
MENGARUNGI musim kembali ke sekolah kerap membawa tantangan tersendiri bagi para orangtua, salah satunya dalam menyiapkan bekal makan siang. Tidak sedikit anak yang secara konsisten meminta menu yang persis sama setiap hari. Di satu sisi, rutinitas ini memudahkan orangtua yang sibuk. Namun, di sisi lain muncul keraguan: apakah kebiasaan ini aman bagi tumbuh kembang dan nutrisi mereka?
Ahli gizi terdaftar sekaligus pakar nutrisi anak, Jill Castle, MS, RDN, menjelaskan fenomena ini sangat lumrah. Lingkungan sekolah sering kali terasa riuh dan melelahkan bagi anak-anak, sehingga makanan yang familiar memberikan rasa nyaman.
“Prediktabilitas dan rasa aman dari memiliki makanan yang sama setiap hari di dalam kotak makan mungkin sangat mendukung fungsi mereka di sekolah,” ujar Castle. “Prediktabilitas itu, jangkar utama dalam hari mereka, bisa jadi hal yang menjaga mereka tetap tenang dan fokus selama jam sekolah.”
Selain mencari kenyamanan, pilihan makanan juga menjadi ajang bagi anak untuk menunjukkan independensi. Janet Gaytan, RD, LD, ahli gizi anak di Cook Children’s Health Care System, menambahkan bahwa interaksi dengan teman sebaya turut memengaruhi keputusan tersebut. Menurutnya, anak-anak sedang belajar menunjukkan otonomi diri, dan makanan adalah salah satu sarananya. Pengaruh atau tekanan dari teman sekelas juga kerap membentuk preferensi mereka.
Para orangtua tidak perlu panik jika menghadapi situasi ini. Castle menegaskan kebiasaan meminta menu sama umumnya merupakan fase sementara, terutama pada anak usia lebih muda. Selama anak masih mengonsumsi variasi makanan pada waktu makan lainnya, hal ini bukan masalah besar. Orangtua disarankan untuk tetap sabar, terus mengenalkan beragam variasi makanan, dan percaya bahwa fase ini akan berlalu. Namun, jika ada kekhawatiran terkait kekurangan gizi, Gaytan menyarankan untuk berkonsultasi dengan ahli gizi guna mendapatkan panduan intervensi diet atau suplemen yang tepat.
Untuk memastikan kebutuhan nutrisi harian tetap terpenuhi, Castle mendorong orangtua untuk berfokus pada variasi sumber protein serta menambahkan warna dari buah dan sayur. “Kita benar-benar ingin memastikan anak-anak mendapatkan energi yang cukup sepanjang hari agar mereka dapat tumbuh, belajar, dan bermain,” tuturnya. Orangtua juga bisa mengajak anak berinteraksi dengan makanannya melalui cara yang menyenangkan untuk meningkatkan rasa familier.
Sementara itu, Gaytan menyarankan beberapa langkah praktis, seperti menggabungkan makanan baru dengan makanan favorit anak untuk mengurangi tekanan. Ia juga merekomendasikan untuk melibatkan anak dalam penyiapan bekal sesuai usianya.
“Mencoba melibatkan anak-anak secara langsung dalam prosesnya adalah cara yang sangat baik untuk membuat mereka tertarik dan terikat dengan makanan,” kata Gaytan. Anak-anak yang diberi ruang suara dalam memilih dan menyiapkan bekal cenderung lebih bersemangat untuk menghabiskan makanannya.
Pada akhirnya, menyiapkan bekal sekolah memang penuh keterbatasan, mulai dari ketiadaan pemanas makanan, batas suhu penyimpanan, hingga aturan alergi di sekolah. Castle mengingatkan agar orangtua tidak terlalu stres dan menuntut kesempurnaan di setiap waktu makan.
“Anda tidak harus 100% sempurna di setiap waktu makan untuk bisa dikatakan berhasil,” ucap Castle. “Ingatlah masih banyak kesempatan lain untuk memastikan anak mendapatkan nutrisi yang mereka butuhkan demi menyeimbangkan menu makan siang yang berulang.”
Jika makan siang anak selalu sama, orangtua masih dapat mengoptimalkan asupan gizi melalui sarapan, makan malam, dan camilan harian. Menjaga fleksibilitas dan melihat gambaran nutrisi secara keseluruhan akan membantu menciptakan suasana makan yang sehat tanpa memicu stres pada anak maupun orangtua. (Parents/Z-2)
