Mengapa Dunia Tidak Bisa Lepas dari Mie Instan Meski Dicap Tidak Sehat?
Ilustrasi(Unsplash)

MIE instan sering kali mendapat reputasi buruk di dunia kesehatan. Berbagai studi secara berkala terus bermunculan, mengaitkan konsumsi mie instan dengan peningkatan risiko demensia, penyakit jantung, hingga ketidakseimbangan hormon. Namun, di tengah tren gaya hidup sehat dan pola makan nabati (plant-based) yang kian populer, pasar mie instan global justru menunjukkan anomali yang mengejutkan dengan pertumbuhan yang sangat pesat.

Berdasarkan berbagai estimasi industri, pasar mie instan global diproyeksikan membengkak dari US$64,67 juta pada 2025 menjadi US$98,46 miliar pada 2032.

Para ilmuwan memiliki penjelasan sederhana di balik popularitas ini: kecanduan. Peneliti makanan ultra-proses (ultra-processed foods) mengungkapkan kepadatan energi yang tinggi (jumlah kalori per gram makanan) serta kombinasi rasa yang sangat memikat (hyperpalatability) dari garam, gula, lemak, dan karbohidrat, membuat konsumen sulit untuk berhenti mengonsumsinya.

Di sisi lain, produsen memiliki sudut pandang sendiri mengenai fenomena ini. Representative dari Nissin Foods Group menjelaskan alasan emosional di balik fenomena ini:

“Alasan mengapa mie instan diterima secara luas di seluruh dunia sebagai ‘makanan penenang’ (comfort food) terletak pada kemampuannya untuk menawarkan nilai-nilai universal yang dicari orang dalam makanan, yaitu rasa yang lezat, kenyamanan, daya simpan, keterjangkauan, dan keamanan.”

Berdasarkan data terbaru, Tiongkok menempati posisi teratas sebagai konsumen mie instan terbesar di dunia dengan menghabiskan sekitar 43.802 juta bungkus per tahun. Posisi ini disusul oleh Indonesia di peringkat kedua dengan 14.680 juta porsi, dan India di peringkat ketiga dengan 8.320 juta porsi. Namun, jika dihitung per kapita, Vietnam menjadi negara dengan kecintaan paling tinggi terhadap hidangan ini, di mana rata-rata setiap warganya mengonsumsi 81 porsi mie instan per tahun, diikuti oleh Korea Selatan di tempat kedua dengan 79 porsi.

Menariknya, pasar mie instan di Amerika Serikat juga terus berkembang dari tahun ke tahun, mencapai 5.15 miliar porsi pada 2024 seiring meningkatnya permintaan akan rasa otentik khas Asia dan sensasi pedas. Asosiasi Mie Instan Dunia (WINA) menyatakan bahwa meski rasa ayam klasik tetap menjadi produk utama, pasar kini telah berevolusi dengan menawarkan pilihan yang lebih luas termasuk varian daging sapi, udang, hingga berbasis sayuran.

Selain menjadi penyelamat di kala sibuk, mie instan juga memegang peran penting dalam aksi kemanusiaan. Hingga Mei 2026, anggota global WINA tercatat telah menyalurkan sekitar delapan juta porsi mie instan dalam 53 misi bantuan pascabencana di berbagai belahan dunia. Pada akhirnya, makanan ini tetap menjadi jaring pengaman emosional dan fisik yang andal di tengah padatnya jadwal kehidupan modern. (CNN/Z-2)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *