Obat Berbasis Tembaga Berpotensi Buka Jalan Baru Terapi Alzheimer
Ilustrasi.(Magnific)

SENYAWA obat berbasis tembaga dinilai dapat membuka arah baru dalam penanganan penyakit Alzheimer. Dalam studi laboratorium, para peneliti melaporkan bahwa senyawa bernama Cu(ATSM) mampu menurunkan kadar protein toksik di otak sekaligus memperbaiki kemampuan memori.

Peneliti dari Monash University melaporkan bahwa Cu(ATSM) tidak hanya menurunkan kadar amyloid-beta, protein yang kuat dikaitkan dengan Alzheimer, tetapi juga meningkatkan memori spasial jangka panjang. Temuan yang dipublikasikan di ACS Chemical Neuroscience itu menyoroti pendekatan terapi yang menargetkan sistem pembuangan limbah alami otak.

Pendekatan tersebut penting karena pada Alzheimer, kemampuan otak untuk membersihkan zat berbahaya diketahui dapat menurun. Akibatnya, protein toksik seperti amyloid-beta dapat menumpuk dan mengganggu fungsi kognitif.

Bagaimana Protein Toksik Menumpuk pada Alzheimer

Alzheimer berkembang antara lain karena penumpukan amyloid-beta di otak. Dalam kondisi normal, protein tersebut dapat dibersihkan melalui sawar darah otak atau blood-brain barrier, yaitu lapisan pelindung yang mengatur zat apa saja yang dapat masuk dan keluar dari otak.

Namun, pada penderita Alzheimer, sistem ini dapat menjadi kurang efisien. Ketika proses pembersihan melemah, protein berbahaya lebih mudah terakumulasi dan berpotensi memperburuk gangguan fungsi otak.

Dalam proses tersebut, pompa P-glycoprotein atau P-gp memiliki peran penting. P-gp merupakan protein pengangkut yang membantu memindahkan limbah dari otak ke aliran darah. Ketika fungsi pompa ini menurun, kemampuan otak membersihkan material toksik ikut berkurang.

Temuan Studi tentang Cu(ATSM)

Studi tersebut menunjukkan bahwa Cu(ATSM) berpotensi membantu memulihkan sistem pembersihan ini dengan meningkatkan jumlah dan aktivitas pompa P-gp. Penulis utama studi, Dr Jae Pyun, menjelaskan bahwa terapi tersebut bekerja dengan memperbaiki fungsi pembuluh darah otak, sehingga berkaitan dengan penurunan kadar protein toksik dan peningkatan performa kognitif.

“Ini studi pertama yang menunjukkan bahwa Cu(ATSM) dapat meningkatkan kelimpahan pompa pembersihan P-gp pada model Alzheimer sebesar 24,1 persen, yang secara efektif menghubungkan perbaikan sawar darah otak dengan penurunan protein toksik dan peningkatan fungsi kognitif,” kata Dr Pyun.

Tim peneliti juga melaporkan bahwa pemulihan jalur pembuangan limbah tersebut memberikan dampak yang terukur. Selama 56 hari, terapi ini disebut menurunkan amyloid-beta toksik sebesar 42 persen dan meningkatkan pembelajaran spasial hampir 44 persen.

“Dengan memperbaiki pompa tersebut, otak akhirnya dapat membersihkan limbah yang terperangkap,” ujar tim peneliti.

Hasil ini mengarah pada dugaan bahwa memperbaiki sawar darah otak dapat menjadi salah satu kunci untuk memperlambat atau mengurangi sebagian kerusakan yang terlihat pada Alzheimer. Meski begitu, temuan tersebut masih berada pada tahap laboratorium dan belum menjadi bukti manfaat klinis pada manusia.

Senyawa yang Pernah Diuji pada Kondisi Neurologis Lain

Penulis senior studi, Profesor Joseph Nicolazzo, mengatakan Cu(ATSM) berpotensi bergerak menuju uji pada manusia lebih cepat dibanding sebagian terapi eksperimental lain. Alasannya, senyawa tersebut telah memasuki pengujian klinis untuk kondisi neurologis lain.

“Cu(ATSM) adalah senyawa tembaga dengan sifat antiinflamasi dan neuroprotektif yang telah berkembang ke pengujian klinis untuk kondisi seperti Parkinson dan ALS,” kata Nicolazzo.

Menurut Nicolazzo, penurunan beban amyloid di otak merupakan target yang bermakna untuk memperbaiki gejala. Ia menilai hasil praklinis ini mendukung alasan untuk menguji Cu(ATSM) pada Alzheimer tahap awal yang sudah menunjukkan gejala.

“Karena pengurangan beban amyloid terbukti secara klinis dapat meningkatkan hasil fungsional, hasil praklinis ini sangat mendukung dasar untuk menguji obat ini pada penyakit Alzheimer simptomatik awal,” ujarnya.

Hal yang masih Perlu Dijawab

Meski temuan tersebut menjanjikan, para peneliti masih perlu memahami secara lebih rinci bagaimana amyloid-beta keluar dari otak setelah sawar darah otak diperbaiki. Salah satu teori menyebutkan bahwa Cu(ATSM) juga dapat meningkatkan aktivitas mikroglia, yaitu sel imun di otak yang membantu memecah protein toksik.

Dr Dayan Goodenowe, ahli saraf bergelar Ph.D. yang tidak terlibat langsung dalam studi tersebut, menilai penargetan sawar darah otak dan sistem pembuangan limbah merupakan bidang yang menjanjikan. Menurutnya, Alzheimer bukan sekadar persoalan penyimpanan plak di otak.

“Alzheimer melibatkan lingkungan biologis otak yang menua, termasuk biologi membran, peradangan, fungsi vaskular, metabolisme lipid, dan ketahanan seluler,” kata Goodenowe.

Ia menekankan bahwa mekanisme tunggal apa pun tetap harus divalidasi sebelum dapat diketahui apakah pendekatan itu benar-benar memberikan manfaat klinis bermakna.

“Pertanyaan kuncinya bukan hanya apakah amyloid berubah, tetapi apakah intervensi tersebut meningkatkan kognisi, fungsi, dan luaran pada manusia,” ujarnya.

Goodenowe menambahkan bahwa riset perlu bergerak dari tahap mekanisme dan praklinis menuju evaluasi keamanan, dosis, efektivitas, dan validasi klinis pada manusia.

Makna bagi Pengembangan Terapi Alzheimer

Temuan ini menyoroti kemungkinan strategi terapi yang tidak hanya berfokus pada protein amyloid-beta, tetapi juga pada fungsi pembuluh darah otak dan sistem pembersihan protein berbahaya. Dengan kata lain, memperbaiki sistem pembuangan limbah alami otak dapat menjadi bagian penting dalam pengembangan terapi Alzheimer di masa depan.

Studi lanjutan masih diperlukan untuk memastikan jalur kerja Cu(ATSM), keamanan penggunaannya, dosis yang tepat, serta apakah manfaat yang terlihat pada model laboratorium dapat diterjemahkan menjadi perbaikan nyata pada pasien manusia.

Untuk saat ini, Cu(ATSM) menawarkan sinyal awal yang menarik: terapi Alzheimer masa depan mungkin tidak hanya menargetkan penumpukan protein, tetapi juga memperbaiki sistem biologis yang seharusnya membersihkan protein tersebut dari otak. (Newsweek/I-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *