IDAI Sarankan Anak Belajar dari Rumah saat Karhutla
Guru Matematika Edi Sukendri memberikan materi pembelajaran secara daring kepada murid melalui aplikasi TikTok di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis (15/10/2026)(ANTARA/Jessica Wuysang)

IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti pentingnya penyesuaian kegiatan belajar anak ketika kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). 

Pembelajaran jarak jauh (PJJ) dapat diterapkan berdasarkan tingkat pencemaran udara untuk mengurangi paparan asap yang berisiko mengganggu kesehatan anak.

Dokter spesialis anak dari Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI Fifi Sofiah menjelaskan, keputusan mengenai kegiatan belajar perlu mempertimbangkan hasil pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) harian. Semakin tinggi tingkat pencemaran, semakin besar pula pembatasan aktivitas anak di luar ruangan yang perlu dilakukan.

“Jadi, apabila ISPU-nya ataupun air quality index-nya masih di bawah 50, silakan kondisinya belajar seperti biasa di sekolah. Namun apabila sudah di atas 50 menjadi perhatian,” kata Fifi dalam media briefing IDAI, Jumat (16/10).

Menurut Fifi, ketika kualitas udara mulai memburuk, sekolah perlu mempertimbangkan pembatasan kegiatan luar ruang, seperti upacara, olahraga, dan ekstrakurikuler. Langkah tersebut bertujuan mengurangi paparan polutan yang terhirup anak selama beraktivitas.

Pada tingkat pencemaran yang lebih tinggi, pembelajaran dapat dialihkan ke rumah, terutama bagi kelompok rentan. Anak-anak dengan asma, alergi, penyakit jantung bawaan, maupun gangguan kesehatan kronis perlu mendapat perhatian khusus karena lebih berisiko mengalami dampak paparan asap.

“Sedangkan di atas 200 hingga 300 wajib PJJ, baik daring maupun luring maupun kombinasi keduanya,” ujar Fifi. 

Ia menjelaskan, apabila ISPU mencapai lebih dari 300 atau masuk kategori berbahaya, upaya perlindungan anak harus diperketat. Anak perlu dijauhkan dari paparan udara tercemar dan ditempatkan di lingkungan dengan udara bersih.

Fifi menjelaskan, anak lebih rentan terdampak polusi karena bernapas lebih sering dibandingkan orang dewasa, sementara sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang.

Karena itu, orang tua juga diminta memantau kualitas udara di sekitar tempat tinggal dan membatasi aktivitas luar ruang ketika pencemaran meningkat. Di rumah, keluarga dapat menutup pintu dan jendela saat asap masuk serta menyiapkan ruangan dengan udara yang lebih bersih.

“Apabila anak mengalami sesak napas, kesulitan makan atau minum, atau tampak sangat mengantuk hingga mengalami penurunan kesadaran, orang tua perlu segera mencari pertolongan medis,” ungkapnya. (H-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *