
MENTERI Pertahanan Israel, Israel Katz, mengeluarkan pernyataan keras dengan mengungkapkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, kini masuk dalam daftar target operasi militer Israel. Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi ketegangan yang terus meningkat antara kedua negara, meskipun proses perundingan masih berjalan.
Dalam wawancara yang dikutip dari Fox News pada Selasa (30/6), Katz secara eksplisit menyebut bahwa Mojtaba Khamenei menjadi sasaran utama. “(Mojtaba) sudah ditandai untuk dibunuh,” tegas Katz, merujuk pada status pemimpin tertinggi Iran tersebut dalam radar operasi intelijen dan militer Israel.
Skenario Perang Ketiga
Katz menegaskan bahwa Israel tidak akan ragu untuk melancarkan operasi militer skala besar terhadap Iran jika situasi memburuk. Ia memaparkan dua skenario utama yang dapat memicu pecahnya perang terbuka atau yang ia sebut sebagai perang ketiga.
Pertama, perang dapat dimulai kembali apabila Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi menyatakan bahwa proses negosiasi dengan Teheran berakhir dan memutuskan untuk melanjutkan opsi militer. Kedua, jika Iran kembali melancarkan serangan langsung terhadap wilayah Israel.
“Jika Iran menyerang, akan ada perang ketiga. Situasinya amat jelas,” ujar Katz. Ia juga menambahkan bahwa setiap serangan rudal dari Iran akan mendapatkan balasan setimpal dalam waktu singkat.
“Israel tidak akan pernah membiarkan rudal Iran yang menyerang dibiarkan begitu saja tanpa ada balasan. Itu akan terjadi hanya dalam dua hari,” lanjutnya.
Instruksi Militer: Israel Katz menginstruksikan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi melalui perintah persiapan Operasi Biru-Putih.
Sosok Mojtaba Khamenei yang Misterius
Target yang ditetapkan Israel kali ini, Ayatollah Mojtaba Khamenei, merupakan sosok yang penuh teka-teki. Sejak ditunjuk menggantikan mendiang ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, sebagai Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba hampir tidak pernah muncul di hadapan publik.
Berbeda dengan mendiang ayahnya yang sering tampil dalam kegiatan kenegaraan dan keagamaan, Mojtaba dikenal sebagai tokoh yang bergerak di balik layar. Memiliki latar belakang kuat di bidang intelijen, ia lebih banyak mengendalikan urusan strategis Iran tanpa sorotan kamera, yang membuat keberadaannya saat ini masih menjadi tanda tanya besar bagi dunia internasional.
Sebelumnya, Katz juga sempat memperingatkan bahwa Israel akan menghantam Iran dalam waktu 48 jam jika Teheran berani menembakkan rudal ke arah Tel Aviv. Dengan masuknya nama Mojtaba dalam daftar target, konfrontasi antara kedua kekuatan besar di Timur Tengah ini kini memasuki babak baru yang lebih personal dan berbahaya. (I-2)
