Jumlah Korban Dugaan Keracunan MBG di Batang Bertambah Jadi 176 Orang
Ilustrasi pasien keracunan yang baru tiba di Rumah Sakit(Dok.Istimewa)

JUMLAH warga yang mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, bertambah. Pemerintah Kabupaten Batang kini mencatat jumlah seluruh korban dari semula 87 bertambah menjadi 176 dengan 2.276 penerima manfaat dalam cakupan layanan SPPG yang tengah diselidiki.

Wakil Bupati Batang Suyono mengatakan perkembangan jumlah korban masih terus dipantau. Hingga menjelang dini hari ini, sejumlah warga telah mendapatkan penanganan di rumah sakit, termasuk di RSUD Kalisari.

“Ini sudah masuk kurang lebih 20 korban di RSUD Kalisari,” ungkap Suyono saat memberikan keterangan mengenai perkembangan penanganan korban, Rabu (23/9/2026) malam.

Angka tersebut merupakan perkembangan terbaru dari penanganan korban yang sebelumnya telah dilaporkan mengalami mual dan pusing setelah mengonsumsi makanan MBG.

Pemerintah masih melakukan pendataan karena jumlah korban dapat berubah seiring warga mendatangi fasilitas kesehatan. Perkembangan lain yang terungkap adalah luasnya cakupan distribusi makanan dari SPPG tersebut.

Suyono menyebut setidaknya terdapat 11 titik penerima manfaat yang berada di Kecamatan Bawang. Titik tersebut meliputi satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga madrasah.

Berikut daftar sementara penerima manfaat tersebut yakni:

  • TK Al Ikhlas
  • SDN 3 Bawang
  • TK Pertiwi
  • MA Sunan Kalijaga
  • MTs Sunan Kalijaga
  • TK Kuncup Mekar
  • TP Ananda
  • Pos PAUD Anggrek Mas
  • TK Korotayun
  • RA Al Hidayah
  • MI Salafiyah Pasusukan

Meski demikian, Suyono belum dapat memastikan apakah seluruh satuan pendidikan tersebut mengalami kejadian serupa. Menurut dia, pemerintah masih melakukan pendataan terhadap penerima manfaat dan korban di lapangan.

“Jumlah sekolah ini yang saya belum tahu, karena hanya jumlah penerima manfaat saja 2.700 yang sementara ini bisa disampaikan,” ujarnya.

Dalam perkembangan berikutnya, Suyono menyebut angka penerima manfaat yang terdata mencapai sekitar 2.276 orang. Kasus ini juga tidak hanya dialami anak-anak penerima manfaat namun juga orang tua.

Suyono mengatakan terdapat keluarga yang anggota keluarganya sama-sama mengalami keluhan setelah makanan MBG dibawa pulang. Di lapangan, bahkan ditemukan orang tua dan anak yang sama-sama mendapatkan penanganan.

“Orang tua memakan dari sisa anak,” terang  Suyono.

Pola tersebut menjadi salah satu bagian yang diperhatikan pemerintah dalam menelusuri kejadian. Sebab, makanan MBG yang seharusnya dikonsumsi penerima manfaat di sekolah ternyata sebagian dibawa pulang dan dikonsumsi anggota keluarga.

Sebelumnya, makanan MBG dibagikan kepada siswa sekitar pukul 11.00 WIB. Keluhan kesehatan dilaporkan muncul beberapa jam kemudian. Gejala yang dilaporkan antara lain mual dan pusing.

Bertambahnya warga yang membutuhkan penanganan membuat kapasitas fasilitas kesehatan juga menjadi perhatian pemerintah.

Suyono mengatakan sejumlah rumah sakit di Batang sudah penuh sehingga pemerintah harus menyiapkan alternatif fasilitas perawatan, termasuk puskesmas yang memiliki layanan rawat inap.

“Kalau di Batang semua kan penuh, tinggal nanti lari ke puskesmas yang rawat inap,” jelasnya.

Pemerintah sendiri masih mencari fasilitas yang dapat menampung korban apabila jumlah pasien terus bertambah. Suyono menyatakan kondisi tersebut membuat pemerintah terus memantau perkembangan korban dari waktu ke waktu.

“Jadi perkembangan tetap kita tunggu, yang penting kita prihatin bersama. Semoga kejadian ini kejadian yang terakhir,” katanya.

Hingga saat ini, pemerintah masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut. Pemerintah sebelumnya telah meminta Dinas Kesehatan mengambil sampel makanan untuk diperiksa. (H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *