Ketimpangan Melebar, Gini Ratio Naik ke 0,368
Warga berjalan di perkampungan padat penduduk tepi rel kereta api di Kampung Bandan, Jakarta, Jumat (14/10/2022).(Antara)

TINGKAT ketimpangan pengeluaran penduduk Indonesia kembali meningkat pada Maret 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat gini ratio sebesar 0,368, naik 0,005 poin dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,363. Kenaikan ini menunjukkan distribusi pengeluaran masyarakat menjadi lebih timpang, meski angkanya masih jauh dari nilai 1 yang mencerminkan ketimpangan sempurna.

“Pada Maret 2026 ketimpangan di Indonesia tercatat sebesar 0,368 atau naik sebesar 0,005 poin,” ujar Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud dalam konferensi pers, Rabu (5/8).

Pelebaran ketimpangan tersebut mengindikasikan jurang perbedaan pengeluaran antarkelompok masyarakat kembali meningkat setelah sebelumnya menunjukkan tren perbaikan dalam beberapa tahun terakhir.

Berdasarkan wilayah tempat tinggal, BPS mencatat tingkat ketimpangan di perkotaan masih lebih tinggi dibandingkan perdesaan. Rasio gini di wilayah perkotaan pada Maret 2026 tercatat sebesar 0,387, naik 0,004 poin dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,383.

Sementara itu, rasio gini di wilayah perdesaan mencapai 0,296, meningkat 0,001 poin dibandingkan September 2025 yang sebesar 0,295.

“Ketimpangan (pengeluaran ekonomi) perkotaan lebih tinggi dibandingkan perdesaan,” kata Edy.

Meski mengalami kenaikan pada periode terbaru, secara historis tingkat ketimpangan pengeluaran di Indonesia sempat menunjukkan tren membaik dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data BPS, rasio gini nasional berada di level 0,384 pada Maret 2021, kemudian mencapai puncaknya di 0,388 pada Maret 2023. Setelah itu, ketimpangan terus menurun hingga mencapai 0,363 pada September 2025.

Perbaikan tersebut didorong oleh menurunnya disparitas pengeluaran baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Di perkotaan, rasio gini turun dari 0,401 pada Maret 2021 menjadi 0,395 pada Maret 2025 setelah sempat mencapai 0,409 pada Maret 2023. Sementara di perdesaan, rasio gini juga terus menurun dari 0,315 pada Maret 2021 menjadi 0,299 pada Maret 2025.

Namun, tren penurunan tersebut berbalik arah pada periode September 2025 hingga Maret 2026. Kenaikan rasio gini pada periode ini menunjukkan bahwa pemerataan pengeluaran kembali menghadapi tantangan, baik di kawasan perkotaan maupun perdesaan. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *