
DINAS Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cirebon menggalakkan program satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik).
“Fogging hanya membunuh nyamuk dewasa. Sedangkan telur dan jentiknya tetap ada. Sehingga beberapa hari kemudian nyamuk bisa muncul kembali,” tutur Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Cirebon, Mona Isabella Saragih, Kamis (2/7). Untuk itu, lanjut Mona, pemberantasan sarang nyamuk aedes aegypti yang menjadi penyebabkan penyakit demam berdarah dengue (DBD) hingga ke telur dan jentiknya harus dilakukan warga.
Untuk itu, lanjut Mona, Dinkes Kabupaten Cirebon telah menggalakkan program satu rumah satu jumantik. Tujuannya agar masyarakat melakukan pencegahan penyebaran nyamuk dan terlibat aktif menjaga kebersihan di lingkungan mereka sendiri, termasuk dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk. “Kunci utama menekan penyebaran DBD yaitu menjaga kebersihan di lingkungan warga. Sehingga tren penurunan kasus DBD bisa dipertahankan,” tutur Mona.
Sementara itu saat ditanyakan mengenai jumlah kasus DBD di Kabupaten Cirebon, Mona mengungkapkan hingga pekan ke 25 atau hingga pertengahan Juni 2026, tercatat sebanyak 350 kasus DBD terjadi di Kabupaten Cirebon. “Dari jumlah tersebut tercatat satu orang meninggal dunia,” tutur Mona.
Jumlah kasus DBD tahun ini, lanjut Mona, mengalami penurunan yang cukup signifikan dibandingkan periode yang sama 2025 lalu. Tahun lalu, masih pada periode yang sama, jumlah kasus DBD mencapai 687 kasus dan yang meninggal dunia tercatat satu orang. “Kalau dibandingkan tahun lalu pada minggu yang sama, terjadi penurunan kasus yang cukup signifikan,” jelas Mona.
Jika dilihat dari sebaran kasus, Kecamatan Plumbon menjadi wilayah dengan jumlah penderita terbanyak, yakni 42 kasus. Disusul Kecamatan Sumber sebanyak 29 kasus, Kecamatan Weru 23 kasus, Kecamatan Jamblang 22 kasus, dan Kecamatan Susukan 17 kasus. Sementara satu kasus kematian akibat DBD tercatat terjadi di Kecamatan Gegesik.
Sekalipun kasus DBD alami penurunan, Mona tetap meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan terlibat aktif menjaga kebersihan di lingkungan mereka sendiri. “Potensi peningkatan kasus masih bisa terjadi apabila upaya pencegahan tidak dilakukan konsisten,” tutur Mona.
Untuk itu masyarakat diimbau untuk rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta menghilangkan atau mendaur ulang barang bekas yang dapat menampung air hujan. “Pengendalian DBD tidak hanya mengandalkan pengasapan atau fogging. Dinkes lebih memprioritaskan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus karena dinilai lebih efektif memutus siklus perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti,” tutur Mona. (H-2)
