
KONDISI di enam provinsi prioritas penanganan karhutla, khususnya di wilayah Sumatra dan Kalimantan, curah hujan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan berada pada kategori menengah hingga tinggi, berkisar 50–300 mm per dasarian pada dasarian I November. Curah hujan tersebut diprakirakan meluas dan meningkat pada dasarian berikutnya.
“Sementara itu, wilayah Papua diprakirakan mengalami peningkatan curah hujan mulai dasarian II November, dengan kisaran 50–150 mm per dasarian, yang diprakirakan terus meningkat hingga Desember 2026,” kata Prakirawan BMKG, Wahyu Argo dalam keterangannya, Jumat (16/10).
Selain itu, ia juga menjelaskan potensi penyebaran asap karhutla dari Kalimantan dan daerah lainnya. Berdasarkan hasil pemantauan citra satelit terkini, sebaran asap teridentifikasi di sejumlah wilayah Indonesia, meliputi sebagian besar provinsi di Sumatra, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, seluruh provinsi di Kalimantan, sebagian Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta sejumlah wilayah di Papua.
Secara umum, arah pergerakan asap bervariasi antardaerah. Di sebagian besar wilayah Sumatra, Kalimantan, Maluku, dan Papua, sebaran asap terpantau bergerak ke arah barat laut hingga timur laut. Sementara itu, di wilayah Jawa dan Sulawesi, pergerakan asap cenderung mengarah ke tenggara hingga barat daya.
Berdasarkan analisis kondisi angin, pada lapisan atmosfer menengah hingga atas, angin umumnya bertiup dari arah timur laut hingga tenggara. Kondisi ini memungkinkan terjadinya transportasi asap dari wilayah sumber kebakaran menuju daerah lain, termasuk potensi penyebaran asap dari Kalimantan ke wilayah Jawa bagian barat, terutama pada lapisan atmosfer menengah hingga atas.
Namun demikian, perlu dipahami bahwa keberadaan asap yang terdeteksi melalui citra satelit tidak selalu menunjukkan bahwa asap tersebut telah mencapai permukaan atau secara langsung menurunkan kualitas udara. Dampaknya terhadap suatu wilayah sangat bergantung pada ketinggian lapisan asap, arah dan kecepatan angin, serta kondisi stabilitas atmosfer.
“BMKG terus memantau perkembangan sebaran asap dan kondisi atmosfer untuk mengidentifikasi potensi pergerakannya ke wilayah lain. Masyarakat diimbau untuk tetap memperhatikan informasi kualitas udara terkini dan perkembangan informasi resmi dari BMKG,” pungkasnya. (Iam/P-3)
