
Pemerintah mengungkapkan bahwa minat investor untuk masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kendal dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) tetap tinggi. Hal ini terlihat dari tingkat pemanfaatan lahan di kedua kawasan strategis tersebut yang telah mencapai 100 persen.
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menyatakan bahwa tingginya antrean investor membuat pemerintah kini tengah menyiapkan langkah perluasan dan pengembangan kawasan.
“Potensi investor yang masih akan datang ke dalam dua KEK itu luar biasa. Lahan sudah 100% terpakai, jadi sudah utilized semuanya. Kami mengajukan perluasan dan pengembangan dan masih perlu proses, tapi investornya sudah mengantre,” ujar Susiwijono dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (30/8).
Kontribusi Manufaktur Terhadap Ekonomi Jawa Tengah
Tingginya minat investasi ini sejalan dengan dominasi sektor industri manufaktur atau pengolahan di Jawa Tengah. Sektor ini memberikan kontribusi terbesar terhadap perekonomian daerah, yakni mencapai 33,18%.
Berdasarkan data semester I 2026, ekonomi Jawa Tengah tumbuh sebesar 5,80 persen secara cumulative-to-cumulative (c-to-c). Susiwijono menekankan bahwa pengembangan investasi di sektor pengolahan menjadi faktor krusial dalam menjaga tren pertumbuhan ekonomi daerah tersebut.
Selain manufaktur, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi fisik juga memberikan kontribusi signifikan sebesar 31,52%. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kontribusi PMTB secara nasional yang berada di level 29,36%.
Realisasi Investasi Semester I 2026
Hingga pertengahan tahun 2026, realisasi investasi di Jawa Tengah tercatat mencapai Rp48,54 triliun. Angka ini setara dengan 48,99 persen dari total target investasi tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp99,09 triliun.
Komposisi realisasi investasi tersebut terdiri dari:
- Penanaman Modal Asing (PMA): Rp25,92 triliun (53,40%)
- Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN): Rp22,62 triliun (46,60%)
Adapun lima wilayah dengan realisasi investasi terbesar di Jawa Tengah meliputi Kota Semarang (Rp6,57 triliun), Kabupaten Kendal (Rp6,56 triliun), Kabupaten Batang (Rp6,11 triliun), Kabupaten Temanggung (Rp4,58 triliun), dan Kabupaten Demak (Rp3,34 triliun).
Tantangan Perizinan dan Dukungan Pemerintah
Meski prospek investasi sangat kuat, Susiwijono mengingatkan pentingnya kepastian perizinan untuk menjaga kepercayaan investor. Ia mengakui bahwa dalam operasionalnya, investor sering kali menghadapi tantangan yang tidak sederhana.
“Problem investor itu tidak seideal itu, sehingga kita desain kebijakannya di awal dulu. Di dalam operasionalnya, selalu banyak tantangan dan kendala di sana,” tambahnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah pusat membuka ruang konsultasi bagi pemerintah daerah maupun investor. Mengingat kewenangan regulator dan kebijakan berada di pusat, dukungan ini diharapkan dapat membantu daerah dalam menyelesaikan kendala teknis guna mempercepat realisasi investasi di lapangan. (Ant/E-3)
