
Di tengah dunia bisnis yang semakin lekat dengan target, metrik, algoritma, dan indikator kinerja, para pemimpin perusahaan menghadapi tantangan yang tidak selalu terlihat dari laporan keuangan, yakni kelelahan mental dan krisis makna. Fenomena ketika keberhasilan mencapai target bisnis tidak selalu berbanding lurus dengan kepuasan batin menjadi salah satu isu yang dibahas dalam Indonesia Leadership Scale Up (IDLS) 2026.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Arif Satria menilai tekanan untuk terus menghasilkan angka dapat membuat pemimpin kehilangan sisi kemanusiaannya. Menurutnya, pemimpin tidak seharusnya hanya berperan sebagai penghasil target, tetapi juga mampu menjaga integritas dan menemukan kembali makna dari kepemimpinan yang dijalankan.
Ia mengatakan, persoalan kepemimpinan tidak dapat diselesaikan hanya melalui perubahan strategi bisnis ataupun peningkatan insentif. Transformasi organisasi, menurut dia, perlu diawali dari kualitas pribadi dan ketahanan batin pemimpinnya.
“Pemimpin sejati harus memastikan bahwa setiap pencapaian bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan dari tanggung jawab dan nilai luhur yang dipegang teguh. Jangan sampai kita mengejar target, tapi kehilangan jiwa,” tegas Arif.
Dalam kesempatan tersebut, Arif juga membacakan Surat untuk Pemimpin yang mengajak para pemimpin melihat kembali hubungan antara kinerja, makna, dan manusia di dalam organisasi.
Menurutnya, target memang dibutuhkan untuk memberikan arah, sedangkan ukuran kinerja diperlukan untuk menjaga disiplin. Namun, keberlanjutan kinerja pada akhirnya sangat ditentukan oleh kondisi batin pemimpin dan kemampuannya menggerakkan orang lain melalui nilai yang diyakini.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan Inspirator SuksesMulia, Jamil Azzaini, yang memperkenalkan buku terbarunya berjudul Spiritual Leadership. Ia menilai kepemimpinan spiritual tidak bertentangan dengan kebutuhan dunia bisnis, tetapi justru dapat menjadi fondasi untuk menjaga keberlanjutan organisasi.
“Target dan angka sangat penting memberi arah dan disiplin organisasi. Namun, kinerja yang berdaya tahan hanya lahir dari jiwa yang hidup. Spiritual Leadership hadir bukan menggantikan strategi bisnis, tetapi menjadi fondasi batin yang kokoh agar strategi dijalankan oleh manusia yang utuh, tangguh, dan bermakna,” ungkap Jamil.
Gagasan mengenai kepemimpinan yang berorientasi pada manusia juga disampaikan Co-Founder ParagonCorp, Salman Subakat. Ia mengatakan keberhasilan membangun organisasi dalam skala besar perlu ditopang budaya kepemimpinan yang mampu menumbuhkan rasa peduli dan kebersamaan.
Salah satu prinsip yang diterapkan adalah Spread Altruistic Love, yakni membangun kepedulian yang tulus di lingkungan kerja. Menurut Salman, pendekatan tersebut dapat membantu menciptakan budaya organisasi yang suportif sehingga karyawan dapat berkembang bersama perusahaan.
Sementara itu, Direktur Utama ASDP Indonesia Ferry periode 2017-2024, Ira Puspadewi, berbagi perspektif mengenai pentingnya menjaga ketenangan batin ketika menghadapi tekanan dan krisis. Ia mengedepankan prinsip Surrender with Action, yaitu mengerahkan ikhtiar secara maksimal dalam menjalankan tanggung jawab profesional sekaligus menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. Prinsip tersebut menjadi salah satu pegangan Ira ketika harus mengambil keputusan penting dalam situasi penuh tekanan.
Dari sisi pengelolaan tim, Grand Master Grounded Business Coach Coach Fahmi menyoroti kecenderungan pemimpin melakukan micromanagement atau pengawasan berlebihan terhadap anggota tim. Menurutnya, pola tersebut justru dapat menguras energi pemimpin sekaligus menghambat kemandirian anggota organisasi. Karena itu, pemimpin perlu membangun ownership dan menumbuhkan rasa tanggung jawab dari dalam diri setiap anggota tim.
“Ketika kita mampu menyalakan panggilan jiwa (Amplify Soul Calling) anggota tim, mereka akan bekerja dengan inisiatif dan tanggung jawab penuh. Tim akan bergerak mandiri tanpa harus dibayangi pengawasan yang justru melelahkan pemimpinnya,” jelas Fahmi.
Berbagai perspektif tersebut dibahas dalam perhelatan Indonesia Leadership Scale Up (IDLS) 2026 yang diselenggarakan Kubik Leadership. Acara yang berlangsung di Ballroom The Gade Tower, Jakarta Pusat, Minggu (9/8), tersebut diikuti lebih dari 600 CEO, pemilik bisnis, dan manajer dari berbagai industri.
Direktur Kubik Leadership Atok R Aryanto turut memandu rangkaian diskusi yang membahas tantangan kepemimpinan serta kebutuhan membangun organisasi yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga memiliki fondasi nilai yang kuat.
Melalui IDLS 2026, para pemimpin bisnis diajak melihat kembali makna kepemimpinan di tengah tuntutan dunia usaha yang semakin kompleks. Paradigma “Jiwa Dulu, Baru Angka” menjadi pesan utama bahwa pertumbuhan bisnis dan pencapaian target tetap penting, tetapi harus berjalan beriringan dengan kemampuan memanusiakan anggota organisasi.
Dengan fondasi tersebut, kepemimpinan diharapkan tidak hanya mampu menghasilkan pencapaian jangka pendek, tetapi juga membangun organisasi yang tangguh, manusiawi, dan memiliki dampak berkelanjutan. (E-3)
