
MENJADI orangtua di era modern membawa tekanan tersendiri yang berbeda dari generasi sebelumnya. Sebuah studi berskala besar yang dirilis Moonbug Entertainment mengungkapkan sebagian besar orangtua dari generasi Millennial dan Gen Z merasa kurang siap menghadapi realitas dalam membesarkan anak-anak mereka.
Laporan bertajuk Next State of Parenting ini mensurvei ribuan orangtua untuk memetakan bagaimana pergeseran generasi memengaruhi pendekatan pola asuh (parenting). Hasilnya menunjukkan adanya kesenjangan yang signifikan antara ekspektasi dan realitas hidup setelah memiliki anak.
Berdasarkan data yang dikumpulkan, sebanyak 72% orangtua dari generasi Millennial dan Gen Z mengaku mereka merasa tidak siap dengan perubahan hidup yang terjadi setelah anak mereka lahir. Tantangan terbesar yang mereka hadapi mencakup masalah kesehatan mental, tekanan finansial, serta kurangnya sistem pendukung (support system) yang solid di lingkungan sekitar mereka.
Meskipun akses terhadap informasi pengasuhan anak saat ini sangat melimpah melalui internet dan media sosial, hal tersebut justru sering kali memicu kecemasan baru. Banyak orangtua merasa kewalahan oleh banyaknya saran yang saling bertentangan, yang pada akhirnya membuat mereka meragukan kemampuan diri sendiri.
“Menjadi orangtua saat ini terasa lebih terisolasi daripada sebelumnya, meskipun kita terhubung secara digital,” catat laporan tersebut. “Orangtua baru kerap kali bergulat dengan perasaan bersalah dan ekspektasi yang tidak realistis yang mereka lihat di media sosial.”
Kendati menghadapi berbagai kecemasan, laporan ini juga menangkap sisi positif dari orang tua masa kini. Generasi Millennial dan Gen Z terbukti jauh lebih terbuka dalam mendiskusikan kesehatan mental, baik kesehatan mental mereka sendiri maupun anak-anak mereka, dibandingkan dengan generasi orang tua terdahulu.
Selain itu, mereka juga lebih memprioritaskan kecerdasan emosional dan komunikasi yang terbuka dengan anak. Hal ini menandai pergeseran gaya pengasuhan dari yang dulunya cenderung otoriter menjadi lebih kolaboratif dan penuh empati.
Melalui temuan ini, para peneliti menekankan pentingnya menciptakan komunitas yang nyata bagi para orangtua modern, agar mereka tidak merasa berjuang sendirian dalam menavigasi dinamika membesarkan anak di era digital. (Parents/Z-2)
