Fakta Efek Samping Statin: Penjelasan Kardiolog Mengenai Risiko dan Manfaatnya
Ilustrasi.(Magnific)

SEKITAR tujuh hingga delapan juta orang di Inggris mengonsumsi statin. Dibandingkan dengan obat lain, banyak pasien yang sangat khawatir dengan efek sampingnya. Lantas, apa risiko yang sebenarnya?

Penting untuk diketahui bahwa statin bekerja dengan menurunkan low-density lipoprotein (LDL) atau kolesterol jahat dalam darah yang memicu serangan jantung, stroke, dan kematian dini. Secara keseluruhan, orang yang mengonsumsi statin memiliki risiko 25%-40% lebih rendah terkena serangan jantung atau stroke, terlepas dari kadar kolesterol awal mereka.

Studi besar yang dipimpin oleh Oxford Population Health dan diterbitkan di The Lancet pada Februari 2026, yang melibatkan lebih dari 154.000 orang, menemukan tidak ada risiko berlebih dari statin untuk 62 dari 66 kondisi yang tercantum dalam brosur kemasan, termasuk kehilangan ingatan dan depresi.

Nyeri Otot dan Efek Nocebo

Diperkirakan seperlima pasien berhenti mengonsumsi statin karena nyeri otot atau kelelahan. Namun, nyeri otot yang benar-benar disebabkan oleh statin jarang terjadi. Studi tahun 2022 menunjukkan bahwa dari setiap 1.000 orang, hanya 11 orang yang mengalami nyeri otot ringan pada tahun pertama.

Banyak keluhan nyeri otot sebenarnya disebabkan oleh efek nocebo–gejalanya nyata, tetapi bukan disebabkan oleh obat, melainkan oleh ekspektasi bahwa mereka akan merasa tidak enak badan. Studi di Imperial College pada 2020 menunjukkan gejala yang dilaporkan pasien hampir identik, baik saat mereka mengonsumsi statin maupun pil plasebo (obat kosong).

Rhabdomyolysis (kerusakan otot parah) adalah efek samping nyata tetapi sangat langka, terjadi pada sekitar 1 hingga 3 orang dari setiap 100.000 pengguna per tahun. Sebagai perbandingan, pengobatan pada 10.000 orang selama lima tahun dapat menyebabkan satu kasus rhabdomyolysis, tetapi di saat yang sama mencegah 500-1.000 kejadian vaskular besar seperti serangan jantung dan stroke.

Risiko Diabetes dan Fungsi Hati

Statin dapat sedikit meningkatkan kadar gula darah rata-rata. Dalam lima tahun, risiko diagnosis diabetes meningkat sekitar 0,5 hingga 1 persen. Namun, risiko ini umumnya terjadi pada pasien yang sudah berada di ambang batas (pre-diabetes) karena obesitas atau resistensi insulin, kelompok yang justru paling membutuhkan perlindungan statin dari serangan jantung.

Terkait fungsi hati, sekitar 4 dari 1.000 orang menunjukkan peningkatan enzim hati pada tes darah. Namun hal ini jarang menimbulkan gejala dan bukan alasan klinis untuk menghentikan pengobatan.

Mitos Demensia dan Disfungsi Seksual

Klaim bahwa statin menyebabkan demensia karena otak membutuhkan kolesterol adalah mitos. Kolesterol otak diproduksi secara lokal oleh sel khusus dan tidak dipengaruhi oleh statin di aliran darah. Sebaliknya, statin dapat menurunkan risiko kerusakan vaskular di otak.

Begitu pula dengan disfungsi ereksi; tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan statin dengan kondisi tersebut. Sering kali, gangguan seksual disebabkan oleh penyakit kardiovaskular itu sendiri atau obat lain seperti beta-blocker.

Kesimpulan Ahli: Jangan menghentikan konsumsi statin hanya karena khawatir akan efek samping tanpa berkonsultasi dengan dokter. Risiko kecil yang ada jauh lebih rendah dibandingkan manfaat perlindungan nyawa dari serangan jantung dan stroke. Jika muncul keluhan, dokter dapat menyesuaikan dosis atau mencari alternatif penurun LDL lain. (The Telegraph/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *