
MILITER negara-negara Barat dinilai belum siap menghadapi tantangan perang bawah tanah (underground warfare), medan tempur viseral dan klaustrofobik yang kini menjadi ciri khas konflik di Timur Tengah. Peringatan ini muncul dalam laporan terbaru dari Jewish Institute for National Security of America (JINSA) yang dibagikan kepada Axios.
Laporan tersebut disusun bersama oleh Kolonel David, seorang insinyur tempur elite yang memimpin operasi kontra-terowongan Israel pascaserangan 7 Oktober. Dokumen ini memberikan akses yang belum pernah ada, termasuk foto-foto fasilitas bawah tanah Hizbullah serta sel tahanan dan terowongan Hamas di Rafah yang ukurannya cukup besar untuk dilalui kendaraan jenis Jeep.
Urgensi Peringatan bagi Militer Global
Yoni Tobin, analis kebijakan senior JINSA sekaligus rekan penulis laporan tersebut, menyatakan bahwa publikasi ini bertujuan untuk membunyikan alarm bagi militer dunia. “Israel adalah salah satu militer paling adaptif dalam sejarah, tetapi mereka tetap menghadapi tantangan luar biasa saat menghadapi ancaman ini,” ujar Tobin.
Laporan tersebut merinci lima poin utama yang dipetik dari pengalaman Israel di lapangan:
- Sinkronisasi Operasi: Menyatukan operasi di atas dan di bawah tanah sebagai satu upaya kohesif yang tunggal.
- Pembaruan Konsep Militer: Mengubah struktur, bahasa, dan konsep militer untuk memperlakukan medan bawah tanah bukan sebagai isu spesialis, melainkan faktor yang berdampak pada seluruh konflik.
- Pengawasan Rantai Pasok: Memantau dan mengganggu transfer pengetahuan serta rantai pasokan teknologi terowongan, bahkan di masa damai.
Implikasi bagi Amerika Serikat
Intrik mengenai kesiapan tempur ini juga disoroti oleh Angkatan Darat AS. Laporan militer AS yang diterbitkan pada tahun 2025 menyimpulkan bahwa pasukan Amerika mungkin tidak akan bisa menghindari pertempuran bawah tanah di masa depan. Laporan tersebut merekomendasikan studi mendalam terhadap keberhasilan dan kegagalan Pasukan Pertahanan Israel (IDF).
Blaise Misztal, Wakil Presiden Kebijakan JINSA, menekankan pentingnya menjaga akses terhadap pelajaran yang didapat oleh mitra garis depan seperti Israel. Menurutnya, saat ini terdapat risiko politik yang dapat menghambat transfer pengetahuan krusial tersebut.
“Ini tentang meningkatkan profil–atau alarm–atas ancaman bawah tanah ini, sekaligus mengakui pelajaran berharga yang telah dipelajari Israel dengan susah payah,” pungkas Misztal. (Axios/I-2)
