
SOSOK legendaris industri kecantikan sekaligus pelopor brand Sariayu, Martha Tilaar, meninggal dunia pada Rabu (14/10) pagi dalam usia 89 tahun. Kepergian tokoh nasional ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan dunia usaha di Indonesia.
Putra sulung Martha Tilaar, Bryan Tilaar, mengungkapkan kronologi kepulangan sang ibunda. Meski pihak rumah sakit menyatakan waktu kematian pada pukul 06.30 WIB, Bryan meyakini ibundanya telah wafat sekitar pukul 05.00 WIB, tak lama setelah tim medis memeriksa tensi pada pukul 04.00 WIB.
“Jadi posisinya lagi beristirahat. Tidur tidak bangun, jadi tidak ada rasa kesiksa,” ujar Bryan saat mengenang momen keluarga berusaha membangunkan Martha dari tidur lelapnya.
Bryan menjelaskan bahwa kondisi kesehatan Martha memang menurun dalam beberapa waktu terakhir. Sebelum mengembuskan napas terakhir, Martha telah menjalani perawatan selama sembilan malam akibat penyakit asma yang berlanjut pada pendarahan. Kondisi serupa diketahui pernah terjadi sekitar satu setengah tahun yang lalu.
“Namanya sudah usia 89 kan, mungkin beliau sudah sangat rentan,” tambah Bryan, merujuk pada faktor usia yang membuat kondisi fisik sang ibunda semakin melemah.
Selain menceritakan detik-detik terakhir, Bryan juga mengenang warisan nilai yang ditinggalkan Martha. Sepanjang hidupnya, Martha Tilaar dikenal sebagai sosok pekerja keras yang memiliki visi besar untuk mempercantik Indonesia melalui produk-produk lokal yang inovatif.
Dalam menjalankan bisnis, Martha selalu menekankan pentingnya etika dan moral. Ia berpesan kepada anak-anaknya bahwa berbisnis tidak boleh dilakukan dengan cara mengakali orang lain. Sikap jujur, tekun, penuh iman, dan pantang menyerah menjadi fondasi utama mengapa kerajaan bisnisnya mampu bertahan selama puluhan tahun.
Kini, tongkat estafet kepemimpinan perusahaan kecantikan tersebut resmi diteruskan kepada generasi berikutnya. “Bisnis ini dilanjutkan kepada generasi-generasi selanjutnya. Generasi saya dan adik-adik saya,” pungkas Bryan. (Z-10)
