
KEBUTUHAN kedelai di Indonesia saat ini berada pada level yang sangat tinggi. Namun, ironisnya, hampir 90 persen dari total kebutuhan nasional yang mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun masih harus dipenuhi melalui impor. Menanggapi kondisi tersebut, tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) berupaya mendorong produktivitas dalam negeri melalui program Smart Agricultural Enterprise (SAE) Kedelai.
Melalui inisiatif ini, tim peneliti UGM berhasil memproduksi benih kedelai yang telah memenuhi standar sertifikasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Atris Suyantohadi, menjelaskan bahwa peningkatan kualitas kedelai lokal sangat mungkin dilakukan.
“Kami memulainya secara bertahap melalui kelompok-kelompok penangkar benih. Berbagai uji coba kami lakukan hingga memperoleh kesimpulan bahwa produktivitas, kualitas, dan kandungan protein kedelai lokal dapat ditingkatkan,” ujar Atris dalam siaran pers, Kamis (2/7/2026).
Membangun Ekosistem dan Kepastian Pasar
Menurut Atris, riset yang telah dimulai sejak 2012 ini menunjukkan bahwa kemandirian kedelai tidak bisa dicapai hanya dengan meningkatkan produksi. Tantangan terbesarnya adalah membangun ekosistem utuh yang menghubungkan petani, industri, hingga pasar guna memberikan kepastian ekonomi.
“Petani tentu tidak akan tertarik menanam kedelai lokal apabila mereka belum memperoleh kepastian mengenai siapa yang akan membeli hasil panennya, bagaimana jaminan pasarnya, serta bagaimana teknik budidayanya,” tegasnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, tim UGM melakukan pendampingan di berbagai daerah seperti Grobogan, Bantul, Kulon Progo, Sukoharjo, hingga Sragen. Pendampingan ini melibatkan kemitraan dengan off-taker industri, yakni CV Java Agro Prima, yang bertugas menyerap hasil panen sekaligus memastikan produk memenuhi standar keamanan pangan.
Pada tahun 2026, kedelai hasil binaan ini bahkan telah berhasil memperoleh sertifikasi keamanan pangan. Atris menambahkan, penggunaan teknologi Internet of Things (IoT) juga telah diterapkan untuk memantau dan mengendalikan mutu benih secara real time.
Dukungan Pemerintah dan Keunggulan Kedelai Non-GMO
Langkah UGM ini sejalan dengan rencana Kementerian Pertanian. Sebelumnya, Menteri Pertanian Amran Sulaiman pada Senin (29/6) menyatakan komitmen pemerintah untuk mendorong produksi kedelai lokal guna menekan impor. Mentan menyoroti bahwa varietas kedelai pengembangan UGM memiliki keunggulan kompetitif karena bersifat non-genetically modified organism (non-GMO) dan memiliki ukuran biji yang lebih besar dibanding kedelai impor.
Pemerintah berencana mengawal uji coba pengembangan kedelai dan bawang putih di lahan seluas 1.000-2.000 hektare yang berlokasi di Jawa Tengah sebagai langkah awal kolaborasi strategis ini.
Selain teknologi budidaya, UGM menekankan pentingnya peningkatan kapasitas pengetahuan dan keterampilan petani agar hasil panen memiliki nilai ekonomi optimal, alih-alih hanya bergantung pada bantuan benih dan pupuk konvensional.
Atris menegaskan bahwa hilirisasi riset ini merupakan wujud Tri Dharma Perguruan Tinggi. Sebagai “kampus kerakyatan”, UGM berkomitmen menghadirkan solusi nyata bagi persoalan masyarakat. “Harapannya, hasil-hasil hilirisasi dari hulu ke hilir ini harus benar-benar mengalir hingga dapat dirasakan masyarakat,” pungkasnya. (H-3)
