Kades Sokawera Ajak Para Ayah Lebih Terlibat dalam Pengasuhan Anak
Dari kebiasaan mendampingi anak di rumah, Mukhayat mendorong keterlibatan ayah sebagai bagian dari penguatan pengasuhan dan pencegahan stunting di Desa Sokawera.(Tanoto Foundation)

BAGI Mukhayat, menjadi ayah tidak cukup hanya memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi. Di sela kesibukannya sebagai Kepala Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, ia tetap berusaha meluangkan waktu untuk anak-anaknya.

Setiap malam, Mukhayat berusaha mendampingi anak-anaknya belajar dan mengaji. Saat memiliki waktu luang, ia mengajak keluarga berjalan-jalan sederhana, sekadar ke taman atau makan bersama di luar rumah.

Kehadiran ayah dimulai sejak masa kehamilan

Saat istrinya hamil, Mukhayat rutin mengantar kontrol ke bidan desa. Baginya, kehadiran ayah dalam keluarga tidak hanya dimulai ketika anak sudah lahir, tetapi sejak masa kehamilan.

“Anak-anak kami sekarang memang sudah mulai besar. Anak ketiga saya sudah kelas 2 SD. Tapi sejak dulu, kami berusaha terus menemani dan mendampingi mereka. Bahkan, waktu istri saya hamil, saya rutin ikut mengantar kontrol ke bidan desa,” ungkapnya.

Pengalaman sebagai ayah itu kemudian ia bawa dalam kepemimpinannya di desa. Mukhayat kerap mengajak para ayah di Desa Sokawera untuk tidak menyerahkan urusan pengasuhan sepenuhnya kepada ibu.

Ajak ayah lainnya untuk ubah cara pandang soal pengasuhan

Menurutnya, pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama. Ayah juga perlu hadir, mendampingi, memberi perhatian, dan menjadi bagian dari proses tumbuh kembang anak.

“Ayah-ayah kini mulai sadar bahwa pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya ibu, tetapi ayah juga ikut berkontribusi besar. Bahkan, kehadiran ayah bisa mendukung motivasi agar anak tumbuh dan berkembang dengan sehat,” jelasnya.

Kesadaran itu mulai terlihat di Desa Sokawera. Desa tersebut mendapat pendampingan dari Tanoto Foundation melalui program Rumah Anak SIGAP, yang berfokus pada penguatan layanan stimulasi dini bagi anak usia dini serta edukasi pengasuhan bagi keluarga.

Melalui kegiatan tersebut, sejumlah ayah mulai terlibat langsung dalam aktivitas anak, seperti mengantar anak ke Rumah Anak SIGAP, menemani belajar, menjemput anak, memandikan anak, mengantar ke sekolah, hingga meluangkan waktu untuk bermain bersama.

Momentum Hari Keluarga Nasional (Harganas) pada bulan Juni menjadi pengingat bahwa keluarga memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang sehat dan berkualitas. Di Desa Sokawera, perhatian terhadap keluarga tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur, tetapi juga melalui penguatan pola asuh anak.

Ketika pengasuhan turut menurunkan angka stunting

Upaya itu turut membuahkan hasil. Belum lama ini, Pemerintah Desa Sokawera meraih penghargaan dari Pemerintah Kabupaten Banyumas atas keberhasilannya menekan angka stunting secara signifikan. Dari tahun 2024 hingga 2025, prevalensi stunting di Desa Sokawera turun sekitar 4 persen, dari 21 persen menjadi 17 persen. Pemerintah Desa pun menargetkan angka tersebut bisa turun hingga minimal 16 persen pada tahun ini.

Mukhayat mengatakan, capaian tersebut tidak lepas dari kerja sama banyak pihak. Pemerintah desa, kader posyandu, tim percepatan penurunan stunting, puskesmas, hingga berbagai pihak lainnya ikut bergerak memberikan edukasi kepada masyarakat.

“Penurunan angka stunting ini kami lakukan bersama-sama, mulai dari pemerintah desa, kader posyandu, tim percepatan penurunan stunting, puskesmas, hingga berbagai pihak lainnya. Salah satu caranya adalah dengan memberikan edukasi kepada masyarakat,” kata Mukhayat.

Menurut Mukhayat, edukasi yang diberikan kepada masyarakat mencakup banyak hal, mulai dari pola asuh, pola pemberian makanan, hingga pemenuhan gizi seimbang bagi anak. Dalam proses itu, para ayah juga mulai dilibatkan.

Ia mengakui, pada awalnya kegiatan parenting lebih banyak diikuti oleh ibu-ibu. Namun, perlahan para ayah mulai memahami bahwa pengasuhan anak bukan hanya tugas ibu.

“Alhamdulillah, sejak ada pendampingan dari Tanoto Foundation, kami bersama para kader terus mengedukasi masyarakat agar pola pikir tentang pengasuhan anak bisa berubah menjadi lebih baik,” ujarnya.

Pesan tentang pentingnya peran ayah biasanya Mukhayat sampaikan dalam berbagai pertemuan warga. Namun, ia tidak ingin hanya memberi arahan. Ia berusaha memberi contoh lebih dulu melalui keluarganya sendiri.

Sebagai kepala desa yang melayani sekitar 10.000 jiwa warga, Mukhayat menyadari waktunya tidak selalu longgar. Namun, ia tetap berupaya hadir dalam momen-momen sederhana bersama anak-anaknya.

“Kami berusaha memberikan kasih sayang penuh dan terus memotivasi anak-anak untuk belajar. Sesekali, kami juga mengajak mereka berjalan-jalan, sekadar ke taman atau makan di luar,” katanya.

Memberi contoh dari rumah

Bagi Mukhayat, kedekatan orang tua dan anak bisa dibangun dari kebiasaan sederhana. Ia membiasakan pelukan, menyapa anak sebelum berangkat sekolah, hingga meluangkan waktu untuk berbincang bersama keluarga.

Bahkan, keluarganya memiliki grup komunikasi bernama “Keluarga Harmonis” yang digagas oleh anak bungsunya. Grup itu menjadi ruang bagi keluarga untuk saling berkomunikasi dan menjaga kedekatan.

“Ini akan menciptakan nuansa keluarga yang harmonis, dan anak akan selalu ingat,” ujarnya.

Kebiasaan tersebut, menurutnya, membuat anak-anak lebih terbuka kepada orang tua. Mereka tidak segan bercerita ketika menghadapi masalah, berdiskusi, dan mencari solusi bersama.

“Alhamdulillah, anak-anak dekat dengan kami. Mereka tidak segan bercerita ketika menghadapi kesulitan, berdiskusi, dan mencari solusi bersama,” tuturnya.

Pengalaman itu kemudian ia bagikan kepada masyarakat dalam berbagai kesempatan. Ayah dari tiga anak tersebut memilih memberi contoh terlebih dahulu sebelum mengajak warga menerapkan hal yang sama.

“Jadi ya dari saya dulu, baru saya memberikan edukasi kepada yang lain. Bukan untuk pamer, tetapi untuk mencontohkan kepada warga saya,” tegasnya.

Harganas sebagai pengingat 

Melalui momentum Harganas 2026, Mukhayat berharap semakin banyak ayah yang memahami perannya dalam keluarga. Menurutnya, ayah dan ibu perlu bekerja sama dalam mendampingi tumbuh kembang anak. 

“Biar ayah-ayah ini benar-benar memahami tanggung jawabnya. Walaupun ada ungkapan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak, bukan berarti ayah boleh lepas tangan. Justru ayah dan ibu harus bekerja sama dalam pengasuhan,” tandasnya. (RO/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *