11 Perusahaan Rintisan Terkait Kimia Hijau Adu Implementasi Ide, Ada Produsen Mokaf Hingga Jasa Pelaporan Offset Karbon
Sesi Final & Demo Day GreenLink: Greenovate Startup Accelerator 2026 diselenggarakan di Jakarta, Jumat (25/9). Kegiatan itu menjadi rangkaian akhir Global Green Chemistry Innovation and Network Program (GGINP). Pada babak final, perusahaan-perusahaan rint(MI/Iis Zatnika)

Ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengharuskan lembaga jasa keuangan, emiten, maupun perusahaan publik memenuhi kewajiban pelaporan ESG, seperti yang termuat dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 51/POJK.03/2017 tentang Penerapan Keuangan Berkelanjutan. Namun, di lapangan masih ditemukan berbagai tantangan, seperti data yang tersebar hingga proses pengolahannya yang kompleks. Hal ini membuat implementasi kepatuhan belum berjalan optimal.

Tantangan itu dijawab Satuplatform, sistem yang mengintegrasikan berbagai fungsi, mulai dari manajemen data, penghitungan karbon, pelaporan berkelanjutan, hingga literasi ESG. “Kami menekankan bahwa pendekatan yang diusung tidak hanya berfokus pada kepatuhan, tetapi juga mendorong agar ESG dipandang sebagai peluang, bukan sekadar kewajiban,” demikian terungkap dalam presentasi perwakilan Satuplatform dalam sesi Final & Demo Day GreenLink: Greenovate Startup Accelerator 2026 di Jakarta, Jumat (25/9).

Kegiatan itu menjadi rangkaian akhir Global Green Chemistry Innovation and Network Program (GGINP). Pada babak final, perusahaan-perusahaan rintisan dipertemukan dengan pelaku industri, investor, regulator, serta mitra ekosistem inovasi. Project Director GGINP Indonesia Teuku Muhammad Roffi menjelaskan, GGINP merupakan inisiatif global yang dilaksanakan di enam negara, yaitu Indonesia, Ukraina, Serbia, Uganda, Peru, dan Yordania. Di tingkat global, program ini dikelola oleh Yale University bersama United Nations Industrial Development Organization (UNIDO).

Misi GGINP, kata Teuku, adalah mendukung pengembangan perusahaan rintisan yang berbasis kimia hijau. “Tahun ini kami menerima 130 startup. Setelah diseleksi, terpilih 11 startup melanjutkan ke tahap bootcamp, mentoring, dan tahap final,” kata Teuku.

Satuplatform yang merupakan penyedia jasa tata kelola karbon dan ESG menjadi runner-up pertama, sementara pemenang diraih Tarunira yang memproduksi gula palem dan tepung mokaf. Adapun runner-up kedua adalah Organic Culture.

“Inovasi berbasis kimia hijau tersebut kami harapkan tidak berhenti pada konsep atau prototipe, tetapi memiliki peluang untuk masuk ke pasar, digunakan oleh industri, dan memberikan dampak lingkungan sekaligus nilai ekonomi,” imbuh Teuku.

Ketua Tim Kerja Pembinaan dan Pengembangan Sektor Industri Kimia Pertahanan Direktorat Industri Kimia Hulu Kementerian Perindustrian, Aditya Rosadi, mengatakan industri saat ini tidak hanya dituntut untuk meningkatkan produktivitas, tetapi juga semakin memperhatikan efisiensi sumber daya, pengurangan limbah, penggunaan bahan yang lebih aman, serta dampak lingkungan dari proses produksinya.

“Inovasi berbasis kimia hijau memiliki peran yang sangat relevan karena pendekatannya tidak hanya berfokus pada penanganan dampak di akhir proses, tetapi juga bagaimana sejak awal suatu bahan, produk, maupun proses dapat dirancang menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. Startup memiliki posisi yang menarik karena biasanya lebih fleksibel dalam mengembangkan dan menguji solusi baru. Namun, agar inovasi tersebut dapat memberikan dampak yang lebih luas, tentunya perlu ada keterhubungan dengan kebutuhan nyata industri,” kata Aditya.

Aditya menegaskan, industri membutuhkan kepastian bahwa teknologi yang ditawarkan dapat bekerja secara konsisten, aman, memenuhi kebutuhan teknis, layak secara ekonomi, dan memungkinkan untuk diterapkan pada skala yang lebih besar.

Dalam sesi tanya jawab, perwakilan Satuplatform menyebutkan, siklus penjualan dari tahap pitching hingga implementasi umumnya berlangsung sekitar tiga hingga empat bulan, tergantung pada akses terhadap pengambil keputusan di perusahaan klien.

“Ke depan, kami akan melibatkan kecerdasan buatan (AI) untuk memberikan rekomendasi otomatis berbasis performa ESG serta mempercepat proses analisis data. Meski demikian, pendekatan hibrida tetap dipertahankan dengan keterlibatan penasihat bersertifikasi untuk memastikan validitas hasil,” kata perwakilan Satuplatform.

Dijelaskan pula, platform ini menyediakan fleksibilitas dalam pengelolaan data, baik melalui input manual maupun template yang telah disiapkan, sehingga perusahaan tidak harus bergantung pada tim IT khusus. Sementara untuk proyek carbon offset, perusahaan bekerja sama dengan mitra pihak ketiga.(X-6)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *