Sering Tanya AI Saat Sakit? Dokter Ungkap Dampak Buruk Self-Diagnose dari Internet
ilustrasi(Magnific)

KEBIASAAN masyarakat yang gemar melakukan diagnosis mandiri (self-diagnose) menggunakan internet dan kecerdasan buatan (AI) tanpa verifikasi medis kerap memicu kecemasan berlebih. Fenomena ini disoroti langsung oleh dokter umum Prodia Children Jakarta, dr. Kristin Tjandra.

Menurut Kristin, paparan informasi kesehatan di media sosial maupun platform AI sering kali disalahartikan oleh pasien, sehingga memunculkan rasa takut yang tidak berdasar sebelum berkonsultasi dengan tenaga medis.

“Sekarang banyak sekali informasi di media sosial, bahkan pasien bertanya dulu ke ChatGPT. Baru batuk sedikit yang keluar pertama kali adalah kematian, akhirnya datang ke dokter dalam kondisi sangat takut dan parno,” ujar Kristin dalam diskusi kesehatan yang digelar oleh Pfizer Indonesia di Jakarta, Kamis.

Kebiasaan mencari tahu penyakit secara sembarangan ini dinilai rentan menimbulkan salah persepsi. Padahal, kondisi fisik yang dikeluhkan belum tentu seburuk hasil pencarian digital yang kerap mengarah pada vonis terburuk.

Enggan Medical Check-Up Saat Sehat

Selain isu self-diagnose, Kristin turut menyoroti kebiasaan umum masyarakat Indonesia yang baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika tubuh sudah merasakan sakit parah. Ia menyebut inisiatif untuk melakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh (medical check-up) saat tubuh merasa bugar masih sangat minim.

Padahal, banyak kasus menunjukkan seseorang yang merasa sehat ternyata memiliki indikator laboratorium di luar batas normal saat diperiksa.

“Banyak orang merasa dirinya sangat sehat, tapi ketika hasil laboratorium keluar, ternyata indikatornya sudah banyak tanda bintang (tidak normal). Mereka sudah masuk kategori penderita diabetes atau hipertensi tanpa keluhan,” jelasnya.

Kristin mengibaratkan pemeriksaan kesehatan bagaikan membuka celengan. Sebagian orang memilih menghindar karena takut mendapati penyakit yang “tersimpan” di dalam tubuh. Padahal, kepastian medis hitam di atas putih justru memberikan kesempatan bagi pasien untuk segera memperbaiki gaya hidup sebelum kondisi memburuk.

Tips Efektif Konsultasi dengan Dokter

Guna membangun komunikasi dua arah yang efektif antara pasien dan tenaga medis, Kristin membagikan sejumlah kiat praktis sebelum berkonsultasi ke dokter:

Catat Keluhan dan Pertanyaan: Tulis daftar keluhan serta poin-poin yang ingin ditanyakan di selembar kertas agar tidak ada informasi yang terlewat.

Bawa Berkas Medis: Siapkan dan bawa riwayat rekam medis atau hasil pemeriksaan sebelumnya jika ada.

Aktif Bertanya: Jangan ragu berdiskusi dengan dokter mengenai langkah-langkah pencegahan (prevention) agar pasien tidak berulang kali datang dengan keluhan penyakit yang sama.

“Dokter bukan dukun yang bisa langsung menebak semuanya. Komunikasi dua arah itu penting. Tulis apa yang ingin dokter jawab dan jangan ragu bertanya mengenai langkah pencegahan,” pungkasnya.

(Ant/P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *