Jangan Asal Beri Nasihat, Ini Kunci Dampingi Anggota Keluarga yang Alami Tekanan Mental
ilustrasi(Magnific)

MENJAGA kesehatan mental individu yang tengah mengalami tekanan psikologis berat tidak selalu membutuhkan solusi instan atau nasihat cepat. Kehadiran fisik yang menenangkan serta ruang aman dari keluarga jauh lebih esensial dalam proses pemulihan.

Pesan tersebut disampaikan oleh psikolog anak, remaja, dan keluarga, Efnie Indrianie, S.Psi, M.Psi, Psikolog, di Jakarta, Sabtu (10/10). Dosen Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha ini menegaskan bahwa tekanan psikologis berkepanjangan dapat mengaktifkan sistem respons stres di otak, sehingga menurunkan kemampuan seseorang dalam mengelola emosi dan mengambil keputusan.

“Penting dipahami bahwa dukungan keluarga bukan berarti harus selalu memberikan solusi. Terkadang, kehadiran yang menenangkan justru jauh lebih bermakna daripada nasihat yang datang terlalu cepat,” ujar Efnie dikutip dari Antara. 

Jangan Paksa Anggota Keluarga untuk Bercerita

Ketika mendapati ada anggota keluarga yang mulai menarik diri atau menutup komunikasi, Efnie mengimbau agar orang terdekat tidak langsung memaksa mereka untuk bercerita. Sikap tertutup tersebut kerap dilandasi rasa takut dihakimi, rasa malu, kekhawatiran menjadi beban, atau kebingungan dalam memahami emosi diri sendiri.

Alih-alih melakukan interogasi, keluarga dapat menunjukkan kepedulian melalui tindakan nyata yang menumbuhkan rasa aman (safe space):

Menemani melakukan aktivitas ringan bersama.

Memberikan perhatian dan bantuan praktis tanpa menuntut respons verbal yang instan.

Menyampaikan kalimat empati yang menunjukkan kepedulian, seperti: “Aku melihat belakangan ini kamu tampak lebih banyak diam. Aku tidak tahu apa yang sedang kamu hadapi, tetapi kalau suatu saat kamu ingin bercerita, aku siap mendengarkan.”

Ucapan sederhana tersebut, lanjut Efnie, memancarkan tiga pesan psikologis krusial bagi penyintas tekanan mental: saya memperhatikan kamu, saya peduli padamu, dan saya ada untukmu.

“Prinsipnya, jangan memaksa seseorang membuka pintu emosinya. Bangunlah rasa aman sehingga ia merasa cukup percaya untuk membukanya sendiri,” pesan psikolog dari Asosiasi Neuropsikologi Indonesia – Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) tersebut. Kendati demikian, ia mengingatkan agar keluarga tetap sigap mengambil tindakan perlindungan apabila muncul risiko keselamatan bagi individu yang bersangkutan.

(Ant/P-4)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *