
PEMERINTAH Iran melontarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat (AS) seiring dimulai fase baru kesepakatan damai antara kedua negara. Teheran menegaskan kesiapannya untuk memberikan respons menghancurkan apabila Washington terbukti melanggar poin-poin kesepakatan yang baru dicapai atau mencoba memaksakan tuntutan tambahan dalam proses negosiasi yang sedang berjalan.
Saat ini, Iran dan Amerika Serikat memasuki masa perundingan krusial selama 60 hari. Periode ini ditujukan untuk mentransformasi kesepakatan kerangka (framework agreement) yang ditandatangani menjadi perjanjian komprehensif. Agenda pembahasan dilaporkan mencakup isu-isu sensitif, mulai dari pencabutan sanksi ekonomi, keberlanjutan program nuklir Iran, kemampuan rudal balistik, hingga stabilitas keamanan di kawasan Timur Tengah.
Komitmen pada Arahan Pemimpin Tertinggi
Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa posisi negaranya tetap tegak lurus mengikuti arahan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei. Ia mengingatkan bahwa setiap bentuk pengkhianatan terhadap perjanjian akan dibalas dengan tindakan tegas.
“Kami menjalankan tugas yang diberikan Pemimpin Tertinggi untuk memastikan seluruh syarat dan klausul kesepakatan terealisasi. Jika terjadi itikad buruk, pelanggaran perjanjian, atau tuntutan berlebihan dari pihak lawan, kami tidak akan ragu memberikan respons yang menghancurkan kepada musuh,” tegas Ghalibaf melalui unggahan di platform X, Jumat (19/6/2026).
Ghalibaf juga memberikan peringatan historis dengan merujuk pada konfrontasi masa lalu. “Mereka pernah menerima tamparan selama perang. Jika ingin mengulangi jalan yang sama, mereka akan menerima tamparan yang jauh lebih keras,” tambahnya.
Analisis Konteks: Pernyataan keras ini mencerminkan bahwa tingkat ketidakpercayaan (distrust) antara Teheran dan Washington masih sangat tinggi, meskipun kedua belah pihak baru saja mencatat kemajuan diplomatik yang signifikan melalui kesepakatan awal.
Negosiasi bukan Berarti Tunduk
Sebelumnya, Ayatollah Mojtaba Khamenei juga memberikan garis haluan yang jelas. Ia menekankan bahwa kesediaan Iran untuk melakukan negosiasi langsung dengan Amerika Serikat tidak boleh disalahartikan sebagai bentuk penerimaan terhadap posisi atau hegemoni Washington.
Khamenei mengingatkan bahwa Iran tidak akan menyerah atau memberikan konsesi tambahan jika Amerika Serikat berusaha mendorong tuntutan yang dianggap berlebihan (excessive demands) selama proses negosiasi 60 hari ke depan.
Kesepakatan kerangka yang dicapai pekan ini memang membuka peluang bagi normalisasi dan stabilitas di kawasan. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada realisasi pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini mencekik dalam transaksi internasional Iran serta jaminan keamanan atas program strategis Teheran. (I-2)
