
PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat strategi percepatan pembangunan infrastruktur gas alam cair (LNG) di berbagai wilayah Indonesia. Langkah ini merupakan upaya strategis untuk mendukung ketahanan energi nasional melalui pengelolaan proyek yang terintegrasi dan penguatan industri domestik.
General Manager Unit Pelaksana Proyek Gas dan BBM PLN EPI, Agus Purnomo, menjelaskan bahwa tantangan utama pembangunan infrastruktur LNG saat ini bukan hanya pada aspek pembiayaan, melainkan juga ketersediaan kapasitas industri global untuk menyelesaikan proyek sesuai kebutuhan sistem kelistrikan.
“Tantangannya bukan hanya mengembangkan proyek. Kami juga perlu memastikan kapasitas dari pemasok peralatan utama, galangan kapal, dan juga kontraktor pelaksana untuk menyelesaikan proyek tepat waktu,” ujar Agus saat menjadi panelis dalam ajang Gastech Exhibition & Conference 2026 di Bangkok, Thailand, Jumat (25/9).
Keterbatasan Kapasitas Global
Agus mengungkapkan bahwa sejak 2023, PLN EPI telah mempercepat proyek midstream LNG di sekitar 25 lokasi di Indonesia. Proyek ini bertujuan mendukung program dedieselisasi PLN, yakni menggantikan penggunaan diesel dengan LNG guna meningkatkan keandalan sistem kelistrikan.
Namun, industri LNG global saat ini menghadapi kendala kapasitas eksekusi. Data menunjukkan kapasitas pembangunan kapal LNG besar di Korea Selatan dan China diperkirakan hanya sekitar 85 kapal per tahun pada awal 2026. Sementara itu, orderbook kapal LNG telah mencapai 268 unit per 31 Maret 2026, dengan jadwal pengiriman hingga 2029.
“Bertambahnya kapasitas industri tidak serta-merta menjamin tersedianya slot produksi ketika proyek membutuhkan peralatan atau kapal,” tegas Agus.
Strategi Portofolio Terintegrasi
Menyikapi kondisi tersebut, PLN EPI menerapkan strategi pengelolaan pengembangan proyek LNG midstream sebagai satu portofolio terintegrasi. Hal ini mencakup sinkronisasi perencanaan FSRU, kapal LNG, fasilitas regasifikasi, penyimpanan, jaringan pipa, hingga koneksi pembangkit.
Beberapa strategi kunci yang dijalankan meliputi:
- Perencanaan kapasitas pada tingkat portofolio.
- Keterlibatan pemasok lebih awal (early supplier involvement).
- Fleksibilitas strategi aset dan standardisasi desain serta peralatan.
- Evaluasi konversi kapal LNG eksisting menjadi FSRU sebagai alternatif keterbatasan galangan kapal baru.
Penguatan Industri Domestik
Selain berkolaborasi dengan teknologi global, PLN EPI berkomitmen mendorong penguatan industri dalam negeri. Keterlibatan lokal difokuskan pada pekerjaan konstruksi, fabrikasi, tangki penyimpanan, perpipaan, sistem kelistrikan, hingga jasa rekayasa dan pemeliharaan.
“Kami membutuhkan kemampuan global untuk teknologi yang sangat khusus, tetapi skala pipeline proyek Indonesia dapat digunakan untuk secara bertahap membangun kemampuan domestik yang lebih kuat,” tambah Agus.
Hingga 2029, PLN EPI menargetkan pengembangan hampir 20 lokasi terminal penerimaan LNG satelit darat. Lokasi tersebut tersebar di Nias (1 lokasi), Sulawesi (6 lokasi), Nusa Tenggara (9 lokasi), dan Papua Utara (4 lokasi) melalui empat klaster mitra strategis Joint Development Agreement (JDA).
Melalui sinkronisasi kapasitas eksekusi dan strategi terintegrasi ini, PLN EPI optimistis pembangunan infrastruktur LNG dapat berjalan tepat waktu demi memperkuat keandalan sistem kelistrikan di seluruh pelosok negeri. (Ant/E-3)
