Wali Kota Kupang Tutup Mooncake Festival, Perputaran Ekonomi Capai Rp2,5 Miliar
Wali Kota Kupang, dr Christian Widodo menyampaikan sambutan pada penutupan Mooncake Festival 2026 di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Minggu (27/9).(Dok Humas Kota Kupang)

MOONCAKE Festival 2026 di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur  tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat. Selama rangkaian kegiatan 25-27 September, perputaran ekonomi diperkirakan mencapai Rp2,5 miliar.

Ketua Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kota Kupang, Dedy Tanjung, mengatakan sekitar Rp2 miliar dari perputaran tersebut bergerak di sektor UMKM dan berbagai kegiatan selama rangkaian festival yang digelar selama tiga hari.

Festival yang melibatkan 110 tenant UMKM dan 30 sponsor itu ditutup Wali Kota Kupang dr.Christian Widodo di ruas Jalan El Tari, Minggu (27/9) malam. 

Dalam sambutannya, Christian mengatakan kegiatan budaya seperti Mooncake Festival dapat menjadi ruang perjumpaan masyarakat sekaligus memberi dampak ekonomi bagi warga.

“Festival ini bukan hanya perayaan sebuah tradisi. Hari ini kita merayakan identitas, kebersamaan dan keberagaman. Jauh daripada itu, kegiatan ini juga menggerakkan ekonomi kerakyatan,” ujarnya. 

Ia juga mengapresiasi PSMTI yang menghadirkan ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, mengenal budaya, sekaligus membangun kepedulian sosial.

Menurut Christian, momentum festival juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan solidaritas kepada masyarakat Flores yang terdampak gempa. “Mungkin saat bumi mengguncang saudara-saudari kita di Flores, kita tidak ada bersama mereka. Tetapi malam hari ini kita tunjukkan bahwa mereka tidak sendirian,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat mendukung aksi kepedulian yang dilakukan PSMTI melalui pembelian kupon donasi bagi masyarakat terdampak gempa Flores. “Wilayah mungkin memiliki batas, titik lokasi gempa mungkin memiliki batas, tetapi saya percaya kemanusiaan tidak memiliki batas,” katanya.

Selain menggerakkan ekonomi, Christian menilai Mooncake Festival memperlihatkan keberagaman sebagai bagian dari kekuatan Kota Kupang. “Di Kota Kupang, keberagaman bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan. Bukan menjadi jarak pemisah, tetapi menjadi jembatan,” tegasnya.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena yang hadir dalam penutupan festival mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat melalui budaya, kebersamaan dan rasa syukur.

“Keberagaman tidak harus memisahkan kita. Justru keberagaman selalu melengkapi dan budaya dapat menjadi jembatan yang mempertemukan kita dalam mosaik kebersamaan,” kata Melki.

Menurut dia, pembangunan NTT tidak hanya berkaitan dengan infrastruktur dan angka-angka pembangunan. Pembangunan juga menyangkut manusia, keluarga, pendidikan, budaya, lingkungan, serta kehidupan sosial yang harmonis.

Sementara itu, Ketua PSMTI Provinsi NTT Hengky Lianto mengatakan Mooncake Festival menjadi ruang untuk merawat keberagaman, mempererat persaudaraan, sekaligus memperkenalkan budaya Tionghoa kepada masyarakat luas.

“Ketika saudara kita mengalami musibah, kita harus hadir. Ketika ada yang membutuhkan uluran tangan, kita perlu bergandengan tangan,” ujar Hengky.

Panitia juga membuka penggalangan donasi bagi masyarakat terdampak gempa Flores melalui kupon senilai Rp10.000 serta mengumpulkan barang layak pakai.

Christian juga mengapresiasi keterlibatan masyarakat, paguyuban, ASN dan berbagai elemen dalam pembangunan Kota Kupang. Ia menyebut sejumlah penghargaan yang baru diterima pemerintah kota merupakan hasil kerja bersama, bukan keberhasilan pemerintah semata.

Kota Kupang baru-baru ini meraih Terbaik III kategori Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan dengan insentif fiskal Rp1 miliar, Terbaik II Program Tiga Juta Rumah dengan dukungan 250 unit BSPS, serta Terbaik I TP2DD kawasan Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

“Kalau hari ini Kota Kupang bercahaya, itu bukan karena satu obor yang dinyalakan di Kantor Wali Kota, tetapi karena lilin-lilin kecil yang dinyalakan di kantor-kantor dinas, kecamatan, kelurahan, paguyuban, keluarga, RT dan RW. Lilin-lilin kecil itulah yang membuat Kota Kupang bercahaya,” ungkapnya.

Kepada peserta Koko Cici, Christian berpesan agar ajang tersebut tidak sekadar menjadi ruang tampil, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter, wawasan dan pemahaman budaya bagi generasi muda.

“Setelah lampion dipadamkan dan festival ini berakhir, semangat persaudaraan kita harus tetap menyala. Persatuan itu bukan berarti menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama meskipun berbeda,” ujarnya. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *