
PERKEMBANGAN aspek keberlanjutan (sustainability) saat ini tidak hanya mengubah cara perusahaan melaporkan kinerja lingkungan dan sosial, tetapi juga mentransformasi kebutuhan kompetensi para profesional. Menjawab tantangan tersebut, SEL Southeast Asia bekerja sama dengan Global Hemisphere Group Sdn. Bhd. (GHG), Malaysia, resmi mengenalkan Sustainability Technology Professional Program pada 21 September 2026.
Program pelatihan ini dirancang untuk menjembatani pemahaman konseptual keberlanjutan dengan pemanfaatan teknologi mutakhir dalam proses ESG assessment, carbon accounting, pengelolaan data, hingga pelaporan keberlanjutan yang komprehensif.
Program ini lahir dari kebutuhan nyata di dunia kerja, saat pemahaman terhadap standar dan terminologi keberlanjutan saja tidak lagi cukup. Profesional dituntut mampu menerjemahkan prinsip tersebut ke dalam data dan keputusan strategis. Dengan pendekatan learn, practice, and apply, peserta diajak berlatih menggunakan teknologi untuk mengelola informasi keberlanjutan secara sistematis dan dapat ditelusuri (traceable).
Kurikulum program mencakup lima pilar utama:
- ESG Assessment & Health Check
- Carbon Accounting & GHG Emissions Calculation
- Sustainability Data Management
- Technology-Enabled Sustainability Reporting
- Practical Sustainability Implementation
Fokus utama pelatihan ini bukan sekadar pengoperasian perangkat lunak, melainkan pengembangan kemampuan analisis data, pengujian kualitas informasi, serta penggunaan teknologi sebagai alat bantu pertimbangan profesional (professional judgment).
Memperpendek Jarak Pengetahuan dan Implementasi
Managing Director SEL Southeast Asia, Febryanti Simon, menekankan bahwa dunia pendidikan profesional harus bergerak selaras dengan perubahan bisnis. “Profesional masa depan perlu memahami bagaimana data dikumpulkan, emisi dihitung, dan informasi dianalisis melalui bantuan teknologi untuk menghasilkan keputusan yang lebih baik. Pendidikan harus memperpendek jarak antara knowledge dan implementation,” ujarnya.
Senada dengan hal tersebut, Managing Director Global Hemisphere Group Sdn. Bhd., Joyline Chai, menyatakan bahwa teknologi memberikan kecepatan, tetapi pengetahuan memberikan arah. “Masa depan keberlanjutan milik profesional yang mampu mengubah data menjadi wawasan, keputusan, dan tindakan nyata,” tegas Joyline.
Perspektif Regional dan Multibahasa
Kolaborasi lintas negara ini memperkuat karakter regional program di Asia Tenggara yang memiliki keragaman regulasi dan struktur industri. Keunggulan lain ialah ketersediaan ruang pembelajaran dalam tiga bahasa: Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Bahasa Mandarin. Hal ini memungkinkan peserta dari berbagai latar belakang mempelajari isu keberlanjutan dengan bahasa yang paling efektif bagi organisasi mereka.
Dukungan juga datang dari dunia usaha. Michell Suharli, CEO SW Indonesia, menilai integrasi teknologi dalam pembelajaran ini memberikan nilai tambah bagi klien melalui SW Privilege Program. Menurutnya, kemampuan belajar lintas bahasa sangat krusial saat perusahaan Indonesia semakin terhubung dengan rantai pasok dan investor global.
“Sustainability adalah isu global, tetapi implementasinya selalu lokal. Ketika pembelajaran dapat berlangsung dalam berbagai bahasa, peserta belajar bagaimana menerjemahkan istilah global ke dalam konteks bisnis yang berbeda,” ungkap Michell. (I-2
