Perempuan ini Nyaris Meninggal usai Makan Apel sebelum Lari, Ternyata Alami Alergi Langka
Ilustrasi(magnifik)

Tak disangka, camilan sehat seperti apel justru menjadi ancaman nyawa bagi wanita pelari asal Somerset, Inggris. Dea Gagoshidze (29), nyaris kehilangan nyawanya akibat asal memakan apel sebelum lari. Awalnya dikira alergi serbuk sari biasa, ternyata alergi langka yang mematikan.

Awalnya Dikira Alergi Serbuk Sari

Kejadiannya bermula Agustus tahun lalu. Dea sedang lari trek bersama temannya ketika mata dan bibirnya tiba-tiba mulai membengkak. 

Awalnya ia mengira itu hanya gejala hay fever alias alergi serbuk bunga biasa, hal yang wajar dialami banyak orang saat musim panas. Alih-alih memperlakukan reaksi tersebut sebagai kejadian sepele, kondisi Dea justru memburuk. 

Sadar akan situasinya yang tak kunjung membaik, Dea bergegas mendatangi meja resepsionis untuk mencari antihistamin.

Namun, tak lama kemudian ia langsung ambruk ke lantai dan hilang kesadaran. Untungnya paramedis datang tepat waktu dan langsung memberikan suntikan adrenalin (epinefrin), obat yang biasa diberikan kepada penderita alergi berat tiba tiba atau anafilaksis, yang membuat kondisinya berangsur pulih.

Diagnosa Alergi Langka

Setelah menjalani serangkaian tes pada bulan September, dokter mendiagnosa Dea dengan kondisi langka bernama _Food-Dependent Exercise-Induced Anaphylaxis (FDEIA)_ atau anafilaksis yang hanya muncul apabila seseorang makan makanan pemicu tertentu, lalu berolahraga tak lama setelahnya.

Menurut Anaphylaxis UK, anafilaksis akibat olahraga tergolong reaksi alergi serius meski jarang terjadi. Apabila ada faktor tambahan seperti makanan tertentu yang ikut memicunya, baru dapat disebut FDEIA. 

Anaphylaxis UK menyarankan siapa pun yang pernah mengalami gejala alergi saat atau setelah beraktivitas fisik untuk segera berkonsultasi ke dokter.

Penyebab Awal Reaksi Alergi: Protein di Kulit Buah dan Sayur

Baru saja diketahui belakangan ini, pemicu alergi FDEIA yang dialami Dea adalah lipid transfer proteins (LTP), sejenis protein yang banyak ditemukan pada buah, sayur, kacang-kacangan, serta biji-bijian dan sereal. 

Setelah diingat kembali, Dea menyantap wrap berisi paneer, sayuran, dan apel untuk makan siang di hari kejadian. Karena LTP adalah pemicunya, ia menduga sayur dan apel berupa penyebab utama reaksi alerginya akibat kadar LTP yang cukup tinggi.

Tekad Kuat Berlari Maraton dengan Kondisi Langka

Kini, Dea harus menghindari LTP sebelum berolahraga. Buah atau sayuran dalam dosis sekecil apapun dapat memicu reaksi anafilaksisnya. Salah satu santan yang aman bagi Dea hanyalah bagel polos dengan sedikit mentega karena relatif aman dari kandungan LTP.

Walau kini didiagnosa dengan serius dan langka yang menyusahkan masa latihannya, Dea tetap semangat menyelesaikan Paris Marathon pada April 2026. 

“Kalau saya lupa atau kurang hati-hati sedikit saja, itu bisa bikin satu malam olahraga saya gagal total,” ujar Dea. 

Sebagai salah satu penyintas kondisi FDEIA, Dea aktif menyuarakan edukasi mengenai kondisi FDEIA melalui akun TikTok pribadinya. Dea menyuarakan bahwa alergi semacam ini dapat muncul kapan saja dalam hidup seseorang, bahkan pada orang yang sudah lama beraktivitas fisik dan terlihat bugar.

Sumber: ladbible.com, Anaphylaxis UK



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *