Istikamah Menjadi Santri
(MI/Seno)

SECARA historis, ingatan kolektif kita tentang santri selalu lekat pada stereotipe yang pekat: sosok bersarung, berpeci, hidup bersahaja di bilik-bilik bambu bernama kobong–kamar sederhana tempat para santri tidur, makan, berinteraksi, dan menghabiskan hari-hari mendalami lembaran kitab kuning. Identitas fisik dan kultural itu begitu kuat membentuk persepsi publik selama puluhan tahun.

Namun, zaman terus bergerak, dan sebutan santri pun mengalami pergeseran makna. Seperti kata Gus Mus, “Santri bukan saja yang mondok, tapi siapa pun yang berakhlak seperti santri, dialah santri.” Dalam definisi Kementerian Agama, santri adalah siapa saja yang memiliki pemahaman, akhlak, dan pengamalan keagamaan yang moderat, berjiwa toleran, serta cinta tanah air. Maka, hari ini kita menyaksikan wajah santri yang jauh lebih beragam. Karena kompetensinya, mereka berhasil merambah berbagai profesi: dokter, pebisnis, politisi, penguasa, hingga dunia akademik. Mereka adalah alumni berbagai universitas besar. Bukan saja universitas di dalam negeri ini, tetapi juga luar negeri dengan disiplin ilmu yang beragam.

Jika dulu penguasaan ilmu para santri lebih banyak bersumber dari kitab-kitab kuning karya ulama besar seperti Safinah, Bulughul Marrom, Sulamut Taufiq, Alfiyah, Ta’lim Muta’allim, Fathul Mu’in, Tafsir Jalalain, Ihya Ulumuddin, dan sejenisnya, referensi keilmuan santri hari ini telah diperkaya oleh pemikiran para pakar dunia dari berbagai disiplin. Bahkan magnum opus Karl Marx berjudul Das Kapital pun bisa jadi sudah mereka lahap.

 

RESOLUSI JIHAD

Yang tidak berubah, dan tidak akan pernah berubah, ialah DNA kesantriannya: nasionalisme yang berbasis spiritualitas keagamaan. DNA sekaligus fondasi moral itu berakar pada fatwa historis Resolusi Jihad yang digelorakan Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945, yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional (HSN). Fatwa monumental yang berbunyi hubbul wathan minal iman–cinta tanah air adalah sebagian dari iman–bagi kaum santri bukan sekadar doktrin teologis yang telah berhasil menggetarkan dan menggerakkan mereka tampil di garis depan mengusir penjajah. Ia tetap relevan, bahkan sangat dibutuhkan untuk menghadapi musuh-musuh bangsa yang hari ini jauh lebih berat dan kompleks. Meski musuh itu tidak lagi datang membawa bedil atau tank dari seberang lautan. Musuh itu nyata dan ada dalam tubuh bangsa, bahkan bisa jadi ada dalam tubuh santri itu sendiri. Wujud konkretnya, musuh itu adalah ketertinggalan, kebodohan, dan kemiskinan. Musuh itu adalah realitas bangsa yang masih sarat ketimpangan dan ketidakadilan.

Musuh berikut lebih berat lagi: watak serakah, rakus, bahkan munafik: mengaku paling NKRI, tetapi perilakunya korupsi. Musuh itu juga adalah benih-benih ‘ke-kita-an’ yang hari-hari ini masih sering tergerus oleh semangat ‘ke-kami-an’ kendati hanya karena beda preferensi politik.

 

JIHAD AKBAR

Kenyataan pahit ini memberi sinyal bahwa perjuangan kaum santri hari ini jauh lebih berat dan kompleks. Tidak hanya karena wujudnya yang sering tidak kasatmata, tetapi juga karena harus melawan bangsa sendiri. Bahkan bisa jadi harus melawan musuh yang ada dalam tubuh kaum santri sendiri. Jihad akbar, itulah yang sejatinya jadi panggilan bagi kaum santri hari ini.

Seperti fatwa Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya: Raja’na minal jihadil asghar ilal jihadil akbar. Wama jihadul akbar? Qala: jihadul qalbi au jihadun nafs — kita telah kembali dari jihad kecil (perang) menuju jihad akbar. Apa itu jihad akbar? Jawab Rasulullah: jihad hati atau jihad melawan nafsu.

Adalah juga Bung Karno, sang proklamator kemerdekaan yang juga pernah mengatakan, “Perjuanganku lebih mudah karena hanya mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”

Untuk itu, selaras dengan tema Hari Santri Nasional (HSN) 2026, Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, dan sesuai pula dengan logonya yang berbentuk ‘poros fondasi’ yang kokoh, maka ada beberapa agenda besar yang sejatinya bisa ditunjukkan kaum santri hari ini. Secara moral, kaum santri hari ini dituntut untuk istikamah merawat tradisi dan keteguhan imannya: istikamah menempatkan akhlak, adab, dan kedalaman spiritual keagamaan sebagai basis utama dalam menata kehidupan berbangsa. Di sini, kaum santri hadir menjadi benteng yang memastikan kemajuan bangsa ini tidak berjalan hampa tanpa fondasi moral dan spiritual.

Secara intelektual, kaum santri dipanggil untuk terus memperluas cakrawala pengetahuan melampaui sekat-sekat tradisional tanpa kehilangan sanad keilmuan yang autentik. Representasi ‘lingkaran elemen cita’ dan pancaran warna keemasan pada logo HSN 2026 menegaskan bahwa kaum santri tampil menjadi motor penggerak transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi guna mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Sesuai dengan DNA yang dimiliki, kaum santri hari ini harus terus berkiprah melakukan berbagai aksi nyata menyuarakan semangat inklusivitas sebagai manifestasi dari keislaman yang rahmatan lil’alamin. Desain logo HSN 2026 yang mengusung konsep anyaman adalah panggilan bagi kaum santri untuk istikamah merawat NKRI, istikamah merawat Indonesia.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *