
TIDUR kerap dipandang sebelah mata hanya sebagai waktu luang untuk merebahkan tubuh setelah beraktivitas seharian. Padahal, tidur merupakan proses biologis yang sangat krusial bagi kesehatan otak, termasuk dalam hal perbaikan sel saraf serta penguatan memori jangka panjang.
Dokter Spesialis Neurologi, dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., MMRS., menjelaskan bahwa kualitas tidur harus menjadi prioritas utama masyarakat, mengingat berbagai gangguan tidur sering kali berkaitan erat dengan penurunan produktivitas dan aktivitas harian.
“Tidur bukan sekadar waktu istirahat, melainkan proses penting bagi otak untuk memperbaiki sel saraf dan memperkuat memori,” ujar dr. Oktaviana dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (30/9).
Ia menambahkan, gangguan tidur seperti insomnia maupun masalah tidur lainnya kerap memicu berbagai keluhan fisik dan mental, mulai dari rasa mudah lelah, kesulitan berkonsentrasi, penurunan daya ingat, hingga gangguan suasana hati.
Gaya hidup masyarakat urban yang kerap memangkas waktu tidur, paparan layar gawai berlebihan, serta tingginya tekanan pekerjaan dinilai menjadi pemicu utama yang dapat berdampak buruk bagi kesehatan otak dalam jangka panjang.
Guna mengantisipasi dampak buruk gangguan tidur, dr. Oktaviana menyarankan pentingnya deteksi dan pemeriksaan kesehatan otak sejak dini. Salah satu metode diagnostik yang kini dapat diandalkan adalah quantitative electroencephalography (qEEG) atau yang dikenal sebagai brain mapping.
Melalui pemetaan aktivitas gelombang otak ini, dokter dapat membaca pola aktivitas neural yang berkaitan dengan gangguan tidur, tingkat stres, hingga potensi risiko penurunan fungsi kognitif. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, penanganan medis dapat diarahkan secara lebih spesifik, salah satunya melalui pendekatan neurofeedback untuk melatih otak menyeimbangkan kembali gelombang yang tidak stabil demi mendukung kualitas tidur, fokus, serta regulasi emosi.
Sementara itu, praktisi functional medicine di Seraphim Medical Centre, dr. Febby Astari, IFMCP, menegaskan bahwa penanganan masalah kesehatan otak dan tidur harus dilakukan secara komprehensif dan personal.
“Setiap program di Brain Wellness & Sleep Center disusun secara personal berdasarkan hasil pemeriksaan masing-masing klien,” ujar dr. Febby.
Layanan terpadu tersebut kini dapat diakses melalui Brain Wellness & Sleep Center di Seraphim Medical Centre yang berada di bawah naungan Bethsaida Healthcare. Selain masalah insomnia, pusat layanan kesehatan ini turut menangani berbagai keluhan klinis seperti brain fog, gangguan motorik, kelelahan kronis akibat stres, hingga mitigasi risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia bagi masyarakat di usia produktif maupun lanjut usia.
Masyarakat diimbau untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila mengalami gangguan tidur menetap demi mendapatkan penanganan yang tepat. (P-4)
