Harga Gabah Tinggi, Petani Indramayu Langsung Jual Hasil Panen Gadu
Petani di Kabupaten Cirebon tengah panen(MI/NURUL HIDAYAH)

TINGGINYA harga gabah di pasaran memicu para petani di Kabupaten Indramayu untuk langsung menjual hasil panen gadu mereka. Fenomena ini terjadi seiring dengan nilai jual gabah yang jauh melampaui Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, mengungkapkan bahwa mayoritas petani saat ini enggan menyimpan hasil panen dalam waktu lama. Mereka hanya menyisakan sedikit gabah untuk konsumsi rumah tangga sehari-hari.

“Kebanyakan petani memilih untuk langsung menjual gabah hasil panennya. Mumpung harga tinggi, dijual,” ujar Sutatang pada Rabu (14/10/2026).

Harga Melambung di Atas HPP

Berdasarkan data lapangan, harga Gabah Kering Panen (GKP) pada masa panen gadu tahun ini berada di kisaran Rp8.500 hingga Rp9.000 per kilogram. Sementara itu, harga Gabah Kering Giling (GKG) menyentuh angka Rp9.500 per kilogram.

Angka tersebut berada jauh di atas HPP yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp6.500 per kilogram untuk GKP dan Rp7.400 hingga Rp8.000 per kilogram untuk GKG. Kondisi ini memberikan keuntungan signifikan bagi petani, terutama bagi mereka yang produktivitas lahannya tetap terjaga.

Sutatang menambahkan, hasil panen rata-rata saat ini mencapai di atas 7 ton per hektar. Bahkan, di wilayah yang memiliki pasokan air stabil selama musim kemarau, produktivitasnya mampu menembus 9,5 ton per hektar.

Persiapan Musim Tanam Rendeng

Selain faktor harga, keputusan petani untuk segera menjual gabah didorong oleh kebutuhan modal cepat. Jeda waktu menuju Musim Tanam (MT) rendeng atau penghujan 2026/2027 tergolong sangat pendek.

“Sekarang panen, November 2026 sudah mulai semai lagi. Petani membutuhkan uang untuk persiapan memulai musim tanam rendeng tersebut,” jelas Sutatang.

Penyebab Kelangkaan dan Tingginya Harga

Melambungnya harga gabah di Indramayu dipicu oleh terbatasnya pasokan akibat sejumlah kendala produksi. Beberapa wilayah mengalami gagal panen akibat kekeringan ekstrem, sementara sebagian lainnya terdampak serangan hama penggerek batang.

Kondisi ini memicu persaingan di tingkat tengkulak. Para pembeli dari berbagai daerah, baik dari dalam maupun luar Indramayu, berani menawarkan harga tinggi demi mendapatkan pasokan gabah yang terbatas.

Catatan Redaksi: Tingginya harga gabah menjadi angin segar bagi kesejahteraan petani di tengah tantangan iklim, namun juga memerlukan pengawasan agar stabilitas harga beras di tingkat konsumen tetap terjaga.



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *