Sering Mendengkur Keras? Waspadai Gangguan Tidur Sleep Apnea
Ilustrasi(Magnific)

MENDENGKUR atau ngorok sering kali dianggap sebagai kebiasaan tidur yang tidak berbahaya. Padahal, dalam beberapa kasus, dengkuran dapat menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan yang memerlukan penanganan medis.

Dilansir dari laman EMC Healthcare, mendengkur yang berlangsung terus-menerus, terutama jika disertai henti napas saat tidur, perlu mendapat perhatian. Pasalnya kondisi itu dapat mengindikasikan sleep apnea, yaitu gangguan tidur yang menyebabkan seseorang mengalami jeda napas berulang kali selama tidur.

Kondisi ini tidak hanya menurunkan kualitas istirahat, tetapi juga dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis apabila tidak segera ditangani.

Mengapa Seseorang Bisa Mendengkur?

Mendengkur terjadi ketika aliran udara di saluran napas mengalami penyempitan atau hambatan saat seseorang tidur. Hambatan tersebut membuat jaringan lunak di tenggorokan bergetar sehingga menghasilkan suara dengkuran.

Pada kondisi tertentu, mendengkur masih dianggap normal. Misalnya ketika seseorang sedang pilek, mengalami kelelahan, atau tidur dalam posisi tertentu yang membuat saluran napas menjadi lebih sempit.

Namun, apabila dengkuran muncul hampir setiap malam, terdengar sangat keras, atau berlangsung dalam waktu lama, kondisi tersebut tidak boleh diabaikan karena dapat menandakan adanya gangguan pada saluran napas saat tidur.

Kapan Mendengkur Menjadi Tanda Bahaya?

Tidak semua orang yang mendengkur mengalami sleep apnea. Meski begitu, ada beberapa gejala yang perlu diwaspadai karena dapat menunjukkan adanya gangguan tidur yang lebih serius.

Beberapa tanda tersebut meliputi:

  • Mendengkur sangat keras hingga terdengar dari ruangan lain.
  • Napas berhenti selama beberapa detik ketika tidur.
  • Terbangun dengan rasa tersedak atau terengah-engah.
  • Sering mengalami sakit kepala saat bangun di pagi hari.
  • Mudah mengantuk di siang hari meski sudah tidur cukup lama.
  • Sulit berkonsentrasi atau merasa tidak segar setelah bangun tidur.

Pada penderita sleep apnea, dengkuran biasanya diselingi jeda napas yang berlangsung beberapa detik. Setelah itu, tubuh akan bereaksi dengan membangunkan penderita sesaat agar dapat bernapas kembali. Siklus ini dapat terjadi berulang kali sepanjang malam sehingga kualitas tidur menjadi sangat terganggu.

Akibatnya, penderita sering merasa lelah, mengantuk, dan kurang fokus saat menjalani aktivitas sehari-hari. 

Sleep apnea merupakan gangguan tidur yang menyebabkan aliran udara ke paru-paru terhenti sementara akibat saluran napas yang menyempit atau tersumbat. Meski berlangsung singkat, henti napas ini dapat terjadi puluhan hingga ratusan kali dalam satu malam. Kondisi tersebut membuat tubuh kekurangan oksigen secara berulang dan memaksa otak terus membangunkan tubuh untuk kembali bernapas.

Jika tidak ditangani, sleep apnea tidak hanya mengganggu kualitas tidur, tetapi juga dapat meningkatkan risiko berbagai komplikasi kesehatan.

Menurut EMC Healthcare, sleep apnea yang dibiarkan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya tekanan darah tinggi, penyakit jantung, stroke, diabetes, hingga gangguan konsentrasi yang berdampak pada produktivitas sehari-hari.

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Penanganan mendengkur bergantung pada penyebab yang mendasarinya. Oleh karena itu, pemeriksaan oleh dokter diperlukan untuk memastikan apakah dengkuran yang dialami merupakan kebiasaan biasa atau gejala sleep apnea.

Pada kasus ringan, perubahan gaya hidup sering kali menjadi langkah awal yang dianjurkan. Beberapa di antaranya adalah menurunkan berat badan apabila mengalami obesitas, mengubah posisi tidur agar saluran napas tidak mudah tersumbat, serta menghindari konsumsi alkohol menjelang waktu tidur.

Sementara itu, pada pasien dengan sleep apnea derajat sedang hingga berat, dokter dapat merekomendasikan penggunaan Continuous Positive Airway Pressure (CPAP). Alat ini bekerja dengan mengalirkan udara bertekanan melalui masker selama tidur sehingga saluran napas tetap terbuka dan aliran udara menjadi lebih lancar.

Dalam kondisi tertentu, pasien juga mungkin memerlukan pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui penyebab pasti gangguan tidur yang dialami agar terapi yang diberikan lebih tepat sasaran. (EMC Healthcare/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *