Federasi Sepak Bola Korea Selatan Kena Semprot Politikus sampai Presiden
Ilustrasi(Dok AI)

KEGAGALAN Korea Selatan melaju ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 berbuntut panjang. Federasi sepak bola Korea Selatan (KFA) kini menjadi sasaran kritik dari berbagai kalangan, mulai dari politikus oposisi hingga Presiden Lee Jae Myung.

Gelombang kritik muncul setelah Taeguk Warriors finis di peringkat ketiga Grup A dengan tiga poin hasil sekali menang dan dua kali kalah. Posisi itu hanya menempatkan Korea Selatan di urutan ke-10 klasemen tim peringkat ketiga sehingga gagal merebut satu dari delapan tiket yang tersedia menuju fase gugur. Pelatih Hong Myung-bo pun mundur lantaran kegagalan tersebut.

Partai berkuasa maupun oposisi kompak meminta parlemen menyelidiki kinerja KFA. Anggota parlemen dari Partai Demokrat, Park Beo-kye, menyebut sepak bola Korea membutuhkan perubahan total.

“Saya berharap tim ini bisa lolos ke babak 32 besar. Namun hasil ini menunjukkan sepak bola Korea tidak cukup hanya direnovasi, melainkan harus dibangun kembali dari awal,” ucap Beo-kye dikutip Yonhap.

Nada serupa disampaikan rekannya, Song Young-gil, yang menilai persoalan utama berada di tubuh federasi. Menurut dia, musuh terbesar sepak bola Korea saat ini ialah KFA. Dia menyebut yang dibutuhkan sekarang ini bukan sekadar pelatih baru melainkan reformasi besar di federasi agar kepercayaan publik bisa kembali.

Desakan reformasi juga datang dari kubu oposisi. Legislator Partai People Power, Kim Seung-su, meminta KFA bertanggung jawab penuh atas kegagalan timnas Korsel. Menurutnya, proses penunjukan Hong Myung-bo sebagai pelatih kepala sejak awal sudah menuai pertanyaan dan kini berujung pada hasil yang mengecewakan.

“KFA mengabaikan kekhawatiran publik. Sudah waktunya operasional federasi diaudit secara menyeluruh agar tata kelola olahraga kembali dipercaya masyarakat,” ungkapnya.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, ikut turun tangan. Melalui media sosial, dia menyampaikan permintaan maaf kepada publik sekaligus mengkritik keras kepemimpinan KFA. Presiden Lee bahkan menyinggung proses penunjukan pelatih yang dinilai lebih mengedepankan kedekatan pribadi dibanding kemampuan.

“Saya sungguh meminta maaf kepada rakyat atas hasil yang mengecewakan ini. Kegagalan lolos ke fase gugur berakar pada kegagalan organisasi dan keputusan dalam menentukan personel,” ucap Lee.

“Jika orang yang tidak kompeten ditempatkan pada posisi penting karena hubungan pribadi, hasil akhirnya sebenarnya sudah bisa diperkirakan,” tegasnya.

Sorotan terhadap KFA sebenarnya sudah muncul jauh sebelum Piala Dunia 2026 dimulai. Penunjukan Hong Myung-bo sebagai pelatih pada Juli 2024 memicu kontroversi karena dianggap tidak melalui proses yang terbuka dan transparan.

Kasus tersebut bahkan sempat dibahas di parlemen. Hong, Presiden KFA Chung Mong-gyu, serta sejumlah petinggi federasi dipanggil untuk menjelaskan mekanisme pemilihan pelatih yang dinilai tidak adil.

Penolakan suporter juga berlangsung sejak laga perdana Hong setelah kembali menangani tim nasional. Dia mendapat cemoohan saat Korea Selatan menghadapi Palestina pada September 2024 dan sentimen negatif itu terus bertahan hingga Piala Dunia.

Kementerian Olahraga Korea Selatan sebelumnya juga telah melakukan investigasi terhadap KFA. Pada November 2024, pemerintah merekomendasikan agar Chung Mong-gyu beserta beberapa pejabat federasi diberhentikan. Namun KFA memeroleh putusan pengadilan yang memungkinkan Chung kembali mencalonkan diri dan terpilih untuk masa jabatan keempat pada Februari 2025.

Chung, yang memimpin KFA sejak 2013 dan berasal dari keluarga pemilik konglomerasi Hyundai, sebelumnya telah mengumumkan akan mengakhiri kepemimpinannya setelah Piala Dunia 2026. Sekarang setelah Korea Selatan gagal memenuhi target di panggung dunia, tekanan terhadap KFA semakin besar. (E-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *