
EMPAT tahun bukan waktu yang panjang untuk sebuah lini usaha. Namun, dalam rentang tersebut, TOSERBAKU mulai bergeser dari sekadar pelengkap bisnis kopi menjadi ruang untuk mengembangkan produk gaya hidup dengan pendekatan yang berbeda.
Lini bisnis Toko Kopi TUKU itu lahir dari pengamatan sederhana terhadap kebiasaan konsumen. Dari antrean di gerai kopi, muncul kebutuhan akan barang-barang yang bisa menemani aktivitas sehari-hari, bukan hanya secangkir kopi. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi produk yang lebih beragam, sekaligus membuka ruang bagi kolaborasi dengan berbagai kreator dan pengrajin lokal.
Memasuki tahun keempat, arah tersebut mulai dipertegas. TOSERBAKU menjadikan konsep Ramah sebagai pijakan dalam mengembangkan produk, mulai dari pemilihan bahan hingga cara bekerja sama dengan pihak lain.
Bagi mereka, ‘ramah’ tidak semata-mata berkaitan dengan tampilan atau identitas sebuah produk. Konsep tersebut ditempatkan sebagai cara untuk melihat dampak yang muncul dari setiap proses produksi, baik terhadap lingkungan, orang-orang yang terlibat di dalamnya, maupun konsumen yang menggunakan produk tersebut.
Pendekatan itu salah satunya terlihat dari pemanfaatan limbah kantong krimer. Sejak 2020, material tersebut dikumpulkan dan diolah bersama pelaku UMKM di Gunung Sindur agar tidak berakhir sebagai sampah begitu saja.
Hasilnya cukup beragam. Sebanyak 5,53 ton kantong krimer telah diolah menjadi lebih dari 25 jenis barang, mulai dari totebag, pouch, dan coaster hingga furnitur serta suvenir untuk toko.
Upaya tersebut menjadi bagian dari praktik ekonomi sirkular yang dikembangkan di lingkungan MAKA Group. Dalam laporan keberlanjutan 2025 perusahaan, disebutkan sebanyak 92 persen limbah telah dialihkan dari tempat pembuangan akhir.
Bagi TOSERBAKU, pemanfaatan material bekas bukan berhenti pada kegiatan daur ulang. Ada upaya untuk melihat kembali bagaimana sebuah bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat diberi fungsi baru dan masuk kembali ke siklus penggunaan.
VP Growth & Expansion TUKU Diana Frances, mengatakan, pendekatan tersebut akan semakin mendapat porsi dalam pengembangan bisnis ke depan.
“Ramah bukan hanya identitas kreatif, tetapi arah strategis bagi TOSERBAKU. Kami melihat potensi besar dalam produk daur ulang dan upcycle sebagai lini yang relevan dengan kebutuhan konsumen,” ujarnya.
Menurut dia, pengembangan produk berbasis material daur ulang juga tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat yang terlibat dalam prosesnya.
“Ini bukan sekadar ekspansi produk, tetapi komitmen untuk memastikan bahwa setiap langkah bisnis membawa dampak baik bagi lingkungan dan komunitas,” tambahnya.
Karena itu, periode 2026-2027 akan digunakan untuk memperluas eksperimen tersebut. TOSERBAKU berencana menghadirkan lebih banyak kolaborasi yang mempertemukan desain, fungsi, dan cerita di balik sebuah produk.
Sejumlah nama kreator lokal telah disiapkan untuk terlibat, antara lain Blasu Studio, Mortier, dan Stuffo. Kolaborasi di ranah fesyen juga akan dilakukan bersama 347 Homebreaks.
Eksplorasi tidak hanya berhenti pada desain. TOSERBAKU juga akan mencoba lebih banyak material baru bersama pengrajin dan inovator lokal, termasuk bahan hasil daur ulang serta sisa material dari kegiatan operasional.
Di saat yang sama, mereka berencana memperkenalkan edukasi mengenai pemilahan material dan konsumsi yang lebih sadar. Harapannya, pembicaraan mengenai keberlanjutan tidak hanya berhenti di proses produksi, tetapi ikut sampai ke orang yang membeli dan menggunakan produk.
Dengan arah tersebut, TOSERBAKU tampaknya ingin menempatkan keberlanjutan sebagai bagian dari keputusan bisnis sehari-hari, bukan sekadar tema yang muncul ketika sebuah kampanye diluncurkan.
Empat tahun perjalanan akhirnya membawa lini usaha ini pada pertanyaan yang lebih besar: bukan hanya apa yang bisa dibuat dan dijual, tetapi juga dari mana bahan itu berasal, bagaimana barang tersebut diproduksi, dan apa yang terjadi setelah masa pakainya berakhir.
Jawabannya masih terus dicari. Namun, dari kantong krimer yang diolah kembali menjadi berbagai barang hingga kolaborasi dengan pelaku kreatif lokal, upaya tersebut menunjukkan bahwa arah baru itu mulai dibangun dari hal-hal yang konkret.
Sebagai bagian dari ekosistem MAKA Group, perkembangan dan capaian terkait keberlanjutan tersebut juga dilaporkan melalui Sustainability Report 2025 yang dipublikasikan perusahaan. Laporan itu menjadi rujukan untuk melihat berbagai langkah pengelolaan lingkungan dan keberlanjutan yang dilakukan di dalam ekosistem bisnisnya. (Z-10)
