
PEREMPUAN Indonesia semakin menunjukkan peran strategis dalam menggerakkan perekonomian. Dari usaha mikro yang dijalankan di rumah hingga berbagai sektor produktif lainnya, jutaan perempuan tidak hanya menopang kesejahteraan keluarga, tetapi juga berkontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Maka dari itu, agar kontribusi tersebut terlihat dalam statistik resmi negara dan menjadi dasar penyusunan kebijakan yang lebih tepat sasaran, Badan Pusat Statistik (BPS) RI mengajak seluruh pelaku usaha perempuan untuk berpartisipasi dalam Sensus Ekonomi 2026 (SE2026).
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, menegaskan setiap pelaku usaha perempuan, termasuk nasabah program PNM Mekaar, memiliki peran penting dalam perekonomian Indonesia sehingga tidak boleh terlewat dalam pendataan.
“Yang paling penting adalah bahwa Ibu-ibu Mekaar ini, tidak boleh terlewat tercatat, karena Ibu-ibu sebenarnya punya kontribusi yang luar biasa terhadap ekonomi Indonesia. Di saat ibu-ibu Mekaar ini tercatat dengan baik, maka Ibu-ibu punyasuara untuk kebijakan yang ekonomi yang lebih baik ke depan,” kata Amalia dikutip dari siaran pers yang diterima, Sabtu (4/7).
Menurut Amalia, masyarakat yang berpartisipasi dalam SE2026 secara otomatis memberikan dasar bagi pemerintah untuk menyusun kebijakan lebih efektif dan berpihak kepada pelaku usaha. Data yang lengkap dan akurat akan mendukung perumusan berbagai program strategis, mulai dari perluasan akses pembiayaan, penyediaan informasi pasar, hingga pelatihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan pelaku usaha.
Pentingnya keterlibatan perempuan dalam SE2026 juga didukung oleh berbagai indikator yang menunjukkan semakin kuatnya kontribusi perempuan dalam perekonomian nasional. Sepanjang periode 2021–2025, sebanyak 7,99 juta Nomor Induk Berusaha (NIB), atau sekitar 58,68% dari total NIB yang diterbitkan, dimiliki oleh pelaku usaha perempuan. Selain itu, Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan meningkat dari 56,42% pada Agustus 2024 menjadi 56,63% pada Agustus 2025. Pada sektor ekonomi kreatif, perempuan bahkan mendominasi tenaga kerja dengan proporsimencapai 58,39% pada tahun 2025.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi menyampaikan bahwa SE2026 dapat memperkuat pemberdayaan perempuan dalam ekonomi serta menghasilkan kebijakan yang lebih inklusif, tepatsasaran, dan responsif gender.
“Mengapa Sensus Ekonomi tahun 2026 ini sangat penting? Karena dengan Sensus Ekonomi ini, kita bisa menghadirkan gambaran yang lebih utuh mengenai aktivitas ekonomi masyarakat Indonesia, khususnya kaum perempuan, karena kitahari ini ingin menguatkan pemberdayaan perempuan dalam sektor ekonomi,” ungkapnya.
Senada, Dirut PNM, Kindaris menyatakan bahwa kolaborasi antara BPS, Kementerian PPPA, dan PNM memiliki makna yang sangat penting dalam memperkuat perspektif pemberdayaan perempuan.
“Hari ini perempuan bukanhanya sekadar melengkapi aktivitas ekonomi keluarga. Mereka telah menjadi motor penggerak ekonomi, bahkan tidak sedikit yang menjadi tulang punggung keluarga,” tambah Kindaris. (Z-2)
