
SUATU memorial emosional berupa kain kafan sepanjang 328 kaki (sekitar 100 meter) yang memuat nama-nama lebih dari 20.000 anak Palestina yang tewas di Jalur Gaza dibentangkan di UN Church Center, New York, pada Senin (16/9). Aksi ini bertepatan dengan pembukaan Majelis Umum PBB.
Joanne Koslofsky, anggota New York City Jewish Elders, tidak dapat menahan air mata saat berjalan di ruangan yang dipenuhi sepatu-sepatu kecil dan foto anak-anak yang menjadi korban sejak 7 Oktober 2023. Suasana semakin pilu ketika rekaman suara Hind Rajab, bocah perempuan berusia 5 tahun yang tewas oleh pasukan Israel pada Januari 2024, diputar di ruangan tersebut.
“Kami tidak tahan dengan genosida yang terjadi di sana. Terlebih lagi, kami tidak tahan genosida ini dilakukan atas nama orang Yahudi,” ujar Koslofsky. Ia menegaskan bahwa perjuangan pembebasan Palestina ialah perjuangan kebebasan sentral di masa kini.
Bukan sekadar Statistik
Proyek bertajuk Gaza Children’s Shroud itu dimulai di Italia dan kini dibawa ke Amerika Serikat oleh koalisi kelompok termasuk Doctors Against Genocide (DAG), Priests Against Genocide, dan Justice For All. Tujuannya memastikan tidak ada anak yang hilang menjadi sekadar statistik dan tidak ada kematian yang dilupakan.
Dr. Scott Hagaman dari DAG memberikan gambaran mengerikan mengenai skala kematian ini. “Jika Anda menghadiri satu pemakaman per hari untuk setiap anak ini, dibutuhkan waktu hampir 55 tahun untuk menyelesaikan pemakaman bagi 20.000 anak yang terwakili di sini hari ini,” ungkapnya.
Inisiatif global ini terinspirasi dari praktik tragis para orangtua di Gaza yang menuliskan nama anak-anak mereka langsung di tubuh mereka. Hal ini dilakukan agar identitas sang anak tetap dapat dikenali jika rumah mereka dibom.
Kritik terhadap Peran Amerika Serikat
Selain sebagai bentuk duka, pameran ini juga menjadi protes keras terhadap dukungan militer Amerika Serikat kepada Israel. Rev. Paul Feuerstein, yang bergabung dalam Priests Against Genocide, menyebut warga AS sebagai rekan konspirator karena uang pajak mereka digunakan untuk mendanai senjata yang menewaskan warga sipil.
Berdasarkan data Council on Foreign Relations (CFR), AS telah memberikan setidaknya US$16,3 miliar (sekitar Rp250 triliun) bantuan militer langsung ke Israel sejak konflik pecah pada Oktober lalu.
Data Korban: Menurut data PBB, serangan militer Israel menewaskan lebih dari 20.000 anak dan melukai 44.000 lain di Gaza sejak Oktober 2023. Gaza kini tercatat sebagai wilayah dengan jumlah anak diamputasi per kapita tertinggi di dunia.
Pameran memorial ini sebelumnya diluncurkan di Balai Kota Philadelphia pada 1 September dan dijadwalkan akan melanjutkan perjalanannya ke Washington D.C. pada bulan Oktober mendatang untuk terus mendesak akuntabilitas atas kejahatan perang dan penghentian operasi militer di Gaza. (The Mirror US/I-2)
