Lima Hal Penting tentang DeepSeek, Startup AI Tiongkok Guncang Dunia
Ilustrasi.(Magnific)

DEPARTEMEN Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (DHS) secara resmi memerintahkan lembaga pemerintah untuk menghentikan penggunaan alat kecerdasan buatan (AI) dari DeepSeek. Keputusan yang diambil pada Senin (19/10) waktu setempat ini didasari oleh kekhawatiran atas transfer data ke Tiongkok.

Langkah ini menambah daftar panjang pembatasan terhadap startup asal Beijing tersebut. Berikut lima hal utama yang perlu diketahui mengenai DeepSeek di tengah meningkatnya ketegangan teknologi global.

1. Sputnik Moment bagi Dunia Teknologi

Didirikan oleh Liang Wenfeng di Hangzhou pada tahun 2023, DeepSeek awalnya merupakan proyek sampingan dari dana lindung nilai (hedge fund) berbasis data milik Liang. Perusahaan ini memiliki akses ke prosesor AI kuat buatan raksasa cip AS, Nvidia.

DeepSeek mengguncang dunia pada Januari 2025 dengan merilis model bahasa besar (LLM) R1. Model ini memiliki kemampuan penalaran mendalam yang setara dengan ChatGPT milik OpenAI, tetapi dikembangkan dengan biaya yang jauh lebih murah.

Investor ventura Marc Andreessen menyebut fenomena tersebut sebagai Sputnik Moment. Ini merujuk pada peluncuran satelit pertama Uni Soviet tahun 1957 yang mengejutkan Barat.

2. Kekhawatiran Sensor dan Privasi Data

Sebagaimana chatbot lain asal Tiongkok, DeepSeek menghindari topik-topik sensitif yang disensor negaranya, seperti peristiwa Tiananmen 1989. Hal ini, ditambah kekhawatiran privasi data, membuat DeepSeek dilarang di perangkat pemerintah beberapa negara, termasuk AS, Australia, dan Korea Selatan.

Pemerintah AS kini melarang lembaga sipil menggunakan produk DeepSeek maupun alat pihak ketiga yang dibangun menggunakan teknologi mereka. Menanggapi hal ini, Kementerian Luar Negeri Tiongkok menuduh AS terlalu memperluas konsep keamanan nasional.

3. Strategi Open Source

Berbeda dengan model tertutup milik OpenAI, sistem DeepSeek bersifat open-source. Artinya, cara kerja internalnya dapat diakses publik, memungkinkan pemrogram untuk menyesuaikan perangkat lunak sesuai kebutuhan mereka. Strategi ini juga diadopsi oleh raksasa lain Tiongkok seperti Alibaba.

Pemerintah Tiongkok mendukung penuh inovasi open-source ini karena dianggap dapat mempercepat ekosistem inovasi. Menurut data Similarweb, DeepSeek saat ini memegang sekitar 4 persen pangsa pasar chatbot global, sementara ChatGPT masih mendominasi dengan 68 persen.

4. Pendorong Ekosistem Startup AI Tiongkok

Keberhasilan DeepSeek membangkitkan semangat sektor AI di Tiongkok. Pada Juni lalu, investor memberikan valuasi lebih dari US$50 miliar (sekitar Rp785 triliun) kepada DeepSeek dalam putaran pendanaan pertamanya.

Dampaknya terasa luas. Saham startup AI lain seperti Zhipu AI dan MiniMax melonjak saat debut pasar di Hong Kong. Antusiasme investor terhadap teknologi AI Tiongkok dilaporkan meningkat tajam sejak kemunculan DeepSeek, meskipun ada tantangan persaingan ketat dengan Amerika Serikat.

5. Kontroversi Penyelundupan Cip

Kebangkitan DeepSeek diiringi laporan kontroversial mengenai pengadaan perangkat keras. Laporan dari The Information menyebutkan bahwa DeepSeek diduga menghindari larangan ekspor cip kelas atas AS untuk melatih model V4 mereka.

Diduga, ribuan cip Nvidia dibongkar di negara ketiga dan diselundupkan ke Tiongkok. Meski Nvidia menyebut klaim penyelundupan tersebut tidak masuk akal, DeepSeek mengakui pada April lalu bahwa mereka menggunakan kombinasi cip Nvidia dan cip Ascend buatan Huawei untuk model terbaru mereka. Saat ini, Washington menilai teknologi terbaru DeepSeek masih tertinggal sekitar delapan bulan dari produk unggulan perusahaan AS. (AFP/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *