Efek Damai AS-Iran, DEN Optimistis Rupiah Bisa Menguat ke Rp17.000
Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mochammad Firman Hidayat di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (17/6).(MI/Ihfa Firdausya)

DEWAN Ekonomi Nasional (DEN) menilai kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang diikuti penurunan harga minyak dunia akan berdampak positif pada penguatan nilai tukar rupiah. Meredanya tensi geopolitik di Timur Tengah diyakini akan mengurangi tekanan eksternal yang selama ini memicu depresiasi rupiah.

Anggota DEN, Mochammad Firman Hidayat, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah beberapa waktu ke belakang, terutama pada periode Februari-Maret, sangat dipengaruhi oleh faktor dampak perang. Dengan kondisi yang mulai kondusif, ia optimistis nilai tukar akan kembali bergerak menguat.

“Kita yakin sih rupiah akan menguat karena kalau kita lihat terutama di bulan Februari-Maret, faktor eksternal karena dampak perang ini yang menjadi salah satu penyebab rupiah mengalami depresiasi. Ketika dampak perangnya sudah mulai mereda, ini pasti akan kembali lagi menguat,” ujar Firman di Kantor Kementerian PPN/Bappenas, Jakarta, Rabu (17/6).

Tekanan Neraca Perdagangan Berkurang

Firman menyoroti bahwa salah satu beban utama nilai tukar rupiah adalah tingginya nilai impor bahan bakar minyak (BBM) yang tidak sebanding dengan nilai ekspor komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit (CPO) dan batu bara. Meskipun harga CPO dan batu bara naik, kenaikannya tidak setinggi lonjakan harga minyak dunia akibat perang.

“Ketika harga impornya sudah mulai berkurang, harga minyak, tekanan dari sisi neraca perdagangan akan berkurang. Jadi dari sisi sentimen maupun faktor perang, neraca perdagangan ini akan membantu rupiah menguat lebih besar. Bisa ke dekat-dekat Rp17.000 atau ke bawah lah mudah-mudahan,” tambahnya. Target penguatan tersebut diproyeksikan dapat tercapai tahun ini jika stabilitas geopolitik terjaga.

Aliran Modal Asing Segera Masuk

Selain penguatan nilai tukar, meredanya konflik di Timur Tengah diprediksi akan memperbaiki performa pasar modal Indonesia. DEN meyakini investor asing akan kembali

melirik pasar domestik seiring dengan selesainya efek dampak perang dan evaluasi kebijakan pemerintah terkait program strategis seperti MBG dan Koperasi Merah Putih.

Firman menilai saat ini investor masih dalam posisi menunggu (wait and see) terkait pengumuman dari lembaga pemeringkat internasional. “Mungkin sekarang belum masuk karena mereka lagi nungguin pengumuman MSCI, S&P. Tapi setelahnya saya optimistis mereka akan kembali masuk ke Indonesia,” pungkasnya. (Z-10)



Source link

By Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *