
PERUBAHAN iklim yang ditandai cuaca ekstrem dan suhu panas berkepanjangan semakin menjadi ancaman serius bagi sektor perikanan budi daya di Indonesia. Pada budi daya udang vaname, kondisi lingkungan yang tidak stabil dinilai menjadi salah satu pemicu meningkatnya serangan penyakit hingga kegagalan panen di berbagai wilayah tambak.
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University Prof Kukuh Nirmala mengatakan perubahan iklim membuat dinamika kualitas air budi daya menjadi lebih sulit dikendalikan. Ketika kualitas air berubah-ubah, ekosistem tambak mudah terganggu dan kondisi tersebut dapat menguntungkan mikroorganisme patogen yang merugikan udang.
“Udang membutuhkan kualitas air yang stabil dan baik agar energi lebih difokuskan untuk pertumbuhan, bukan untuk menghadapi stres lingkungan. Ketika lingkungan terganggu, daya tahan tubuh udang menurun dan penyakit menjadi lebih mudah menyerang,” jelas Prof Kukuh.
Menurut dia, serangan penyakit masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam budi daya udang nasional. Tingkat serangan penyakit disebut mencapai 40,31 persen, dengan potensi kematian udang berkisar 20 hingga 100 persen. Kondisi itu membuat produksi tambak berfluktuasi dan menekan keberlanjutan usaha pembudi daya.
| Indikator | Data | Keterangan |
|---|---|---|
| Serangan penyakit pada budi daya udang | 40,31% | Disebut sebagai salah satu tantangan terbesar budi daya udang nasional |
| Tingkat kematian udang akibat penyakit | 20% hingga 100% | Berdampak pada fluktuasi produksi |
| Kasus IMNV di Kendal, Jawa Tengah | 46,7 hektare | Luas tambak yang terdampak serangan penyakit infectious myonecrosis virus |
| Penurunan produksi akibat IMNV | 257 ton | Terjadi pada contoh kasus tambak di Kendal |
| Kerugian ekonomi | Rp21,3 miliar | Kerugian akibat penurunan produksi di Kendal |
| Peningkatan kelangsungan hidup udang | 42% lebih tinggi | Pada tambak dengan pemupukan makro dan mikro mineral lengkap |
| Produksi tambak | 14,45 ton/ha menjadi 20,976 ton/ha | Hasil uji lapangan di Pantura Jawa |
| Kebutuhan tenaga kerja | Sekitar 4 orang per hektare | Belum termasuk sektor pendukung seperti pakan, hatchery, peralatan, obat-obatan, dan pascapanen |
Prof Kukuh mencontohkan kasus di Kendal, Jawa Tengah. Serangan penyakit infectious myonecrosis virus (IMNV) pada tambak seluas 46,7 hektare menyebabkan penurunan produksi hingga 257 ton. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan mencapai Mata Uang Rupiah Rp21,3 miliar.
Selain perubahan iklim, persoalan lain yang perlu mendapat perhatian ialah defisiensi mineral pada tambak modern. Prof Kukuh menjelaskan, penggunaan lapisan plastik high-density polyethylene (HDPE) memang dapat mengurangi gas beracun H2S dari dasar tambak. Namun, pada saat yang sama, lapisan tersebut juga memutus suplai mineral alami dari tanah ke air tambak.
Akibatnya, keseimbangan ekosistem tambak menjadi lebih mudah terganggu. Udang pun semakin rentan mengalami stres lingkungan dan terserang penyakit.
Untuk menjawab persoalan tersebut, Prof Kukuh mendorong penerapan pemupukan makro dan mikro mineral lengkap pada tambak udang. Berdasarkan uji lapangan di Pantura Jawa, metode itu mampu meningkatkan tingkat kelangsungan hidup udang hingga 42% lebih tinggi dibandingkan tambak tanpa pemupukan mineral lengkap.
Produktivitas tambak juga meningkat. Produksi yang semula 14,45 ton per hektare naik menjadi 20,976 ton per hektare setelah penerapan pemupukan mineral lengkap.
“Selain meningkatkan produktivitas, pengelolaan lingkungan akuakultur yang baik juga penting untuk menjamin keamanan pangan. Produk budi daya harus dipastikan bebas dari residu berbahaya seperti logam berat Hg, Pb, dan Cd serta bebas kontaminasi bakteri patogen seperti E. coli dan Salmonella melalui pengelolaan kualitas air yang optimal,” ucap Prof Kukuh.
Ia menilai akuakultur berkelanjutan juga memiliki potensi besar sebagai sumber ekonomi baru bagi generasi muda Indonesia. Potensi itu menjadi semakin penting di tengah bonus demografi dan kebutuhan penciptaan lapangan kerja.
“Tambak udang satu hektare saja bisa membutuhkan sekitar empat tenaga kerja, belum termasuk sektor pendukung seperti pabrik pakan, hatchery, peralatan, obat-obatan, hingga pascapanen,” tuturnya.
Lebih lanjut, Prof Kukuh menekankan pentingnya penerapan konsep zero waste dan circular economy dalam budi daya udang nasional. Salah satu langkah yang dapat dilakukan ialah memanfaatkan limbah budi daya sebagai pupuk pertanian agar tidak mencemari lingkungan.
“Kasus utama yang dapat merusak lingkungan adalah buangan budi daya. Karena itu perlu ada kerja sama antara sektor budi daya dan pertanian agar limbah budi daya bisa dimanfaatkan menjadi pupuk yang bermanfaat,” katanya.
Prof Kukuh berharap pemerintah mulai mengadopsi standardisasi pemupukan mineral dalam budi daya udang nasional. Langkah tersebut dinilai dapat menjadi bagian dari strategi meningkatkan produktivitas perikanan budi daya yang berkelanjutan, ramah lingkungan, sekaligus mendukung swasembada pangan nasional. (Z-1)
