Menanti Gebrakan Andy Burnham, Calon Penerus Keir Starmer yang Penuh Visi
Andy Burnham bersiap memimpin Inggris dengan visi desentralisasi kekuasaan yang kuat, kontras dengan pragmatisme era Sir Keir Starmer.(AFP)

DUA hal menonjol terlihat saat mengamati Andy Burnham selama kampanye pemilu sela baru-baru ini hingga beberapa hari setelahnya. Pertama, ia adalah politisi yang gemar tampil di panggung publik; sangat nyaman di depan mikrofon serta kamera, dan percaya diri untuk berbicara di luar teks guna merespons situasi secara langsung. Kedua, ia sangat menikmati proses penyampaian visi tentang bagaimana membangun masyarakat yang lebih baik dan mengapa ia mampu memimpin ke sana.

Kontras antara Burnham dan Sir Keir Starmer ini menjadi poin penting bagi internal Partai Buruh.

“Seorang pemimpin dengan politik dan visi. Sesuatu yang luar biasa,” ujar seorang anggota parlemen dari Partai Buruh, yang memberikan pujian kepada Burnham sekaligus menyiratkan perbandingan dengan Starmer.

Perbedaan pendekatan ini sangat disorot. Dalam buku Get In: The Inside Story of Labour and the Starmer Project karya Patrick Maguire dan Gabriel Pogrund, Starmer pernah dikutip mengatakan, “Tidak ada yang namanya Starmerisme dan tidak akan pernah ada.” Starmer selalu berargumen bahwa dirinya pragmatis, tidak terikat oleh ideologi atau pandangan dunia yang kaku.

Namun, para kritikus internalnya kerap mengeluhkan bahwa pendekatan tersebut membuat Starmer sering kali tidak mampu mengartikulasikan apa yang sebenarnya ia yakini. Sebaliknya, kini muncul rasa lega karena Burnham tampaknya tahu persis apa yang ada di pikirannya terkait gambaran besar masa depan negara.

Meskipun Burnham sempat dikritik di masa lalu karena dianggap plinplan, termasuk dalam kampanyenya terkait perempuan WASPI, aturan pinjaman pemerintah, dan hak-hak trans, waktunya sebagai Wali Kota Greater Manchester telah membantunya menguji pandangan politik yang kini ingin ia perluaskan ke seluruh Inggris.

Inti dari visinya adalah devolusi, yaitu mendorong keluar kekuasaan dari Westminster. Dalam buku Head North yang ditulisnya bersama Wali Kota Liverpool City Region, Steve Rotheram, Burnham mencontohkan pembentukan negara Jerman pasca-perang dunia, di mana wilayah-wilayah bagian (Lander) diberikan otonomi tinggi guna mencegah pemusatan kekuasaan politik di Berlin. Ada pula undang-undang untuk memastikan standar hidup yang setara antar-wilayah. Menurutnya, pemerintah Buruh maupun Konservatif sebelumnya telah gagal memberdayakan para pemimpin daerah secara memadai.

Kini, tantangan terbesar Burnham adalah membuktikan apakah retorika besarnya akan selaras dengan tindakan nyata di pemerintahan. Pidatonya di Manchester pada hari Senin dipandang oleh timnya sebagai “teks fondasi” dari program pemerintahannya.

Burnham memiliki waktu yang sangat singkat untuk mematangkan ide-idenya. Bagi pria yang telah memelihara ambisi menjadi perdana menteri selama bertahun-tahun ini, langkah terakhir menuju kursi kekuasaan kemungkinan besar akan ditentukan dalam hitungan hari—tepatnya dua minggu dari hari Senin depan, jika posisinya tidak ditantang. (BBC/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *