Penelitian Ungkap Bentuk Otak Orang Dewasa Bisa Berubah
Ilustrasi otak(Magnific)

SEBUAH penelitian mengungkap bahwa bentuk otak orang dewasa ternyata masih dapat berubah seiring meningkatnya kesehatan otak. Perubahan tersebut bukan ditandai dengan bertambah besarnya ukuran otak, melainkan pada permukaan korteks yang memiliki lipatan lebih rapat dan lekukan yang semakin dalam.

Temuan ini menunjukkan bahwa otak orang dewasa masih memiliki kemampuan untuk beradaptasi atau melakukan remodeling ketika kemampuan berpikir, kesehatan emosional, dan kesejahteraan sosial seseorang mengalami peningkatan.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Brain Imaging and Behavior itu dipimpin oleh Dr. Robyn A. Honea dari University of Kansas Medical Center bersama tim peneliti. Informasi tersebut dilansir dari Earth.com.

Pemindaian MRI Selama Empat Tahun

Dalam penelitian tersebut, tim melibatkan 190 orang dewasa sehat berusia 20 hingga 70 tahun. Para peserta mengikuti program peningkatan kesehatan otak di Center for BrainHealth, University of Texas at Dallas, Amerika Serikat.

Mereka menjalani hingga lima kali pemeriksaan magnetic resonance imaging (MRI) selama sekitar empat tahun. Namun, peneliti membandingkan hasil pemindaian pertama dan terakhir untuk melihat perubahan yang terjadi.

Setiap peserta juga memperoleh nilai BrainHealth Index, yaitu indikator yang menggabungkan hasil tes kemampuan berpikir dan kuesioner mengenai kondisi emosional serta kehidupan sosial. Rata-rata skor peserta meningkat sekitar 33 poin selama masa penelitian, meskipun peningkatannya berbeda pada setiap individu.

Untuk mengetahui apakah peningkatan kesehatan otak disertai perubahan fisik, peneliti menganalisis struktur korteks serebral secara rinci.

Selain mengukur volume dan ketebalan korteks, mereka juga mengamati tingkat pelipatan korteks, kedalaman sulkus atau lekukan di antara lipatan otak, serta kompleksitas pola lipatan.

Hasilnya menunjukkan bahwa volume dan ketebalan otak hampir tidak berubah. Sebaliknya, perubahan terlihat pada permukaan korteks yang menjadi lebih rapat dan memiliki lekukan lebih dalam.

Peningkatan tersebut terutama ditemukan pada dua wilayah di belahan kiri otak, yaitu insula dan posterior cingulate. Insula diketahui berperan dalam kesadaran diri, pengolahan emosi, dan berbagai fungsi kognitif, sedangkan posterior cingulate berkaitan dengan memori dan proses berpikir.

Temuan ini memperkuat penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa latihan memori dapat meningkatkan tingkat pelipatan korteks pada area parietal, wilayah otak yang berperan dalam perhatian dan kemampuan berpikir.

Berbeda Pada Pria dan Wanita

Peneliti juga menemukan adanya perbedaan pola perubahan berdasarkan jenis kelamin. Pada wanita, peningkatan kesehatan otak berkaitan dengan semakin dalamnya lekukan di tiga wilayah otak, terutama pada precuneus yang berperan dalam memori dan refleksi diri. Pendalaman sulkus juga ditemukan pada area temporal yang berhubungan dengan bahasa serta wilayah cingulate yang menghubungkan fungsi emosi dan proses berpikir.

Sementara itu, pada pria, perubahan lebih banyak terlihat pada meningkatnya kompleksitas lipatan korteks di wilayah parietal. Peneliti juga menemukan bahwa peningkatan pelipatan pada area insula yang terlihat pada seluruh peserta terutama dipengaruhi oleh kelompok pria.

Hingga kini, para ilmuwan belum mengetahui secara pasti mekanisme yang menyebabkan perubahan bentuk permukaan otak tersebut. Mereka menduga perubahan dipicu oleh pertumbuhan maupun pengurangan koneksi antarneuron yang mengubah susunan jaringan saraf. Perubahan pada sel-sel pendukung neuron maupun pembuluh darah kecil yang memasok nutrisi ke otak juga diperkirakan ikut berperan.

Sejumlah penelitian pada hewan sebelumnya menunjukkan bahwa perubahan struktur otak setelah proses latihan lebih disebabkan oleh penyusunan ulang jaringan saraf daripada pembentukan neuron baru.

Tim peneliti pun meyakini bahwa otak orang dewasa masih memiliki kemampuan plastisitas yang lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan. Mereka menyebut kemampuan tersebut sebagai latent neuroplasticity, yaitu potensi plastisitas otak yang tetap bertahan sepanjang masa dewasa.

“Pesan praktisnya adalah terus berinvestasi pada aktivitas fisik, tidur yang berkualitas, melatih kemampuan berpikir, mengelola stres, serta membangun hubungan sosial yang bermakna,” katanya.

Meski demikian, para peneliti mengakui studi ini memiliki sejumlah keterbatasan. Penelitian hanya menunjukkan adanya hubungan antara peningkatan kesehatan otak dan perubahan struktur otak, bukan membuktikan bahwa salah satunya secara langsung menyebabkan yang lain. (H-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *