
KABAR duka datang dari dunia musik internasional. Victor Willis, vokalis utama sekaligus pendiri grup disko legendaris era 1970-an, Village People, dilaporkan meninggal dunia pada usia 74 tahun. Kabar ini dikonfirmasi melalui pengumuman resmi di laman media sosial band tersebut.
Penyanyi kelahiran Texas ini mengembuskan napas terakhirnya pada Senin, 30 Juni 2026, akibat penyakit yang singkat namun agresif. Istrinya, Karen-Huff Willis, juga membagikan pernyataan serupa dan meminta privasi bagi keluarga di masa berkabung ini.
Perjalanan Karier dan Puncak Popularitas
Willis bukan sekadar vokalis; ia adalah sosok di balik lirik lagu-lagu hits yang menjadi lagu wajib di berbagai perayaan di seluruh dunia. Tumbuh besar di San Francisco dengan latar belakang musik gospel, Willis sempat merambah dunia teater Broadway sebelum akhirnya bertemu produser Jacques Morali pada 1977.
Bersama Village People, Willis tampil ikonik dengan kostum polisi atau perwira angkatan laut. Grup ini mencapai puncak kejayaan dengan deretan album yang mendominasi tangga lagu dunia.
| Tahun | Album/Karya | Lagu Hits Utama |
|---|---|---|
| 1978 | Macho Man | Macho Man, Key West |
| 1978 | Cruisin’ | YMCA |
| 1979 | Go West | Go West, In The Navy |
Konflik Hak Cipta dan Masa Sulit
Meskipun sukses besar, perjalanan Willis tidak selalu mulus. Ia meninggalkan grup pada 1980 dan sempat terjerumus dalam masalah penyalahgunaan obat-obatan akibat depresi dan rasa frustrasi terhadap industri musik. Selama bertahun-tahun, ia berjuang di pengadilan untuk mendapatkan kembali hak cipta atas lagu-lagu yang ia tulis.
Kemenangan hukum diraihnya pada 2015, ketika juri federal memutuskan Willis berhak atas 50% kepemilikan dari 13 lagu Village People, termasuk YMCA. Keberhasilan ini membuka jalan baginya untuk kembali bergabung dengan grup pada 2017.
Kontroversi Politik dan Makna Lagu
Di masa tuanya, Willis sering menjadi sorotan karena penggunaan lagu YMCA oleh Donald Trump dalam kampanye politik. Meski awalnya keberatan, Willis akhirnya setuju untuk tampil di acara prainaugurasi Trump pada Januari 2025 dengan alasan bahwa musik harus melampaui politik untuk menyatukan negara.
Donald Trump memberikan penghormatan terakhir melalui Truth Social, menyebut Willis sebagai sosok yang hebat dan lagu-lagunya akan selalu dikenang, terutama selama perayaan kemerdekaan Amerika Serikat di bulan Juli.
Selain masalah politik, Willis juga gigih meluruskan persepsi publik mengenai lagu YMCA. Ia membantah klaim bahwa lagu tersebut adalah lagu kebangsaan komunitas gay.
Menurutnya, lirik tersebut murni terinspirasi dari pengamatannya terhadap fasilitas pemuda (YMCA) di San Francisco yang menyediakan tempat olahraga dan penginapan murah bagi anak muda.
Warisan Abadi
Terlepas dari segala kontroversinya, warisan musik Victor Willis tetap tak tergoyahkan. Lagu YMCA telah mencapai nomor satu di 17 negara dan diinduksi ke dalam Grammy Hall of Fame. Pada 2020, lagu tersebut juga ditetapkan sebagai warisan budaya yang signifikan secara estetika dan sejarah oleh Perpustakaan Kongres Amerika Serikat. (bbc/Z-1)
