Perbankan Kompak Pilih SBN Ketimbang Salurkan Kredit, Ini Penjelasannya
ilustrasi(Antara)

Ekonom Universitas Brawijaya, Noval Adib, mengungkapkan alasan di balik fenomena perbankan yang lebih memilih menempatkan dana di surat berharga dibandingkan menyalurkannya ke sektor kredit atau pasar uang. Hal ini menanggapi laporan Bank Indonesia (BI) yang menyoroti adanya 25 bank dengan rasio kepemilikan surat berharga yang tinggi, namun memiliki angka penyaluran kredit yang rendah.

Noval menjelaskan bahwa keputusan tersebut didasari oleh perilaku rasional perbankan dalam mencari keseimbangan antara imbal hasil (return) yang tinggi dan risiko yang rendah. Menurutnya, bank memiliki tanggung jawab ganda yang harus dijaga secara seimbang.

“Selain sebagai institusi yang mempunyai fungsi intermediasi, yaitu menyalurkan dana dari pihak yang surplus dana ke pihak yang defisit dana, bank juga punya tugas menjaga keamanan dana itu sendiri,” ungkap Noval dalam keterangannya, Minggu (30/8).

Pertimbangan Risiko dan Biaya Operasional

Noval menekankan bahwa bank harus memastikan dana deposan tidak menyusut saat disalurkan. Dalam konteks ini, penyaluran kredit ke debitur memiliki risiko kredit macet yang memerlukan biaya tambahan, seperti biaya monitoring, biaya pencadangan, hingga biaya operasional.

Sebaliknya, penempatan dana pada instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN), sukuk, atau Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dinilai memiliki risiko yang relatif kecil. “Secara rasional, pilihan bank akan jatuh pada menempatkan dana deposan pada surat berharga,” tambahnya.

Selain risiko finansial, perbankan juga dibayang-bayangi oleh risiko hukum jika terjadi non-performing loan (NPL) atau kredit macet. Hal ini menjadi faktor krusial yang membuat bank lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit dan lebih memilih saluran alternatif di surat berharga.

Perbandingan Imbal Hasil Riil

Berdasarkan data yang dipaparkan Noval, rata-rata bunga kredit perbankan saat ini berada di kisaran 8,8% hingga 11%. Sementara itu, imbal hasil (yield) SBN rata-rata berada di angka 7% hingga 7,2%.

Meski secara sekilas bunga kredit tampak lebih tinggi, Noval mengingatkan adanya biaya-biaya penyerta dalam penyaluran kredit yang tidak ditemukan pada investasi surat berharga. Penempatan dana di surat berharga disebut nyaris tidak memerlukan biaya tambahan.

“Sehingga setelah dikurangi biaya, maka return dari penyaluran kredit bisa sama atau malah lebih kecil dibanding return surat berharga. Hal ini pula yang memotivasi bank untuk lebih menempatkan dana di surat berharga daripada menyalurkan ke kredit,” pungkasnya.

Data Bank Indonesia

Sebelumnya, Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Alexander Lubis, mengungkapkan adanya ketimpangan strategi likuiditas antarbank. Terdapat bank yang sangat agresif menyalurkan kredit, namun ada pula yang cenderung menahan likuiditas dalam bentuk surat berharga.

BI mencatat sebanyak 25 bank memiliki Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) di bawah ambang batas (threshold) 84%. Namun, kelompok bank ini memiliki rasio kepemilikan surat berharga di atas 19% dari total pendanaan, yang mencakup sekitar 48,4% dari total surat berharga yang dimiliki seluruh industri perbankan.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *