah sakit yang masuk tahap 2025, materi Kemenkes mencatat 21 dari 22 rumah sakit telah selesai dibangun dan 18 di antaranya telah operasional. Sementara untuk tahap 2026, 18 dari 20 rumah sakit sudah mulai dibangun. 

Peningkatan kapasitas rumah sakit tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat akses masyarakat terhadap layanan kesehatan, terutama di daerah yang masih membutuhkan penguatan fasilitas pelayanan kesehatan. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *