
WAKIL Presiden Gibran Rakabuming Raka menunjukkan komitmennya dalam menyerap aspirasi publik dengan menerima perwakilan mahasiswa di Istana Wakil Presiden, Jakarta. Pertemuan yang berlangsung pada Senin (15/6) tersebut merupakan tindak lanjut setelah para mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di kawasan Patung Kuda.
Sebanyak 15 mahasiswa yang berasal dari Universitas Bung Karno (UBK) dan Universitas Mohammad Husni Thamrin Jakarta hadir untuk menyampaikan hasil kajian kritis mereka. Dalam suasana yang dialogis, para mahasiswa memaparkan pandangan mendalam mengenai sejumlah kebijakan strategis yang tengah dijalankan pemerintah.
Beberapa poin krusial yang menjadi pembahasan dalam audiensi tersebut mencakup sektor ekonomi kerakyatan, pendidikan, hingga pemerataan pembangunan. Berikut adalah rincian poin aspirasi yang disampaikan kepada Wakil Presiden:
| Kategori Aspirasi | Isu Spesifik yang Dibahas |
|---|---|
| Program Unggulan | Implementasi Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih. |
| Kebijakan Publik | Sektor pendidikan dan rencana revisi sejumlah regulasi. |
| Pembangunan | Percepatan pembangunan di wilayah tertinggal. |
| Metode Penyampaian | Pemaparan hasil kajian akademis dan rekomendasi lapangan. |
Merespons masukan tersebut, Wapres Gibran menegaskan bahwa pemerintah tidak menutup mata terhadap kritik. Ia memandang peran akademisi dan mahasiswa sangat vital sebagai mitra kritis dalam menyempurnakan program kerja pemerintah agar lebih tepat sasaran.
“Pemerintah terbuka terhadap kritik dan masukan dari masyarakat, khususnya kalangan mahasiswa, sebagai bagian dari upaya bersama untuk menyempurnakan berbagai kebijakan dan program pemerintah,” ujar Gibran dalam keterangan resminya di Jakarta, Selasa (16/6).
Momen Keakraban: Pertemuan yang berlangsung hingga petang tersebut ditutup dengan momen religius. Wapres Gibran mengajak para mahasiswa yang beragama Islam untuk menunaikan salat Magrib berjemaah di Masjid Baiturrahman, Sekretariat Wakil Presiden, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.
Kegiatan salat berjemaah ini juga diikuti oleh jajaran Sekretariat Wakil Presiden dan para pegawai setempat. Hal ini menandai berakhirnya rangkaian audiensi yang berjalan kondusif, di mana ruang dialog antara pemerintah dan elemen mahasiswa berhasil tercipta secara konstruktif. (Z-1)
